Rabu, 14 Januari 2026

Naik ke Langit, Turun ke Hati: Isra Mi’raj dan Kekuatan Iman di Era Informasi Tanpa Bata

 

 Oleh: Ifa Ratnasari,S.Sos.I,S.E,M.Pd,Gr

    Di zaman yang penuh dengan arus informasi tanpa batas, manusia seakan hidup di antara jutaan notifikasi yang tiada henti. Setiap detik, berita, gambar, dan opini bertebaran, membentuk realitas baru yang seringkali membuat hati lelah dan pikiran jenuh. Namun, di tengah hiruk pikuk ini, peristiwa Isra Mi’raj kembali mengajarkan manusia tentang makna tertinggi dari perjalanan spiritual sebuah pendakian ke langit yang justru berujung pada ketenangan hati di bumi.

1. Isra Mi’raj: Perjalanan Agung dan Maknanya

Peristiwa Isra Mi’raj adalah mukjizat besar yang diberikan kepada Rasulullah ﷺ. Allah SWT berfirman:

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1)

    Dalam perjalanan itu, Rasulullah ﷺ tidak hanya melihat tanda-tanda kebesaran Allah, tetapi juga menerima perintah salat ibadah yang menjadi penghubung langsung antara manusia dan Tuhannya. Salat adalah hasil tertinggi dari perjalanan spiritual ini, sebuah “mi’raj” bagi setiap orang beriman. Sebagaimana sabda Rasulullah:

“Salat adalah mi’raj bagi orang beriman.” (HR. Al-Baihaqi)

Makna yang tersirat di sini adalah bahwa setiap Muslim, melalui salat dan ibadahnya, memiliki kesempatan untuk “naik ke langit” menyentuh kedekatan spiritual dengan Allah, meski tubuhnya tetap di bumi.

 

2. Era Informasi: Ujian Baru bagi Keimanan

    Kita hidup di era informasi tanpa batas. Pengetahuan begitu mudah diakses, tetapi kebijaksanaan semakin sulit ditemukan. Arus data yang deras sering menenggelamkan manusia dalam distraksi dan kesenangan semu. Banyak orang tahu segalanya, namun kehilangan arah; pandai berbicara, tapi miskin makna. Dalam konteks ini, Isra Mi’raj mengajarkan pentingnya keseimbangan antara pengetahuan dan keimanan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang mendekatkan hati kepada Allah, bukan yang membuat manusia sombong atau lalai.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Di tengah banjir informasi digital, ayat ini menjadi penawar. Teknologi boleh membawa manusia melanglang buana ke seluruh penjuru dunia, tetapi hanya iman yang mampu menuntunnya pulang ke dalam dirinya sendiri.

3. Menyambungkan Langit dan Hati di Dunia Digital

    Perjalanan Mi’raj mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah bukan perkara ruang dan waktu, tetapi kesiapan hati. Di era modern, koneksi internet mungkin membuat manusia merasa dekat dengan dunia, tapi belum tentu dengan Tuhannya. Setiap salat, setiap sujud, adalah kesempatan untuk “turun ke hati” setelah “naik ke langit.” Inilah keseimbangan spiritual yang dibutuhkan manusia digital. Ketika dunia maya menarik perhatian ke luar, salat mengarahkan kembali pandangan ke dalam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketahuilah, di dalam jasad ada segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hati yang bersih adalah kompas di tengah kabut informasi. Ia menuntun manusia agar tidak tersesat oleh ilusi dunia maya, tetapi tetap berjalan di jalan yang diridhai Allah SWT.

Pesan Moral untuk Generasi Digital

    Isra Mi’raj adalah kisah tentang naik ke langit untuk memperkuat hubungan dengan Allah, lalu turun ke bumi dengan hati yang penuh cahaya. Bagi generasi digital, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa teknologi dan informasi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menebar kebaikan dan memperdalam iman. Dalam setiap “klik” dan “scroll”, semestinya terselip niat untuk mencari ridha Allah. Dengan meneladani semangat Isra Mi’raj, generasi Muslim masa kini dapat belajar untuk tetap berpijak di bumi teknologi, namun hati mereka selalu terikat pada langit spiritualitas.

    Hanya dengan itu, manusia dapat hidup di tengah derasnya arus informasi tanpa kehilangan arah karena hati yang beriman adalah satu-satunya kompas yang tak pernah kehilangan sinyal.

Kamis, 23 Oktober 2025

Kegiatan Seru dan Bermakna Bersama Siaga Hebat di SDI Pancasila Krian Sidoarjo: Belajar Melipat Baju dan Selimut Bersama Bunda Ifa Ratnasari, L.T.



    H
ari ini, suasana di SDI Pancasila Krian Sidoarjo terasa begitu ceria dan penuh semangat. Para Pramuka Siaga Hebat berkumpul dengan wajah antusias untuk mengikuti kegiatan yang sederhana namun sarat makna — belajar melipat baju dan selimut bersama Bunda Ifa Ratnasari, L.T. Kegiatan ini bukan sekadar latihan keterampilan tangan, melainkan pembelajaran karakter dan kemandirian yang akan menjadi bekal penting dalam kehidupan mereka kelak.

    Bunda Ifa, selaku pembina kegiatan pramuka, dengan penuh kesabaran dan kasih sayang memandu anak-anak dalam setiap langkah. Dengan nada lembut namun tegas, beliau menjelaskan bahwa melipat baju dan selimut bukan hanya sekadar pekerjaan rumah tangga, tetapi juga wujud tanggung jawab, kerapian, dan kedisiplinan. “Anak yang bisa melipat bajunya sendiri adalah anak yang belajar menghargai usaha orang tuanya dan belajar mandiri,” tutur beliau di tengah kegiatan.

    Melipat baju dan selimut memang tampak sederhana, namun di balik aktivitas ini tersimpan nilai-nilai akhlak Islami. Dalam Islam, kerapian dan kebersihan adalah bagian dari keimanan. Rasulullah ﷺ bersabda:


"Inna Allāha jamīlun yuḥibbul jamāl"
(Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan) — HR. Muslim.

    Dari hadits ini, kita diajarkan untuk mencintai kerapian dan keindahan dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam hal-hal kecil seperti menata dan melipat pakaian. Anak-anak yang terbiasa hidup rapi akan tumbuh menjadi pribadi yang teratur, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

    Kegiatan hari ini juga mengajarkan anak-anak untuk menghargai waktu dan kerja sama. Mereka belajar untuk tidak bergantung pada orang lain, melainkan mampu mengurus dirinya sendiri. Bunda Ifa menekankan pentingnya kemandirian sejak dini, sebab karakter ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab sosial. Dalam hal ini, maqolah Arab yang relevan menyatakan:

"Man jadda wajada"
(Barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil).

    Dengan kesungguhan dan latihan yang terus-menerus, anak-anak SDI Pancasila belajar bahwa setiap keterampilan kecil yang dipelajari hari ini adalah investasi untuk masa depan. Mereka tertawa, saling membantu, dan bangga ketika hasil lipatan mereka tampak rapi dan tertata.

    Kegiatan sederhana ini menjadi contoh nyata bahwa pendidikan karakter tidak harus selalu melalui teori, tetapi bisa melalui praktik kehidupan sehari-hari yang dekat dengan keseharian anak. Melipat baju dan selimut melatih motorik halus, membentuk kebiasaan positif, dan memperkuat nilai-nilai Islami yang aplikatif.

    Di akhir kegiatan, Bunda Ifa Ratnasari menutup dengan pesan menyentuh:
“Anak hebat bukan yang selalu dibantu orang lain, tapi yang mau belajar mandiri, membantu, dan menjaga kerapian sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah.”

    Kegiatan hari ini bukan hanya meninggalkan kesan menyenangkan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang akan tumbuh bersama anak-anak SDI Pancasila. Dari selembar kain yang dilipat, mereka belajar arti tanggung jawab, kedisiplinan, dan rasa syukur — bekal penting untuk menjadi generasi Islam yang tangguh dan berkarakter.

"Al-‘Adatu thāniyah thabī‘ah"Kebiasaan itu menjadi tabiat.
Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut, menumbuhkan pribadi-pribadi unggul yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan mandiri.

Writer: 🌸 Ifa Ratnasari,S..Sos.I,S,E,M.Pd     


Naik ke Langit, Turun ke Hati: Isra Mi’raj dan Kekuatan Iman di Era Informasi Tanpa Bata

   Oleh: Ifa Ratnasari,S.Sos.I,S.E,M.Pd,Gr      Di zaman yang penuh dengan arus informasi tanpa batas, manusia seakan hidup di antara jutaan...