Oleh: Ifa Ratnasari
Awalnya saya bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehadiran kecerdasan artifisial (AI) akan membuat peran guru semakin kecil? Pertanyaan itu justru membawa saya pada sebuah perjalanan belajar melalui Gemini Academy 2026.
Saya menyadari bahwa persoalannya bukan apakah AI akan menggantikan guru, tetapi apakah guru mau belajar menggunakan AI secara bijak. AI dapat membantu mencari ide, menyusun bahan ajar, membuat asesmen, mengembangkan media pembelajaran, hingga memberikan alternatif strategi belajar. Namun, sentuhan manusia empati, keteladanan, nilai, karakter, dan keputusan pedagogis tetap tidak dapat diserahkan begitu saja kepada mesin.
Sebagai peserta Gemini Academy, saya belajar bahwa kemampuan menggunakan AI bukan sekadar mampu mengetik perintah atau prompt. Guru perlu memiliki kemampuan berpikir kritis untuk memeriksa informasi, memperbaiki hasil, menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa, dan memastikan teknologi digunakan secara bertanggung jawab.
Yang paling berkesan adalah ketika pengalaman sebagai peserta mulai berubah menjadi kesempatan untuk berbagi. Dari belajar, mencoba, gagal, memperbaiki, kemudian saya dipercaya untuk membantu dan mendampingi guru lain. Dari peserta menjadi mentor.
Bagi saya, perubahan itu bukan tentang seberapa hebat seseorang menguasai teknologi. Perubahan sesungguhnya terjadi ketika pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi dibagikan kepada orang lain.
Kini saya memandang AI bukan sebagai pesaing guru, melainkan sebagai teman kerja yang perlu diarahkan oleh manusia. Guru tetap menjadi penggerak utama pembelajaran karena teknologi tanpa nilai dapat kehilangan arah.
Gemini Academy 2026 mengajarkan satu hal penting kepada saya: jangan takut pada teknologi yang terus berkembang. Belajarlah, pahamilah, gunakan dengan bijak, dan bagikan manfaatnya.
Karena guru masa depan bukanlah guru yang kalah oleh AI, tetapi guru yang mampu menjadikan AI sebagai alat untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, kreatif, dan manusiawi.

