‏إظهار الرسائل ذات التسميات Makalah Kepemimpinan. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Makalah Kepemimpinan. إظهار كافة الرسائل

الخميس، 15 نوفمبر 2012

INTERAKSI DALAM DAKWAH

A.    Pengertain Interaksi

Salah satu naluri manusia sebagai makhluk sosial adalah kecenderungan untuk hidup berkelompok atau bermasyarakat yang disebut instink gregarious. Dan salah satu bentuk manifestasi dari kecenderungan naluriah tersebut adalah apa yang disebut oleh para ahli psikologi dengan interaksi sosial. Hubert Bonner memberikan pembatasan sebagai berikut :

“ Social interaction is type of  relationship between two or more person in which the behavior of one is modified by the behavior of  the other. Through interpersonal stimulations and response the bioligical individual is slowly changed into a human being or personality, the process may go on back and forth, each act in the total process suggesting or bringing out still another act. Social interaction is reciprocal action, action in which each individual in the process anticipates and adjusts to the oncoming act of the other. ”

Dengan demikian maka Interaksi adalah suatu bentuk hubungan antara dua orang atau lebih dimana tingkah laku seseorang diubah oleh tingkah laku yang lain. Melalui dorongan antar pribadi tersebut seseorang yang bersifat biologis lambat laun berubah menjadi makhluk hidup atau pribadi, proses tersebut berlangsung timbal balik, masing – masing bertindak dalam keseluruhan proses yang mempengaruhi atau menyebabkan yang lain juga bertindak. Interaksi sosial dengan demikian merupakan perilaku timbal balik, suatu perilaku dimana masing – masing individu dalam proses itu mengharapkan dan menyesuaikan diri dengan tindakan yang akan dilakukan orang lain.

Jadi jelslah bahwa di dalam proses interaksi itu terdapat tindakan saling mempengaruhi antara satu individu dengan individu lainnya, sehingga timbul lah kemungkinan – kemungkinan untuk saling mengubah atau memperbaiki perilaku masing- masing secara timbal balik. Perubahan demikian bisa terjadi secara disadari atau tidak sepenuhnya disadari, atau secara perlahan – lahan. Di dalam hubungan interaksional inilah terjadi suatu proses belajar – mengajar diantara manusia.
di mana di dalam proses dakwah merupakan permulaan yang fundamental bagi sukses nya dakwah itu. Tanpa adanya suatu proses belajar – mengajar maka dakwah sulit memperoleh tempat di dalam hati manusia.
Sebenarnya dalam interaksi sosial itu tidak hanya harus terjadi dalam kelompok -kelompok sosial saja, akan tetapi juga dapat terjadi antara dua pribadi bahkan juga bisa terjadi terhadap diri sendiri yakni dalam bentuk self-reaksi atau self-response.

Hal ini dapat diberikan contoh di kalangan anak – anak yaitu misalnya, seorang anak tidak hanya bereaksi terhadap orang lain tetapi juga terhadap dirinya sendiri; isyarat-isyarat suara anak kecil mempunyai efek yang sama baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Hal ini jelas dapat kita saksikan pada anak-anak yang sedang berbicara terhadap dirinya sendiri pada waktu bermain-mai yang punya efek sama terhadap dirinya dan orang lain.[1]

Interaksi adalah sentral dari kehidupan bermasyarakat, kerja sama, demikian pula penelitian masalah interaksi sosial telah memberikan cara yang lebih efektif untuk mengatasinya yaitu dengan memahami prinsip – prinsip yang mendasari banyak masalah sosial tersebut.[2]

Yang dimaksudkan dengan interaksi sosial ialah relasi sosial yang berfungsi, pelbagai jenis relasi sosial dinamis, apakah relasi itu terbentuk antar individu, kelompok dan kelompok, ataukah individu dengan kelompok?
Interaksi mulai bila dua orang bertemu, kemudian biasanya diikuti dengan menukar ucapan selamat, saling bersalaman dan percakapan mulai timbul. Tetapi walaupun tanpa ucapan sepatah kata pun, tanpa menampakkan suatu gerak, telah dimulai juga interaksi itu, karena tiap indera sudah siap siaga, fikiran pun telah terarah dan telah bekerja secara otomatis, walaupun tertutup dan tidak overt (tampak). Didalam semua tanda – tanda ini masing – masing saling menerima impresi, dan impresi inilah merupakan dasar walaupun hanya untuk sementara (temporair), dari lanjutan relasi sosial antara dua orang itu. Jenis / bentuk impressi ikut menentukan reaksi – reaksi lanjutannya.

Demikian juga halnya bila individu menghadapi suatu kelompok. Ia telah ditelaah dalam sekejap oleh kelompok dan ia membentuk suatu impressi. Hal ini sudah lazim dialami oleh para pemimpin besar/kecil pada waktu berpidato/berceramah/bertukar fikiran/berdiskusi, suatu interaksi timbul antara dua kelompok , tidak sebagai perorangan tetapi sebagai keseluruhan kelompok. Dan dapat saling mengadakan analisa, bentuk give and take yang tumbuh agar mereka menggunakan atau merubahnya untuk kepentingan masing – masing.[3]

Manusia sebagai makhluk sosial, tidak mungkin lepas dari pengaruh lingkukannya, dengan kata lain berbicara interaksi sosial, akan menjawab; Bagaimana individu itu berhubungan dengan lingkungan?? Sehingga lebih jauh mengkaji, menganalisis “manusia sebagai makhluk sosial”. Begitu pula membahas social interaction, tentu melibatkan proses penyesuaian diri. Dr. W.A. Gerungan, Dipl. Psych. (1986, 55) menulis; “penyesuaian diri dalam artinya yang pertama disebut penyesuaian diri autoplastis (auto = sendiri, plastis = dibentuk), sedangkan penyesuaian diri yang kedua disebut penyesuaian diri alloplastis (allo = yang lain).” Jadi , penyesuaian diri ada yang bersifat “pasif”, dimana kegiatan kita ditentukan oleh lingkungan, dan ada yang sifatnya ”aktif”, dimana kita atau manusia mempengaruhi lingkungan.
Dalam hal ini, mungkin individu yang satu menyesuaikan diri secara autoplastis (mengubah diri sesuai lingkungannya) kepada individu yang lain, dimana dirinya dipengaruhi orang lain, begitu pula sebaliknya mungkin ia dipengaruhi orang lain, maka terjadi proses penyesuaian diri alloplastis (kegiatan yang dipengaruhi lingkungan sesuai keadaan / keinginan).

Jadi jelaslah bahwa di dalam proses interaksi itu terdapat tindakan saling mempengaruhi antara individu yang satu dengan yang lain, baik individu dalam perorangan ataupun kelompok sosial. Kalau kita kaitkan dengan dakwah, maka dalam dakwah dikenal istilah personal approach dakwah  face to face, sehingga terjadi proses pengaruh – mempengaruhi antara da’i dan mad’u atau sebaliknya. Begitu pula ada istilah general approach atau dakwah secara umum misalnya pengajian disini terjadi proses pengaruh – mempengaruhi antara da’i dan mad’u dalam kelompok sosial. Maka dari itu interaksi sosial erat kaitannya dengan dakwah.[4]

Jadi Interaksi sosial dapat di artikan sebagai suatu bentuk hubungan antara dua orang atau lebih, dimana tingkah laku seseorang diubah oleh tingkah laku yang lain.


B.     Faktor dasar interaksi
Berjalan atau tidaknya interaksi sosial, walaupun dalam bentuknya yakni paling sederhana, yakni dua orang atau lebih yang saling mempengaruhi dalam dakwah, tetap merupakan suatu proses yang kompleks sekali. Ada empat faktor dasar dalam interaksi sosial, yaitu; faktor  imitasi, faktor sugesti,  faktor identifikasi, faktor simpati.
a.      Faktor imitasi

Imitasi adalah faktor dasar dari interaksi sosial yang menyebabkan keseragaman dalam pandangan dan tingkah laku orang banyak. Proses imitasi adalah contoh – mencontoh atau meniru. Imitasi bukan pembawaan tetapi yang harus dipelajari dan merupakan sesuatu yang datang dari lingkungan. Sehingga dapat dikatakan kalau imitasi merupakan proses belajar manusia dalam masyarakat sebagai mematangkan kepribadiannya. Misalnya, kita tempatkan seorang anak belajar berbicara, mula – mula ia akan mengimitasi kata – kata “ba-ba atau la-la” guna melatih fungsi lidah. Imitasi juga dapat mendorong individu atau kelompok untuk melaksanakan perbuatan – perbuatan baik atau dari segi negatif yaitu apabila hal – hal yang di imitasi adalah hal yang salah.

b.      Faktor sugesti

Sugesti adalah suatu proses dimana seorang individu dapat menerima suatu cara penglihatan atau pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Dalam proses sugesti, seorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya yang diterima oleh orang lain di luar dirinya (saling mempengaruhi satu dengan yang lain). Misalnya; ketertarikan, wibawa, dan hambatan berfikir.

c.       Faktor identifikasi

Identifikasi adalah sebuah istilah dalam psikologi Sigmun Freud untuk menguraikan mengenai cara belajar anak mengenai norma – norma sosial dari orang tuanya. Identifikasi berarti kecenderungan atau keinginan dalam diri anak untuk menjadi sama seperti ayah dan ibunya.
Kecenderungan ini bersifat tidak sadar bagi seorang anak. Artinya secara tidak sadar seorang anak akan mengambil sikap – sikap orang tuanya yang dapat ia mengerti mengenai norma – norma dan pedoman tingkah laku sejauh kemampuan yang ada pada anak tersebut.

Proses identifikasi pertama – tama berlangsung secara tidak sadar, kedua secara irasional berdasarkan perasaan dan kecenderungan dirinya yang tidak diperhitungkan secara rasional, ketiga mempunyai kegunaan untuk melengkapi sistem norma, cita – cita, dan pedoman tingkah laku orang yang di identifikasikan itu. Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan yang lain. Misalnya gaya ceramah anak Zainuddin. MZ, sama dengan ( identik ) dengan ceramah sang ayah  yaitu Zainuddin. MZ

d.      Faktor simpati

Simpati dapat di rumuskan sebagai perasaan tertarik pada seseoraqng terhadap orang lain. Seperti hal nya proses identifikasi, simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tapi berdasarkan penilaian perasaan.  Berbeda dengan identifikasi, timbul nya simpati merupakan proses sadar bagi diri manusia yang merasa simpati terlihat dalam hubungan persahabatan antara dua orang atau lebih.

Gejala identifikasi dan simpati sebenarnya sudah berdekatan. Dalam hal simpati, hubungan yang timbal balik akan menghasilkan suatu hubungan kerja sama, di mana individu yang satu ingin lebih mengerti individu yang lain secara lebih mendalam, sehingga individu tersebut dapat merasa berpikir dan bertingkah laku seolah – olah ia adalah individu yang lain. Sedangkan dalam hal identifikasi terdapat suatu hubungan dimana yang satu menghormati dan menjunjung tinggi yang lain, dan ingin belajar padanya karena dianggap ideal. Jadi dalam simpati, dorongan utamanya adalah ingin mengerti dan bekerja sama dengan orang lain, sedangkan dalam identifikasi, dorongan utamanya adalah ingin mengikuti jejak dan ingin belajar dari orang lain.[5]





“ Perbedaan penyesuaian diri Autoplastis dengan Alloplastis “

Sebagai makhluk sosial, dalam kesehariannya manusia tentu tidak bisa hidup tanpa berhubungan dengan yang lainnya. Ketidak berdayaannya mengharuskan manusia berinteraksi dengan sesama atau dengan lingkungan sekitarnya. Interaksi ini menuntut manusia untuk dapat menyesuaikan diri dengan alam atau lingkungan sekitar tempat ia tinggal. Karena kalau interaksi yang dilakukannya itu pasif maka ia akan terpengaruh oleh lingkungan, akan tetapi sebaliknya kalauia aktif maka ia akan bisa mempengaruhi lingkungan.

Manusia sebagai makhluk sosial, tidak mungkin lepas dari pengaruh lingkukannya, dengan kata lain berbicara interaksi sosial, akan menjawab; Bagaimana individu itu berhubungan dengan lingkungan?? Sehingga lebih jauh mengkaji, menganalisis “manusia sebagai makhluk sosial”. Begitu pula membahas social interaction, tentu melibatkan proses penyesuaian diri. Dr. W.A. Gerungan, Dipl. Psych. (1986, 55) menulis; “penyesuaian diri dalam artinya yang pertama disebut penyesuaian diri autoplastis (auto = sendiri, plastis = dibentuk), sedangkan penyesuaian diri yang kedua disebut penyesuaian diri alloplastis (allo = yang lain).” Jadi , penyesuaian diri ada yang bersifat “pasif”, dimana kegiatan kita ditentukan oleh lingkungan, dan ada yang sifatnya ”aktif”, dimana kita atau manusia mempengaruhi lingkungan.

Dalam hal ini, mungkin individu yang satu menyesuaikan diri secara autoplastis (mengubah diri sesuai lingkungannya) kepada individu yang lain, dimana dirinya dipengaruhi orang lain, misalnya pengajian atau khotbah disini terjadi proses pengaruh – mempengaruhi antara da’i dan mad’u dalam kelompok sosial. Maka dari itu interaksi sosial erat kaitannya dengan dakwah.

Sedangkan ketika dirinya dipengaruhi orang lain, atau sebaliknya mungkin ia dipengaruhi orang lain, maka terjadi proses penyesuaian diri alloplastis (kegiatan yang dipengaruhi lingkungan sesuai keadaan / keinginan). Misalnya ketika lingkungan itu mayoritas orang nya berperilaku baik, maka seseorang itu akan mengubah keadaan dengan lingkungan yang baik dan berperilaku baik, dan begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu lingkungan yang positif akan berdampak positif juga bagi kita. Dan sebaliknya lingkungan yang jelek atau negatif akan berdampak negatif juga bagi diri kita.

“ MANFAAT INTERAKSI SOSIAL & KAITANNYA DENGAN DAKWAH “
Dari beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa dapat timbul berbagai dampak dari interaksi timbal-balik antara satu dan yang lainnya, baik dampak positif maupun negatif adapun kaitannya dengan kajian dakwah adalah konsep silaturrahim yang tercantum dalam al – Qur’an :
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”( Qs.an – Nisa )
Dengan adanya silaturahim maka akan mempererat tali persaudaraan antara satu dan yang lainnya, karena silaturahim juga memiliki peranan yang sangat penting dalam menjalin komunikasi yang baik, serta merupakan salah satu metode dalam dakwah yang digunakan untuk menyampaikan suatu pesan kepada mad’u (yang didakwahi) agar pesan dari da’i dapat terserap dengan baik, saat ini banyak sekali cara yang dilakukan para da’i agar dapat berinteraksi langsung dengan mad’u nya, selain itu juga dengan memperluas cakupan interaksi sang da’i juga bisa melebarkan sayapnya untuk menyebarkan ajaran-ajaran islam lebih luas lagi. Selain memperluas ranah dakwah, silaturrahim juga merupakan cara yang paling efektif dibanding cara yang lainnya karena dengan berinteraksi para mad’u bisa melihat da’i itu secara langsung.

Kesimpulan
a.      Pengertian interaksi

Interaksi adalah suatu bentuk hubungan antara dua orang atau lebih dimana tingkah laku seseorang diubah oleh tingkah laku yang lain. Melalui dorongan antar pribadi tersebut seseorang yang bersifat biologis lambat laun berubah menjadi makhluk hidup atau pribadi, proses tersebut berlangsung timbal balik, masing – masing bertindak dalam keseluruhan proses yang mempengaruhi atau menyebabkan yang lain juga bertindak. Interaksi sosial dengan demikian merupakan perilaku timbal balik, suatu perilaku dimana masing – masing individu dalam proses itu mengharapkan dan menyesuaikan diri dengan tindakan yang akan dilakukan orang lain.

Jadi jelslah bahwa di dalam proses interaksi itu terdapat tindakan saling mempengaruhi antara satu individu dengan individu lainnya, sehingga timbul lah kemungkinan – kemungkinan untuk saling mengubah atau memperbaiki perilaku masing- masing secara timbal balik. Perubahan demikian bisa terjadi secara disadari atau tidak sepenuhnya disadari, atau secara perlahan – lahan. Di dalam hubungan interaksional inilah terjadi suatu proses belajar – mengajar diantara manusia.
Di mana di dalam proses dakwah merupakan permulaan yang fundamental bagi sukses nya dakwah itu. Tanpa adanya suatu proses belajar – mengajar maka dakwah sulit memperoleh tempat di dalam hati manusia.

b.      Faktor dasar interaksi
a.       Faktor imitasi
b.      Faktor sugesti
c.       Faktor identifikasi
d.      Faktor simpati


Daftar Pustaka

Arifin, H.M,  Psikologi Dakwah, 1993, Jakarta : Bumi Aksara
Faizah dan Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah, 2006, Jakarta : Prenada Media
Jumantoro, Totok, Psikologi Dakwah dengan aspek – aspek kejiwaan yang Qur’ani, 2001,
Jakarta : Amzah
Kusuma, Widjaja, Pengantar Psikologi , 1969, Jakarta : Interaksara
Partowisastro, Koestoer,  Dinamika Psikologi Sosial, 1983, Jakarta Pusat : Erlangga


[1]. H.M. Arifin, Psikologi Dakwah, Bumi aksara, Jakarta: 1993, Hal. 68-70  
[2] .Drs. Widjaja kusuma, pengantar psikologi , Interaksara, Jakarta: 1969, Hal. 606
[3] . Drs. Koestoer Partowisastro, Dinamika Psikologi Sosial, Erlangga, Jakarta Pusat: 1983, Hal; 10 -11
[4] . Drs. Totok jumantoro, Psikologi Dakwah dengan aspek – aspek kejiwaan yang qur’ani, Amzah, Jakarta: 2001, Hal; 83-86
[5] . Faizah dan Lalu muchsin effendi, Psikologi Dakwah, Prenada media, Jakarta: 2006, Hal; 130-135

BENTUK-BENTUK INTERAKSI DAN INTERAKSI SOSIAL DALAM PROSES DAKWAH

BENTUK-BENTUK INTERAKSI DAN INTERAKSI SOSIAL 
DALAM PROSES DAKWAH

1.    Bentuk-Bentuk Interaksi
     Setidaknya ada dua macam bentuk interaksi sosial sebagai wujud proses sosial dalam kehidupan masyarakat. Dua bentuk proses interaksi sosial, yaitu proses asosiatif dan proses disosiatif.

1. Proses Asosiatif
     Proses asosiatif adalah jenis interaksi soaial yang mengarah pada persatuan dan dapat meningkatkan hubungan solidaritas antar individu / kelompok. Macam-macam proses asosiatif dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.    Kerjasama (cooperation)
     Kerjasama merupakan bentuk interaksi sosial yang utama. Kerjasama dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Kerjasama merupakan bentuk proses sosial yang baik, tetapi bukan kerjasama dalam hal yang negatif, seperti kerjasama ketika para siswa sedang melakukan ulangan atau ujian. Menurut James D. Thomson dan William J. Mc Ewe, ada lima bentuk kerja sama bila ditinjau dari pelaksanaannya sebagai berikut:
1)    Kerukunan
 Kerukunan adalah hidup berdampingan secara damai dan melakukan kerjasama secara bersama-sama. Kerukunan dapat ditunjukkan dari kegiatan kerja bakti yang dilakukan warga atau secara bergiliran melakukan ronda untuk menjaga keamanan kampung. Kerukunan pada intinya mencakup gotong-royong dan tolong-menolong.
2)    Tawar-menawar (bargaining)
 Tawar-menawar adalah bentuk perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.
3)     Kooptasi
Kooptasi adalah kerjasama dalam bentuk mau menerima pendapat atau ide orang atau kelompok lain. Hal itu diperlukan agar kerjasama dapat berlanjut dengan baik. Contoh: untuk memenuhi kekurangan stok beras dalam negeri akhirnya pemerintah mengadakan perjanjian tukar menukar beras dengan peralatan persenjataanyang juga dibutuhkan Negara tetangga.
4)     Koalisi
Koalisi adalah bentuk kerjasama antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai kesamaan tujuan. Koalisi dilakukan agar memperoleh hasil yang lebih besar.
5)    Joint venture
Joint venture adalah bentuk kerjasama yang dilakukan oleh beberapa perusahaan. Dengan joint venture diharapkan hasil atau keuntungan yang diperoleh dari sebuah usaha akan lebih besar. Contoh: Bu Mia meras kerajinannya kurang berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Ketika bertemu dengan Bu Yanti yang memiliki galeri kerajinan, beliau menawarkan kerja sama untuk mengisi galeri Bu Yanti yang sepi produk kerajinan. Dengan demikian kedua orang tersebut memperoleh keuntungan dalam bidang ekonomi. 

b.   Akomodasi (accomodation)
     Akomodasi dipergunakan dalam dua arti, yaitu yang  menunjuk pada suatu keadaan dan yang menunjuk pada suatu proses. Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadaan, berarti adanya suatu keseimbanga dalam interaksi di antara orang-orang, yang kaitan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sedangkan sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk mencapai kestabilan.
     Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya. Ada beberapa bentuk akomodasi. Bentuk-bentuk akomodasi tersebut antara lain sebagai berikut:

1)    Koersi (coercion)
Paksaan merupakan bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya unsuur paksaan. Paksaan merupakan bentuk akomodasi dengan salah satu pihak berada dalam keadaan yang lemah dibandingkan dengan pihak lawan. Contoh: guru menyuruh siswa mengerjakan PR.
 2)    Kompromi
Kompromi adalah bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya, agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada. Contoh: buruh pabrik minta upahnya dinaikkan menjadi 50000 perhari, sedangkan pimpinan mampu membayar 45000 perhari. Dicapai kesepakatan perhari dg gaji 47500.
 3)    Penengah (arbitration)
Adanya penengah (arbitration) atau pihak ketiga merupakan suatu cara unruk mencapai kompromi apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapai penyelesaian. Pertentangan diselesaikan oleh pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak yang bertentangan. Contoh: penyelesaian konflik buruh & majikan dengan mengundang disnaker.
4)    Mediasi
 Mediasi menyerupai penengah. Pada mediasi hadirnya pihak ketiga hanya sebagai penasihat belaka. Tugas pihak ketiga adalah memberi nasihat agar para pihak yang bertikai menemukan penyelesaian untuk selanjutnya melakukan perdamaian. Contoh: konflik kelompok islam dengan pemerintah Filipina, RI sebagai penengah.
 5)    Konsiliasi
Konsilisasi adalah suatu usaha mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu tujuan bersama.
 6)    Toleransi
Sikap saling menghargai satu pihak dengan pihak lain. Suatu sikap menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat. Contoh: orang non muslim menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa.
7)    Stalemate
Terperangkap hingga tak dapat bergerak lagi adalah suatu bentuk akomodasi di mana dua pihak yang sedang berselisih yang mempunyai kekuatan seimbang berhenti pada suatu titik tertentu. Contoh: selesainya perang iran dan irak yang berlangsung pada tahun 1980-1988
 8)    Ajudikasi
Keputusan pengadilan adalah penyelesaian perselisihan melalui jalan pengadilan. Hal ini dilakukan karena kedua belah pihak mengalami kesulitan mencari jalan damai. Contoh: perceraian suami istri, sengketa lahan.

c.    Asimilasi
     Asimilasi adalah penyesuaian sifat-sifat asli yang dimiliki dengan sifat-sifat sekitar. Dalam hal proses sosial, asimilasi berkaitan dengan peleburan perbedaan budaya.
Beberapa faktor yang mempermudah asimilasi adalah toleransi, sikap menghargai orang asing, sikap terbuka yang dimiliki para pemimpin, persamaan unsur-unsur kebudayaan, dan kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi. Missal: perkawinan antar suku yang berbeda memungkinkan terjadinya consensus untuk membentuk satu pola baru yang berbeda dengan kebudayaan lama. Dua orang dari kebudayaan yang berbeda akan membentuk consensus mengenai pola kebudayaan baru setelah terikat system perkawinan.

d. Akulturasi
Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai akibat pertemuan (kontak budaya) secara langsung dan terus – menerus antar kelompok manusia yang memiliki kebudayaan berbeda namun tidak menghilangkan ciri atau sifat asli dari masing – masing kebudayaan.
Bangunan candi di Indonesia contohnya. Pada Candi Prambanan, bangunannya berbentuk punden berundak dan relief–reliefnya mengangkat kisah Ramayana. Jadi dapat disimpulakn bahwa Indonesia mendpat pengaruh dari negara lain yaitu India, Thailand dan Kamboja. Meskipun demikian suasana yang digambarkan pada relief tersebut masih menggambarkan suasana alam Indonesia yang indah nan asri, sehinnga masih mencerminkan ciri khas dari Indonesia.

e. Amalgamasi
    Amalgamasi adalah meleburnya dua kelompok budaya menjadi satu dan melahirkan suatu hal baru. Proses amalgamasi mempertegas hilangnya perbedaan-perbedaan yang ada. 

2.    Proses Disosiatif
Proses disosiatif adalah bentuk interaksi sosial yang dapat merenggangkan hubungan solidaritas antarindividu. Proses disosiatif meliputi persaingan, kontravensi, dan konflik.

a.    Persaingan (competition)

Persaingan adalah proses sosial dimana individu atau kelompok manusia bersaing mencari keuntungan melalui suatu bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum, dengar. cara menarik perhatian publik atau mem-pertajam prasangka yang ada, tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan. Beberapa bentuk persaingan antara lain persaingan ekonomi, persaingan kebudayaan, persaingan kedudukan dan peranan, serta persaingan ras. Contoh: dua orang kakak beradik dalam pergaulan sehari-hari mereka terikat tata sopan santunyang berlaku. Tetapi ketika mengikuti perlombaan lari cepat, mereka harus mengikuti peraturan yang berlaku dalam perlombaan, dan menanggalkan segala etika yang berlaku dalam ikatan persaudaraan.

b. Kontravensi (contravention)

Kontravensi adalah usaha untuk merintangi atau meninggalkan tercapainya tujuan pihak lain. Pada hakikatnya kontravensi merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Kontravensi adalah sikap mental yang tersembunyi terhadap orang-orang lain atau unsur-unsur kebudayaan golongan tertentu, yang dapat berubah menjadi bencian, tetapi tidak sampai pada pertentangan pertikaian. Secara umum, bentuk kontravensi meliputi gangguan, fitnah, penolakan, keengganan, perlawanan, perbuatan menghalang-halangi, protes, dan mengecewakan rencana pihak lain. Contoh: agus gagal menjadi ketua kelas karena ada desas-desus yang berasal dari kandidat lain. Agus dikabarkan mengambil jajan di kantin tanpa membayar. Desas-desus mengenai diri agus yang belum tentu benar merupakan bentuk kontravensi dari pihak lain untuk menggagalkan tujuan agus untuk menjadi ketua kelas.

 c.   Pertentangan/pertikaian (conflict)

 Pertentangan adalah suatu proses sosial ketika seseorang / kelompok dengan sadar atau tidak sadar menentang pihak lain disertai ancaman atau kekerasan untuk mendapatkan keinginan / tujuan. Pertentangan atau pertikaian terjadi jika masing-masing pihak yang sedang mengadakan interaksi, tidak menemukan kesepahaman mengenai sesuatu, kemudian berlanjut menjadi adu kekuatan, lalu timbul adanya pertentangan atau pertikaian. Pertentangan atau pertikaian tersebut dapat bersifat sementara atau terus-menerus. Contoh: tawuran antar pelajar. 

B. Interaksi Sosial Dalam Proses Dakwah

1. Makna Interaksi Sosial

    Manusia sebagai makhluk sosial (homo socius), tidak mungkin lepas dari pengaruh lingkungannya, dengan kata lain berbicara interaksi sosial, sehingga akan lebih jauh mengkaji, menganalisis “manusia sebagai makhluk sosial”. Interaksi sosial sebagai sebuah bentuk atau suatu hubungan antara dua atau lebih manusia, dimana tingkah laku manusia yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan manusia yang lain atau sebaliknya.
    Bahwa di dalam proses interaksi itu terdapat tindakan saling pengaruh-mempengaruhi antara individu yang satu dengan yang lain, baik individu itu dalam keadaan perorangan (personal) ataukah dalam kelompok sosial. Kalau kita kaitkan dengan dakwah, maka dalam dakwah dikenal dengan istilah personal approach atau “dakwah face to face”, sehingga terjadi proses pengaruh-mempengaruhi antara da’I dengan mad’u atau sebaliknya.
2. Faktor Dasar Interaksi Sosial
H. Bonner, dalam karyanya social psychology, yang di kutip Dr. W.A. Gerundang Dipl. Psych (1986, 58) menyatakan bahwa ada empat factor dasar dalam interaksi sosial, yaitu: factor imitasi, factor sugesti, factor identifikasi, dan factor simpati.

a. Imitasi

    Imitasi merupakan proses belajar manusia dalam masyarakat sebagai proses mematangkan kepribadiannya. Misalnya, kita tempatkan seorang anak belajar berbicara. Mula-mula ia akan mengimitasi kata-kata “ba-ba atau la-la”, guna melatih fungsi lidah. Kalau proses ini kita kaitkan dengan proses dakwah pada anak dikeluarga, maka factor teladan dari orang tua sangat kuat pengaruhnya.
    Nabi Muhammad sendiri menjadi teladan umat manusia, baik umat islam maupun non-Islam. Baik dalam kehidupan muamalah, ibadah, ataupun kehidupan lainnya (khususnya muslim), bahkan kalau kita mau bersikap objektif umat non islam pun dapat mengambil hikmah perilaku dan teladan Rasulullah saw.
    Lewat suri tauladan (teladan sebagai metode dakwah) maka manusia belajar kebiasaan yang baik dan akhlak yang mulia. Begitu pula sebaliknya, apabila kita terbiasa dangan kebiasaan yang buruk maka kita akan mendapatkan akhlak yang tercela sebagai buahnya. Di sinilah pentingnya imitasi dalam dakwah. Sebagai seorang da’I  renungkanlah

b. Sugesti

    Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya dengan interaksi sosial hamper sama. Bedanya adalah dalam imitasi itu orang yang satu mengikuti sesuatu yang ada di luar dirinya, sedangkan pada sugesti seseorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya yang lalu diterima oleh orang lain di luarnya. Dengan harapan orang yang sugesti itu menerima pesan tanpa keritik terlebih dahulu. Sehingga sugesti bukan bersifat rasional akan tetapi mendahulukan ras. Dalam hal ini Menike menulis: “Sugesti adalah pengaruh psikis-rohaniah, yang dalam diri komunikan menghasilkan suatu sikap atau keyakinan tertentu, tanpa dirasakannya adanya keperluan untuk meminta pertanggungjawaban serta keterangan dan pembuktian lebih lanjut dari pemberi sugesti (komunikator).”
    Sugesti dalam ilmu jiwa sosial, sering diartikan sebagai suatu proses dimana individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Ada pula yang menganggap sugesti sebagai suatu rangsangan yang dapat mengendurkan atau menguatkan sikap, perhatian, atau keinginan-keinginan mad’u.
    Sugesti merupakan proses mempengaruhi orang lain, dengan tujuan tingkah laku (behavior), bersikap (attitude) pendapat (oppinion) supaya identik dengan kita. Begitu pula dakwah dengan tujuan, agar mad’u itu mengikuti jalan yang Islamis. Tidak terlalu tergesah-gesah pada hakikatnya antara keduanya memiliki hubungan yang erat sekali, bahkan dakwah merupakan sugesti pada orang lain.

c. Identifikasi

Identifikasi adalah sebuah istilah dalam psikologi-psikoanalisis-Sigmund freud, dimana Dr. W.A. Gerungan membatasi “dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain”. Kecenderungan disini bersifat tidak sadar dan irasional.
Sebagai ilustrasi, bagi seoarang anak, sang ayah adalah refleksi sifat kejantanan, kewibawaan, dan kepemimipinan. Sedang ibu adalah idola dari perwujudan kelembutan dan kasih saying. Dengan demikian metode keteladanan dalam dakwah mutlak sifatnya, sebab orang lain akan lebih dulu melihat tindak tanduk dan perilaku kita. Sehingga ada pepatah mengatakan “lihat orangnya dan jangan lihat apa yang di ucapkannya”, walaupun Ali bin Abi Thalib ra. Mengingatkan: “lihat apa yang diucapkan dan bukan siapa yang mengucapkan”, tetapi realitasnya lain. Di sinilah peran orang tua dalam menumbuhkan religious consciousness atau rasa keagamaan pada anak-anaknya, salah satu caranya adalah menumbuhkan iklim religious dan teladan bagi anak-anaknya. Islam menggarisbawahi tentang kehidupan keluarga ini.
Di sini jelaslah kewajiban orang tua memberi contoh yang baik dan bertanggungjawab kepada anggota keluarganya, sebab ia sebagai model identifikasi. Begitu pula dalam dakwah, da’I merupakan the best example dalam lingkungan masyarakat.

d. Simpati

Simpati dapat dirumuskan sebagai perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tetapi berdasarkan penilaian perasaan, seperti juga dalam proses identifikasi (Dr. W.A. Gerungan, 1986, 69). Sehingga factor ini memiliki peran yang cukup mendalam dalam interaksi sosial. Dengan simpati maka situasi kerja sama akan lebih mudah terjadi.
    Dalam proses interaksi dalam dakwah, factor simpati ini besar sekali perannya. Karena salah satu yang tidak dapat diabaikan dalam proses dakwah adalah terlebih dahulu membangkitkan rangsangan (stimulan) yang akan memberikan jalan pada mad’u. untuk membangkitkan itu, maka da’I harus mengadakan empati terlebih dahulu. Karenanya, factor simpati itu, kita sering melihat dakwah nonverbal (teladan dakwah bil hal) mempunyai pengaruh yang tidak kalah pentingnya dengan dakwah verbal. Pribahasa arab menulis: “Perbuatan itu lebih besar pengaruhnya dari pada kata-kata yang diucapkan”.
    Dari argument diatas dapat disimpulkan bahwa seorang da’I harus mampu menumbuhkan rasa simpati pada mad’u. Sekiranya mad’u sudah tidak simpati terlebih dahulu dengan da’I jangan diharapkan terjadi feed back dalam dakwah, apalagi tujuan dakwah akan terealisasi, mungkin hanya “counter effect” yang diterimanya, atau bahkan kita ditolak secara mentah-mentah. 
Kegiatan dakwah adalah sebuah proses sosial di mana di dalam setiap proses dakwah terdapat factor yang saling berhubungan dan memengaruhi antara satu factor dengan factor yang lainnya. Factor-faktor tersebut adalah:

a.    Pelaksana Dakwah (Da’i)
Da’I merupakan kunci yang menentukan keberhasilan dan kegagalan dakwah. Oleh karena itu, dalam factor ini terdapat cirri-ciri serta persyaratan-persyaratan jasmani maupun rohani yang sangat kompleks bagi pelaksana yang sekaligus menjadi penentu dan pengendali sasaran dakwah.

b.    Objek Dakwah (Mad’u)
Objek atau sasaran dakwah berupa manusia yang harus di bimbing dan dibina menjadi manusia beragama sesuai dengan tujuan dakwah. Objek dakwah dilihat dari aspek psikologis memiliki variabilitas yang luas dan rumit menyangkut pembawaan dan pengaruh lingkungan yang berbeda yang menuntut pendekatan berbeda pula.

c.    Lingkungan Dakwah
Lingkungan dakwah adalah suatu factor yang besar pengaruhnya bagi perkembangan sasaran dakwah, berupa individu maupun kelompok manusia serta kebudayaan.

d.    Media Dakwah
Media dakwah adalah factor yang dapat menentukan kelancaran proses pelaksanaan dakwah. Factor ini disebut juga defent variables, artinya dalam penggunaannya atau efektivitasnya tergantung pada factor lain terutama orang yang menggunakannya.

e.    Tujuan Dakwah
Tujuan dakwah adalah suatu factor yang menjadi pedoman arah proses yang dikendalikan secara sistematis dan konsisten.
   
Dalam kegiatan dakwah selalu terjadi proses interaksi, yaitu hubungan antara da’I di satu pihak dan mad’u (objek dakwah) di pihak lain. Interaksi dalam proses dakwah ini ditujukan untuk mempengaruhi mad’u yang akan membawa perubahan sikap sesuai dengan tujuan dakwah yaitu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. 

        DAFTAR PUSTAKA
Faizah, Muchsin Effendi Lalu. Psikologi Dakwah, Jakarta: Prenada Media, 2006
Totok Jumantoro. Psikologi Dakwah, Jakarta: Amzah, 2001
Widyabakti Hesti Kawedar, Wijayanti Diatmika. Sosiologi, Klaten: Intan Pariwara, 2011
Sunaryo, Psikologi Perawatan, Jakarta: EGC, 2001
Kusuma, Widjaja, Pengantar Psikologi, Jakarta: Interaksara, 1969

الاثنين، 28 مايو 2012

Diktat Kepemimpinan


KEPEMIMPINAN DAN RUANG LINGKUPNYA
Di Susun Oleh:
IFA RATNASARI DKK
(Jurusan Manajemen Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya Konsentrasi Kelembagaan Islam  Angkatan 2009)

BAB I
 PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia diciptakan oleh Allah SWT  kemuka bumi ini, sebagai khalifah (pemimpin) dimuka bumi ini, oleh sebab itu maka manusia tidak terlepas dari perannya sebagai pemimpin, dimensi kepemimpinan merupakan peran sentral dalam setiap upaya pembinaan. Hal ini telah banyak dibuktikan dan dapat dilihat dalam gerak langkah setiap organisasi. Peran kepemimpinan begitu menentukan bahkan seringkali menjadi ukuran dalam mencari sebab-sebab jatuh bangunnya suatu organisasi. Dalam menyoroti pengertian dan hakikat kepemimpinan, sebenarnya dimensi kepemimpinan memiliki aspek-aspek yang sangat luas, serta merupakan proses yang melibatkan berbagai komponen didalamnya dan saling mempengaruhi.
Dewasa ini kita tengah memasuki Era Globalisasi yang bercirikan suatu interdependensi, yaitu suatu era saling ketergantungan yang ditandai dengan semakin canggihnya sarana komunikasi dan interaksi. Perkembangan dan kemajuan pesat di bidang teknologi dan informasi memberikan dampak yang amat besar terhadap proses komunikasi dan interaksi tersebut. Era globalisasi sering pula dinyatakan sebagai era yang penuh dengan tantangan dan peluang untuk saling bekerja sama. Dalam memasuki tatanan dunia baru yang penuh perubahan dan dinamika tersebut, keadaan dewasa ini telah membawa berbagai implikasi terhadap berbagai bidang kehidupan, termasuk tuntutan dan perkembangan bentuk komunikasi dan interaksi sosial dalam suatu proses kepemimpinan.
Setiap bangsa, nampaknya dipersyaratkan untuk memiliki kualitas dan kondisi kepemimpinan yang mampu menciptakan suatu kebersamaan dan kolektivitas yang lebih dinamik. Hal ini dimaksudkan agar memiliki kemampuan bertahan dalam situasi yang semakin sarat dengan bentuk persaingan, bahkan diharapkan mampu menciptakan daya saing dan keunggulan yang tinggi. Begitu pula dalam konteks pergaulan dan hubungan yang lebih luas, setiap negara-bangsa (nation state) dituntut mampu berperan secara aktif dan positif baik dalam lingkup nasional, regional maupun internasional. Namun, harus disadari pula bahwa dalam setiap proses kepemimpinan, kita akan selalu dihadapkan pada suatu mata rantai yang utuh mulai dari yang paling atas sampai tingkat yang paling bawah dan ke samping. Karena itu, pemahaman serta pengembangan dalam visi dan perspektif kepemimpinan amat diperlukan dalam upaya mengembangkan suatu kondisi yang mengarah pada strategi untuk membangun daya saing, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas dan produktivitas bangsa yang ditandai oleh semangat kebersamaan  dan keutuhan. Kita sekarang dihadapkan kepada dua dimensi kepemimpinan, antara kepemimpinan islam, dan kepemimpinan barat, islam telah memberi gambaran nyata akan keberhasilannya dalam memimpin suatu oraganisasi sebagaimana yang telah dilakukan oleh nabi kita muhammad saw. Akan tetapi disisi lain orientalis-orientalis barat dengan berbagai teorinya yang ilmiah mencoba mengalihkan perhatian masyarakat dari kepemimpinan islam, dan berpaling terhadap kepemimpinan yang ditawarkan oleh orang-orang barat yang jelas-jelas bertentangan dengan kepemimpinan dalam islam. Walaupun tidak seluruhnya bertentangan dengan kepemimpinan islam, akan tetapi ini bisa menjadi penyebab bagi ummat untuk meninggalkan aturan-aturan islam.

Ruang Lingkup Pembahasan Dalam Diktat Ini Adalah :

Pengertian Kepemimpinan secara umum 
Oleh:
 Nurut Thoharotul Qibtyah



Oleh:
Budi Hadi Syahputra



Oleh:
Qonitatun Najah



Oleh:
M. Abbul Abbas
Oleh:
Ika Susanti


Oleh:
Siti Aisah

Oleh:
Amirul Umaroh


Oleh:
Irma Ifadah Wahyuningsih





Oleh:
Agustin Dian Maya Sari



Oleh:
Mazra’atun Naza



Oleh:
Rifatul Fauziah




Oleh:
Miftachul Azizah





Oleh:
Evi Nur Hidayah







Oleh:
Rahma Ika Widuri

Oleh: 
Naimah
.

PERAN PEMIMPIN DALAM PERSPEKTIF UMUM DAN ISLAM 
 DALAMMENGATASI  STRES 
Oleh: 
M.Ali Rosadi


Untuk Lebih Lanjut Mengenai Pembahasan Dari setiap Sub Bab maka silahkan Klik dan Donlowd di sini. 

DAFTAR PUSTAKA
Abi Sujak,  1990, Kepemimpinan Manajer, Rajawali, Jakarta
A. B. Susanto, 2009, SUPER LEADERSHIP Leading Others to Lead, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Ahmad Ibrahim Abusinn, 2008, Manajemen Syariah,jakara : PT.Raja Grafindo persada.
Dario Nardi, 2005, 8 keys To Self Leadership, California:Unit Business Press,
Didin Hafihuddin, dan Hendri Tanjung, 1998,  manajemen syari’ah dalam praktik,  GEMA INSANI PRESS, Jakarta.
Faizah dan lalu muchsin efendi, 2006, Psikologi Dakwah, jakarta : kencana,
Fred A. Fiedler, 1967. A Theory of Leadership Effectiveness,  Mc. GrawHill Book Co New York,
John M. Ivancevich, Robert Konopaske dan Michael T. Matteson, 2006,  perilaku dan manajemen organisasi. erlangga: Jakarta.
Ken Blanchard dkk, 2006,  Self Leadership And The One Minutes Manager,jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
Kartini Kartono, 1998, Pemimpin dan Kepemimpinan: Apakah Pemimpin Abnormal itu ?, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
Mohammad karim, 2010, Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam, Malang, UIN MALIKI PRESS,
Miftah Thoha, 1995, Kepemimpinan dalam Manajemen, Raja Grafindo Persada, Jakarta Utara.
M.Toha, 1983, Kepemimpinan Dalam Manajemen, Jakarta:PT.Raja Grafindo.
Mulyadi Dessy, 2010, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, PT. Rajagrafindo persada, Jakarta.
Nur Salim el-Mugawwy, 2010, Model Kepemimpinan dalam Pendidikan Islam, diakses pada tanggal 26 Mei 2012 dari dihttp://utlubililma.wordpress.com/2010/12/24/7/
Ralph M Stogdill, 1948, Personal Factors Associated with Leadership, Journal of Psychology, XXV
Rifa’i Verhzal,2009,Islamic Leadership. PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Said Hawwa, 2007, “Ar-Rasul”. Jakarta: Pustaka Islami.
Sondang P. Siagian, 1991,  Teori dan praktek kepemimpinan, PT.BINA AKSARA; Jakarta.
Undang Ahmad Kamaludin dan Muhammad Alfan, 2003, Etika Manajemen Islam, Bandung : Cv.Pustaka setia.
Soehardi Sigit, Teori Kepemimpinan Dalam Manajemen, 1983, Yogyakarta: Armurrita,
Sondang P. Siagian, Teori Dan Praktek Kepemimpinan, 1994, Jakarta: Rineka Cipta,
Sigit, Soehardi. 1983, Teori Kepemimpinan Dalam Manajemen. Yogyakarta: Armurrita.
Toto Tasmara, 2002, “ Membudayakan Etos Kerja Islami”. Jakarta : Gema Insani.
T. Hani Handoko. 2000,  Manajemen . BPFE-Yogyakarta.
Veithzal Rivai & Arviyan Arifin, 2009, Islamic Leadership Membangun Superleadership melalui Kecerdasan Spiritual, Bumi Aksara, Jakarta.
Veithzal rifa’I dan.Deddy mulyadi. 2010,  Kepemimpinan dan perilaku organisasi, PT. GRAFINDO PERSADA; Jakarta.
Winardi, 1990, Kepemimpinan dalam Manajemen, Rineka Cipta, Jakarta,.

http://mylearningissue.wordpress.com/2010/01/17/kepemimpinan-rasulullah-saw/
http://mubarok-institute.blogspot.com/2006/06/dakwah-islam-dan-kepemimpinan.html
http/jurnal-sdm.blogspot.com/2010/04/manajemen-konflik-ciri-sumber


FOOT NOTE

[1] . Prof.Dr. Veithzal rifa’I dan prof.Dr.Deddy mulyadi. Kepemimpinan dan perilaku organisasi, PT. GRAFINDO PERSADA; Jakarta, 2010; Hal: 2-3
[2] Prof.Dr, Sondang P. Siagian, MPA, Teori dan praktek kepemimpinan, PT.BINA AKSARA; Jakarta, 1991; Hal: 7
[3] .Dr. Kartini Kartono, pemimpin dan kepemimpinan, PT.RAJA GRAFINDO, Jakarta;1998, Hal ; 32-34 dan 47-50
[4] .DR.Didin Hafihuddin, M.Sc dan Hendri Tanjung, S.Si, manajemen syari’ah dalam praktik, GEMA INSANI PRESS, Jakarta, 2003, Hal; 119-120
[5] Ahmad Ibrahim Abusinn,Manajemen Syariah,jakara : PT.Raja Grafindo persada.2008,Hal : 127
[6] Undang Ahmad Kamaludin dan Muhammad Alfan,Etika Manajemen Islam,Bandung : Cv.Pustaka setia.2003,Hal 146-147
[7][7] Faizah dan lalu muchsin efendi,Psikologi Dakwah,jakarta : kencana,2006,hal :169-170
[8] http://mylearningissue.wordpress.com/2010/01/17/kepemimpinan-rasulullah-saw/
[9] Said Hawwa, 2007, “Ar-Rasul”. Jakarta: Pustaka Islami. Hal. 275-279
[10] http://mubarok-institute.blogspot.com/2006/06/dakwah-islam-dan-kepemimpinan.html
[11] Said Hawwa, 2007, “Ar-Rasul”. Jakarta: Pustaka Islami. Hal. 291-295
[12] Toto Tasmara, 2002, “ Membudayakan Etos Kerja Islami”. Jakarta : Gema Insani. Hal. 157-163
[13] Soehardi Sigit, Teori Kepemimpinan Dalam Manajemen, 1983, Yogyakarta: Armurrita, hal 17-20.
[14] Sondang P. Siagian, Teori Dan Praktek Kepemimpinan, 1994, Jakarta: Rineka Cipta, hal 138-145.
[15] Ralph M Stogdill, Personal Factors Associated with Leadership, Journal of Psychology, XXV (1948), hal 43.
[16] Sigit, Soehardi. Teori Kepemimpinan Dalam Manajemen. Yogyakarta: Armurrita. 1983
[17] Veitzal Rivai, Arviyan Arifin, Islamic Leadership, (Jakarta, PT Bumi Aksara, 2009), hal. 105
[18]Mohammad karim, Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam, (Malang, UIN MALIKI PRESS, 2010), hal. 3-5
[19] Sondang P. Siagian, 1994, Teori dan Praktek Kepemimpinan, Rineka Cipta, Jakarta, hal. 31.
[20] Winardi, 1990, Kepemimpinan dalam Manajemen, Rineka Cipta, Jakarta, hal. 62.
[21] [21] Sondang P. Siagian, 1994, Teori dan Praktek Kepemimpinan, Rineka Cipta, Jakarta, hal. 32-33.
[22] Ibid, hal. 40-44.
[23] Veithzal Rivai & Arviyan Arifin, 2009, Islamic Leadership Membangun Superleadership melalui Kecerdasan Spiritual, Bumi Aksara, Jakarta, hal. 168-169.
[24] Veithzal Rivai & Arviyan Arifin, 2009, Islamic Leadership Membangun Superleadership melalui Kecerdasan Spiritual, Bumi Aksara, Jakarta, hal. 306-307.
[25] Winardi, Kepemimpinan Dalam Manajemen, (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 1990), Hlm. 68.
[26] Fred A. Fiedler, A Theory of Leadership Effectiveness,  Mc. GrawHill Book Co New York, 1967.
[27] M.Toha, Kepemimpinan Dalam Manajemen, (Jakarta:PT.Raja Grafindo,1983),  hlm. 36-37.
[28] Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi, 2010, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, Hal. 42.
[29] Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin, 2009, Islamic leadership: Membangun Superleadership Melalui Kecerdasan Spiritual, PT. Bumi Aksara, Jakarta, Hal. 304.
[30] Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin,  Hal. 168.
[31] Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi, Hal. 34-37 dan Hal. 129.
[32] Kartini Kartono, 1998, Pemimpin dan Kepemimpinan: Apakah Pemimpin Abnormal itu ?,PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, Hal.73 dan Hal.164.
[33] Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi, Hal. 129.
[34] Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin, Hal. 307.
[35] DR. Winardi,S.E, 1990, Kepemimpinan dalam Manajemen, Rineka Cipta, Jakarta. hal. 62
[36] DR. Winardi,S.E, 1990, Kepemimpinan dalam Manajemen, Rineka Cipta, Jakarta. hal. 68-69
[37] Nur Salim el-Mugawwy, 2010, Model Kepemimpinan dalam Pendidikan Islam, diakses pada tanggal 26 Mei 2012 dari dihttp://utlubililma.wordpress.com/2010/12/24/7/
[38] Miftah Thoha, 1995, Kepemimpinan dalam Manajemen, Raja Grafindo Persada, Jakarta Utara. Hal.42
[39] Veithzal Rizvai & Arvian Arifin,2009,  Islamic Leadership (Membangun SuperLeadership Melalui Kecerdasan Spiritual), Sinar Grafika Offset, Jakarta. hal. 174-175
[40]Veithzal Rivai & Arvian Arifin, 2009, Islamic Leadership,Jakarta: Bumi Aksara, hal 57
[41]Ken Blanchard dkk, 2006,  Self Leadership And The One Minutes Manager,jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hal.15,
[42]Veithzal Rivai & Arvian Arifin, 2009, Islamic Leadership,Jakarta: Bumi Aksara, hal,59
[43]Dario Nardi, 2005, 8 keys To Self Leadership, California:Unit Business Press, Hal 3-4
[44]Veithzal Rivai & Arvian Arifin, 2009, Islamic Leadership, Bumi Aksara, Jakarta, hal 74-90

[45] Miftah Thoha, 1995, Kepemimpinan dalam Manajemen, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, hal. 1
[46] H. Veitzal Rivai, 2009, Islamic Leadership Membangun Super Leadership Melalui Kecerdasan Spiritual, (Jakarta: PT. Bumi Aksara), hal.68.
[47] A. B. Susanto, 2009, Super Leadership Leading Others to Lead, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama), hal. 21.
[48] Ibid, hal. 21-22.
[49] Ibid, hal. 22
[50] H. Veitzal Rivai, 2009, Islamic Leadership Membangun Super Leadership Melalui Kecerdasan Spiritual, hal. 69
[51] Ibid, hal. 70.
[52] Ibid, hal. 70-71.
[53] Ibid, hal. 71.

[54] Ibid, hal. 82.
[55] Ibid, hal. 82-83
[56] Ibid, hal. 83
[57] Ibid, hal. 84
[58] Ibid, hal. 85
[59] Ibid, hal. 85-86
[60] Ibid, hal. 86
[61] Ibid, hal. 86
[62] Ibid, hal 87
[63] Ibid, hal. 88
[64] Ibid, hal. 93-94
[65] Ibid, hal. 94-95
[66] Ibid, hal. 95-96
[67] Ibid, hal. 96-97
[68] Ibid, hal.97
[69]T. Hani Handoko.2000,  Manajemen . BPFE-Yogyakarta,  Hal 346
[70] http/jurnal-sdm.blogspot.com/2010/04/manajemen-konflik-ciri-sumber
[72] Veithzal Rivai, dan Deddy Mulyadi, 2010, kepemimpinan dan perilaku organisasi. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta. hal: 274

[73] Ibid hal 278-279
[74] Miftah Thoha, 1995, Kepemimpinan Dalam Manajemen. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta. hal: 103-104
[75] John M. Ivancevich, Robert Konopaske dan Michael T. Matteson,2006,  Perilaku Dan Manajemen Organisasi. Erlangga: Jakarta. hal 45-46
[76] Veithzal Rivai, dan Deddy Mulyadi, , kepemimpinan dan perilaku organisasi.2010, PT RajaGrafindo Persada: Jakarta, hal: 283-284

[77] J. Winardi, Manajemen perubahan. (Prenada Media Group: Jakarta. 2005)hal 171
[78]  Veithzal Rivai. dan Deddy Mulyadi, 2010, kepemimpinan dan perilaku organisasi. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta, hal: 284-285

[79] Abi Sujak,  1990, Kepemimpinan Manajer, Rajawali, Jakarta, hlm. 175
[80] Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi,  2010, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Rajawali, Jakarta, hlm. 308
[81] Veithzal Rivai dan Aviyan Arifin, 2009, Islamic Leadership, PT Bumi Aksara, Jakarta, hlm. 557
[82] Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry. 1994. Kamus Ilmiah Popule. Yogyakarta : Arkola .. Hal. 727
[84]  http://deviyasmin.multiply.com/journal/item/6?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Dari Ruang Kelas Menuju Indonesia Berdaulat: Ketika Guru, Teknologi, dan Kecerdasan Artifisial Menjadi Mitra Pembelajaran Berkarakter

Pendahuluan Indonesia sedang memasuki babak baru dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, terutama hadirnya...