Tampilkan postingan dengan label makalah psikologi sosia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makalah psikologi sosia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 November 2012

INTERAKSI DALAM DAKWAH

A.    Pengertain Interaksi

Salah satu naluri manusia sebagai makhluk sosial adalah kecenderungan untuk hidup berkelompok atau bermasyarakat yang disebut instink gregarious. Dan salah satu bentuk manifestasi dari kecenderungan naluriah tersebut adalah apa yang disebut oleh para ahli psikologi dengan interaksi sosial. Hubert Bonner memberikan pembatasan sebagai berikut :

“ Social interaction is type of  relationship between two or more person in which the behavior of one is modified by the behavior of  the other. Through interpersonal stimulations and response the bioligical individual is slowly changed into a human being or personality, the process may go on back and forth, each act in the total process suggesting or bringing out still another act. Social interaction is reciprocal action, action in which each individual in the process anticipates and adjusts to the oncoming act of the other. ”

Dengan demikian maka Interaksi adalah suatu bentuk hubungan antara dua orang atau lebih dimana tingkah laku seseorang diubah oleh tingkah laku yang lain. Melalui dorongan antar pribadi tersebut seseorang yang bersifat biologis lambat laun berubah menjadi makhluk hidup atau pribadi, proses tersebut berlangsung timbal balik, masing – masing bertindak dalam keseluruhan proses yang mempengaruhi atau menyebabkan yang lain juga bertindak. Interaksi sosial dengan demikian merupakan perilaku timbal balik, suatu perilaku dimana masing – masing individu dalam proses itu mengharapkan dan menyesuaikan diri dengan tindakan yang akan dilakukan orang lain.

Jadi jelslah bahwa di dalam proses interaksi itu terdapat tindakan saling mempengaruhi antara satu individu dengan individu lainnya, sehingga timbul lah kemungkinan – kemungkinan untuk saling mengubah atau memperbaiki perilaku masing- masing secara timbal balik. Perubahan demikian bisa terjadi secara disadari atau tidak sepenuhnya disadari, atau secara perlahan – lahan. Di dalam hubungan interaksional inilah terjadi suatu proses belajar – mengajar diantara manusia.
di mana di dalam proses dakwah merupakan permulaan yang fundamental bagi sukses nya dakwah itu. Tanpa adanya suatu proses belajar – mengajar maka dakwah sulit memperoleh tempat di dalam hati manusia.
Sebenarnya dalam interaksi sosial itu tidak hanya harus terjadi dalam kelompok -kelompok sosial saja, akan tetapi juga dapat terjadi antara dua pribadi bahkan juga bisa terjadi terhadap diri sendiri yakni dalam bentuk self-reaksi atau self-response.

Hal ini dapat diberikan contoh di kalangan anak – anak yaitu misalnya, seorang anak tidak hanya bereaksi terhadap orang lain tetapi juga terhadap dirinya sendiri; isyarat-isyarat suara anak kecil mempunyai efek yang sama baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Hal ini jelas dapat kita saksikan pada anak-anak yang sedang berbicara terhadap dirinya sendiri pada waktu bermain-mai yang punya efek sama terhadap dirinya dan orang lain.[1]

Interaksi adalah sentral dari kehidupan bermasyarakat, kerja sama, demikian pula penelitian masalah interaksi sosial telah memberikan cara yang lebih efektif untuk mengatasinya yaitu dengan memahami prinsip – prinsip yang mendasari banyak masalah sosial tersebut.[2]

Yang dimaksudkan dengan interaksi sosial ialah relasi sosial yang berfungsi, pelbagai jenis relasi sosial dinamis, apakah relasi itu terbentuk antar individu, kelompok dan kelompok, ataukah individu dengan kelompok?
Interaksi mulai bila dua orang bertemu, kemudian biasanya diikuti dengan menukar ucapan selamat, saling bersalaman dan percakapan mulai timbul. Tetapi walaupun tanpa ucapan sepatah kata pun, tanpa menampakkan suatu gerak, telah dimulai juga interaksi itu, karena tiap indera sudah siap siaga, fikiran pun telah terarah dan telah bekerja secara otomatis, walaupun tertutup dan tidak overt (tampak). Didalam semua tanda – tanda ini masing – masing saling menerima impresi, dan impresi inilah merupakan dasar walaupun hanya untuk sementara (temporair), dari lanjutan relasi sosial antara dua orang itu. Jenis / bentuk impressi ikut menentukan reaksi – reaksi lanjutannya.

Demikian juga halnya bila individu menghadapi suatu kelompok. Ia telah ditelaah dalam sekejap oleh kelompok dan ia membentuk suatu impressi. Hal ini sudah lazim dialami oleh para pemimpin besar/kecil pada waktu berpidato/berceramah/bertukar fikiran/berdiskusi, suatu interaksi timbul antara dua kelompok , tidak sebagai perorangan tetapi sebagai keseluruhan kelompok. Dan dapat saling mengadakan analisa, bentuk give and take yang tumbuh agar mereka menggunakan atau merubahnya untuk kepentingan masing – masing.[3]

Manusia sebagai makhluk sosial, tidak mungkin lepas dari pengaruh lingkukannya, dengan kata lain berbicara interaksi sosial, akan menjawab; Bagaimana individu itu berhubungan dengan lingkungan?? Sehingga lebih jauh mengkaji, menganalisis “manusia sebagai makhluk sosial”. Begitu pula membahas social interaction, tentu melibatkan proses penyesuaian diri. Dr. W.A. Gerungan, Dipl. Psych. (1986, 55) menulis; “penyesuaian diri dalam artinya yang pertama disebut penyesuaian diri autoplastis (auto = sendiri, plastis = dibentuk), sedangkan penyesuaian diri yang kedua disebut penyesuaian diri alloplastis (allo = yang lain).” Jadi , penyesuaian diri ada yang bersifat “pasif”, dimana kegiatan kita ditentukan oleh lingkungan, dan ada yang sifatnya ”aktif”, dimana kita atau manusia mempengaruhi lingkungan.
Dalam hal ini, mungkin individu yang satu menyesuaikan diri secara autoplastis (mengubah diri sesuai lingkungannya) kepada individu yang lain, dimana dirinya dipengaruhi orang lain, begitu pula sebaliknya mungkin ia dipengaruhi orang lain, maka terjadi proses penyesuaian diri alloplastis (kegiatan yang dipengaruhi lingkungan sesuai keadaan / keinginan).

Jadi jelaslah bahwa di dalam proses interaksi itu terdapat tindakan saling mempengaruhi antara individu yang satu dengan yang lain, baik individu dalam perorangan ataupun kelompok sosial. Kalau kita kaitkan dengan dakwah, maka dalam dakwah dikenal istilah personal approach dakwah  face to face, sehingga terjadi proses pengaruh – mempengaruhi antara da’i dan mad’u atau sebaliknya. Begitu pula ada istilah general approach atau dakwah secara umum misalnya pengajian disini terjadi proses pengaruh – mempengaruhi antara da’i dan mad’u dalam kelompok sosial. Maka dari itu interaksi sosial erat kaitannya dengan dakwah.[4]

Jadi Interaksi sosial dapat di artikan sebagai suatu bentuk hubungan antara dua orang atau lebih, dimana tingkah laku seseorang diubah oleh tingkah laku yang lain.


B.     Faktor dasar interaksi
Berjalan atau tidaknya interaksi sosial, walaupun dalam bentuknya yakni paling sederhana, yakni dua orang atau lebih yang saling mempengaruhi dalam dakwah, tetap merupakan suatu proses yang kompleks sekali. Ada empat faktor dasar dalam interaksi sosial, yaitu; faktor  imitasi, faktor sugesti,  faktor identifikasi, faktor simpati.
a.      Faktor imitasi

Imitasi adalah faktor dasar dari interaksi sosial yang menyebabkan keseragaman dalam pandangan dan tingkah laku orang banyak. Proses imitasi adalah contoh – mencontoh atau meniru. Imitasi bukan pembawaan tetapi yang harus dipelajari dan merupakan sesuatu yang datang dari lingkungan. Sehingga dapat dikatakan kalau imitasi merupakan proses belajar manusia dalam masyarakat sebagai mematangkan kepribadiannya. Misalnya, kita tempatkan seorang anak belajar berbicara, mula – mula ia akan mengimitasi kata – kata “ba-ba atau la-la” guna melatih fungsi lidah. Imitasi juga dapat mendorong individu atau kelompok untuk melaksanakan perbuatan – perbuatan baik atau dari segi negatif yaitu apabila hal – hal yang di imitasi adalah hal yang salah.

b.      Faktor sugesti

Sugesti adalah suatu proses dimana seorang individu dapat menerima suatu cara penglihatan atau pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Dalam proses sugesti, seorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya yang diterima oleh orang lain di luar dirinya (saling mempengaruhi satu dengan yang lain). Misalnya; ketertarikan, wibawa, dan hambatan berfikir.

c.       Faktor identifikasi

Identifikasi adalah sebuah istilah dalam psikologi Sigmun Freud untuk menguraikan mengenai cara belajar anak mengenai norma – norma sosial dari orang tuanya. Identifikasi berarti kecenderungan atau keinginan dalam diri anak untuk menjadi sama seperti ayah dan ibunya.
Kecenderungan ini bersifat tidak sadar bagi seorang anak. Artinya secara tidak sadar seorang anak akan mengambil sikap – sikap orang tuanya yang dapat ia mengerti mengenai norma – norma dan pedoman tingkah laku sejauh kemampuan yang ada pada anak tersebut.

Proses identifikasi pertama – tama berlangsung secara tidak sadar, kedua secara irasional berdasarkan perasaan dan kecenderungan dirinya yang tidak diperhitungkan secara rasional, ketiga mempunyai kegunaan untuk melengkapi sistem norma, cita – cita, dan pedoman tingkah laku orang yang di identifikasikan itu. Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan yang lain. Misalnya gaya ceramah anak Zainuddin. MZ, sama dengan ( identik ) dengan ceramah sang ayah  yaitu Zainuddin. MZ

d.      Faktor simpati

Simpati dapat di rumuskan sebagai perasaan tertarik pada seseoraqng terhadap orang lain. Seperti hal nya proses identifikasi, simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tapi berdasarkan penilaian perasaan.  Berbeda dengan identifikasi, timbul nya simpati merupakan proses sadar bagi diri manusia yang merasa simpati terlihat dalam hubungan persahabatan antara dua orang atau lebih.

Gejala identifikasi dan simpati sebenarnya sudah berdekatan. Dalam hal simpati, hubungan yang timbal balik akan menghasilkan suatu hubungan kerja sama, di mana individu yang satu ingin lebih mengerti individu yang lain secara lebih mendalam, sehingga individu tersebut dapat merasa berpikir dan bertingkah laku seolah – olah ia adalah individu yang lain. Sedangkan dalam hal identifikasi terdapat suatu hubungan dimana yang satu menghormati dan menjunjung tinggi yang lain, dan ingin belajar padanya karena dianggap ideal. Jadi dalam simpati, dorongan utamanya adalah ingin mengerti dan bekerja sama dengan orang lain, sedangkan dalam identifikasi, dorongan utamanya adalah ingin mengikuti jejak dan ingin belajar dari orang lain.[5]





“ Perbedaan penyesuaian diri Autoplastis dengan Alloplastis “

Sebagai makhluk sosial, dalam kesehariannya manusia tentu tidak bisa hidup tanpa berhubungan dengan yang lainnya. Ketidak berdayaannya mengharuskan manusia berinteraksi dengan sesama atau dengan lingkungan sekitarnya. Interaksi ini menuntut manusia untuk dapat menyesuaikan diri dengan alam atau lingkungan sekitar tempat ia tinggal. Karena kalau interaksi yang dilakukannya itu pasif maka ia akan terpengaruh oleh lingkungan, akan tetapi sebaliknya kalauia aktif maka ia akan bisa mempengaruhi lingkungan.

Manusia sebagai makhluk sosial, tidak mungkin lepas dari pengaruh lingkukannya, dengan kata lain berbicara interaksi sosial, akan menjawab; Bagaimana individu itu berhubungan dengan lingkungan?? Sehingga lebih jauh mengkaji, menganalisis “manusia sebagai makhluk sosial”. Begitu pula membahas social interaction, tentu melibatkan proses penyesuaian diri. Dr. W.A. Gerungan, Dipl. Psych. (1986, 55) menulis; “penyesuaian diri dalam artinya yang pertama disebut penyesuaian diri autoplastis (auto = sendiri, plastis = dibentuk), sedangkan penyesuaian diri yang kedua disebut penyesuaian diri alloplastis (allo = yang lain).” Jadi , penyesuaian diri ada yang bersifat “pasif”, dimana kegiatan kita ditentukan oleh lingkungan, dan ada yang sifatnya ”aktif”, dimana kita atau manusia mempengaruhi lingkungan.

Dalam hal ini, mungkin individu yang satu menyesuaikan diri secara autoplastis (mengubah diri sesuai lingkungannya) kepada individu yang lain, dimana dirinya dipengaruhi orang lain, misalnya pengajian atau khotbah disini terjadi proses pengaruh – mempengaruhi antara da’i dan mad’u dalam kelompok sosial. Maka dari itu interaksi sosial erat kaitannya dengan dakwah.

Sedangkan ketika dirinya dipengaruhi orang lain, atau sebaliknya mungkin ia dipengaruhi orang lain, maka terjadi proses penyesuaian diri alloplastis (kegiatan yang dipengaruhi lingkungan sesuai keadaan / keinginan). Misalnya ketika lingkungan itu mayoritas orang nya berperilaku baik, maka seseorang itu akan mengubah keadaan dengan lingkungan yang baik dan berperilaku baik, dan begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu lingkungan yang positif akan berdampak positif juga bagi kita. Dan sebaliknya lingkungan yang jelek atau negatif akan berdampak negatif juga bagi diri kita.

“ MANFAAT INTERAKSI SOSIAL & KAITANNYA DENGAN DAKWAH “
Dari beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa dapat timbul berbagai dampak dari interaksi timbal-balik antara satu dan yang lainnya, baik dampak positif maupun negatif adapun kaitannya dengan kajian dakwah adalah konsep silaturrahim yang tercantum dalam al – Qur’an :
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”( Qs.an – Nisa )
Dengan adanya silaturahim maka akan mempererat tali persaudaraan antara satu dan yang lainnya, karena silaturahim juga memiliki peranan yang sangat penting dalam menjalin komunikasi yang baik, serta merupakan salah satu metode dalam dakwah yang digunakan untuk menyampaikan suatu pesan kepada mad’u (yang didakwahi) agar pesan dari da’i dapat terserap dengan baik, saat ini banyak sekali cara yang dilakukan para da’i agar dapat berinteraksi langsung dengan mad’u nya, selain itu juga dengan memperluas cakupan interaksi sang da’i juga bisa melebarkan sayapnya untuk menyebarkan ajaran-ajaran islam lebih luas lagi. Selain memperluas ranah dakwah, silaturrahim juga merupakan cara yang paling efektif dibanding cara yang lainnya karena dengan berinteraksi para mad’u bisa melihat da’i itu secara langsung.

Kesimpulan
a.      Pengertian interaksi

Interaksi adalah suatu bentuk hubungan antara dua orang atau lebih dimana tingkah laku seseorang diubah oleh tingkah laku yang lain. Melalui dorongan antar pribadi tersebut seseorang yang bersifat biologis lambat laun berubah menjadi makhluk hidup atau pribadi, proses tersebut berlangsung timbal balik, masing – masing bertindak dalam keseluruhan proses yang mempengaruhi atau menyebabkan yang lain juga bertindak. Interaksi sosial dengan demikian merupakan perilaku timbal balik, suatu perilaku dimana masing – masing individu dalam proses itu mengharapkan dan menyesuaikan diri dengan tindakan yang akan dilakukan orang lain.

Jadi jelslah bahwa di dalam proses interaksi itu terdapat tindakan saling mempengaruhi antara satu individu dengan individu lainnya, sehingga timbul lah kemungkinan – kemungkinan untuk saling mengubah atau memperbaiki perilaku masing- masing secara timbal balik. Perubahan demikian bisa terjadi secara disadari atau tidak sepenuhnya disadari, atau secara perlahan – lahan. Di dalam hubungan interaksional inilah terjadi suatu proses belajar – mengajar diantara manusia.
Di mana di dalam proses dakwah merupakan permulaan yang fundamental bagi sukses nya dakwah itu. Tanpa adanya suatu proses belajar – mengajar maka dakwah sulit memperoleh tempat di dalam hati manusia.

b.      Faktor dasar interaksi
a.       Faktor imitasi
b.      Faktor sugesti
c.       Faktor identifikasi
d.      Faktor simpati


Daftar Pustaka

Arifin, H.M,  Psikologi Dakwah, 1993, Jakarta : Bumi Aksara
Faizah dan Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah, 2006, Jakarta : Prenada Media
Jumantoro, Totok, Psikologi Dakwah dengan aspek – aspek kejiwaan yang Qur’ani, 2001,
Jakarta : Amzah
Kusuma, Widjaja, Pengantar Psikologi , 1969, Jakarta : Interaksara
Partowisastro, Koestoer,  Dinamika Psikologi Sosial, 1983, Jakarta Pusat : Erlangga


[1]. H.M. Arifin, Psikologi Dakwah, Bumi aksara, Jakarta: 1993, Hal. 68-70  
[2] .Drs. Widjaja kusuma, pengantar psikologi , Interaksara, Jakarta: 1969, Hal. 606
[3] . Drs. Koestoer Partowisastro, Dinamika Psikologi Sosial, Erlangga, Jakarta Pusat: 1983, Hal; 10 -11
[4] . Drs. Totok jumantoro, Psikologi Dakwah dengan aspek – aspek kejiwaan yang qur’ani, Amzah, Jakarta: 2001, Hal; 83-86
[5] . Faizah dan Lalu muchsin effendi, Psikologi Dakwah, Prenada media, Jakarta: 2006, Hal; 130-135

ESENSI PSIKOLOGI DAKWAH YANG SUGESTIF

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dakwah merupakan salah satu tanggung jawab seorang da’i yang dilakukan dengan komunikasi atau interaksi secara langsung ataupun tidak langsung terhadap objeknya. Proses dakwah yang berinteraksi secara langsung dengan masyarakat sebagai objeknya menuntut seorang da’i untuk bisa menguasai dan memahami kondisi psikologis audiennya. Karena itulah dibutuhkan psikologi dakwah agar tujuan dari dakwah itu sendiri bisa tepat sesuai dengan sasaran dakwah.
Psikologi dakwah sendiri memiliki esensi yang terletak beberapa factor, salah satunya adalah factor sugestif. Factor sugestif menuntun pada bagaimana seorang da’i harus mampu mengingatkan dan menanamkan kebenaran pada masyarakat sebagai objek dakwahnya. Dari sini dibutuhkan psikologi dakwah yang bisa membantu juru dakwah untuk memahami kondisi objeknya dan mampu mencapai tujuan dakwah dengan tepat sasaran. Oleh karena itu, sebagai bahan rujukan  para juru dakwah, pada makalah ini penulis membahas lebih lanjut tentang bagaimana esensi psikologi dakwah yang sugestif.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.      Apa yang dimaksud dengan psikologi dakwah dan bagaimana esensinya?
2.      Bagaimana esensi psikologi dakwah yang sugestif?

C.    Tujuan Masalah
Adapun tujuan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui tentang psikologi dakwah beserta esensinya.
2.      Untuk mengetahui tentang esensi psikologi dakwah yang sugestif.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Psikologi Dakwah Dan Esensinya
Psikologi dakwah merupakan alat bantu bagi juru dakwah dan para da’i untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang faktor-faktor  psikologis yang mempengaruhi tingkah laku manusia sebagai objek dakwah, agar tujuan dakwah bisa dicapai secara efektif, intensif, atau secara lebih maksimal dan optimal. Dalam penyampaian materi memerlukan orang yang mampu menirukan kebaikan dan ajaran dakwah yang mutlak benar. Uswatun Hasanah ada pada diri Nabi Muhammad SAW, dalam hal ini juru dakwah harus memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat sebagai objeknya, terutama situasi psikologisnya. Contohnya orang kelaparan karena kemiskinan, yang oleh nabi disinyalir  mendekati kekafiran, maka dakwah yang harus dilakukan dalam rangka menyelamatkan mereka agar tidak sampai menjual akidahnya dengan murah. Tentunya mereka lebih memerlukan makanan lahiriyah terlebih dahulu daripada makanan bathiniah atau rohaniah.
Mental, fisik, rohani, social merupakan empat dimensi pertumbuhan yang mempengaruhi manusia dan menjadi sentral tema yang kuat adalah mental manusia. Disinilah terpusat segala penggerak aktivitas manusia. Mental atau tingkah laku mempunyai pengendalian yakni pada kesadarannya yang bersumber dari hati nurani. Oleh sebab itu, sasaran dakwah lebih diarahkan agar menyentuh kalbu dan fitrahnya dalam rangka pembentukan sikap mental atau tingkah laku bermotivasi.
Jadi dapat ditarik kesimpulan tujuan psikologi dakwah adalah sebagai berikut:
1.      Memberi gambaran tentang beberapa aspek psikologis  dan aspek dakwatologis manusia untuk juru dakwah, agar mereka mau membekali dirinya dengan kemampuan-kemampuan teoritis, bagaimana mengaktualisasikan metode-metode dakwah dan mengadaptasikan serta mengintregasikannya kea rah sasaran dakwah sesuai dengan situasi kejiwaan dan kondisi psikisnya.
2.      Memberi pandangan tentang betapa pentingnya memahami materi dakwah sebagai urat nadi kehidupan manusia sehingga teknis operasionalnya dapat disajikan bukan hanya sebagai ilmu yang mati, tetapi dapat didekati secara tradisional atau substansial dan menyangkut proses pengembangan secara konseptual harus terus mengalir ke dalam seluruh pembuluh darah kehidupan kejiwaannya yang akan melahirkan tingkah laku bermotivasi.
3.      Memberi pengertian tentang manusia sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek dakwah dengan segala ciri khas kepribadiannya.
Dakwah sebenarnya adalah suatu proses pembentukan watak manusia. Maka dalam rangka pembentukan itu dakwah menempuh pendekatan-pendekatan psikologis agar lebih memungkinkan bisa cepat sampai ke tujuan.[1]
Dengan demikian psikologi dakwah merupakan alat bantu bagi juru dakwah untuk memperoleh pengertian yang lebih untuk menyampaikan materi dakwah kepada sasaran agar mampu memberi dorongan, mengadakan perubahan, mengingatkan dan mengarahkan serta memberi keyakinan kepada tujuan dakwah. Maka esensi psikologi dakwah adalah terletak pada adanya beberapa faktor yang antara lain:
a.      Edukatif
Juru dakwah bersifat edukatif apabila bertindak sebagai pendidik (edukator) dan bersikap sebagai guru.
b.      Materi dakwah
Materi harus disajikan sesuai dengan aspek-aspek dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan cara tiap individu menerima dan memahaminya dengan tujuan yang hendak dicapai, dan disajikan secara metodologis.


c.       Metode dakwah
Serupa dengan metode pendidikan, juru dakwah harus menguasai bermacam-macam metode dan terampil menggunakanya, komunikatif dan memperhitungkan kendala-kendalanya atau hambatan-hambatan psikologis dalam menerapkan suatu metode.
d.      Motivatif
Juru dakwah sebagai motivator harus mengerti bahwa motif ini muncul sebagai latar belakang dari seluruh tingkah laku manusia yang timbul karena adanya dorongan kebutuhan yang muncul setiap saat.
e.       Sugestif
f.       Persuasive
Persuasi dalam dakwah adalah seni dan ilmu tentang menghimbau secara ekstralogis untuk menjamin keputusan yang diinginkan dengan prinsip-prinsip argumentasi.[2]

B.     Esensi Psikologi Dakwah Yang Sugestif
Sugestif  artinya memberi sugesti, mengingatkan dan menanamkan kepada sesuatu. Dalam  hal ini sugesti dapat dirumuskan sebagai suatu proses di mana seseorang menerima begitu saja suatu cara atau pedoman tingkah lakunya dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu.
Sugestif akan mudah terjadi pada manusia suggestible, dalam keadaan:
1.      Karena hambatan berpikir, baik oleh faktor-faktor fisiologis maupun psikologis.
Manusia cenderung mudah untuk menerima apapun yang datang dari orang lain ketika dia merasa kesulitan untuk memikirkan terlebih dahulu, baik buruknya, atau apapun yang berkaitan dengan sesuatu yang diberikan padanya. Baik karena factor fisiologis seperti kurangnya kemampuan berpikir seseorang yang sudah menjadi suatu kekurangan atau penyakit pada dirinya, sehingga dia tidak mampu berpikir lebih banyak karena takut akan mempengaruhi kesehatannya. Ataupun karena factor psikologis seperti tekanan dari luar yang datang pada diri seseorang yang secara tidak langsung bisa mempengaruhi pola pikirnya dan membuatnya sulit untuk berpikir lebih jauh tentang apa yang dihadapkan padanya. Melakukan dakwah dan menanamkan materi dakwah pada seseorang yang sedang menghadapi sebuah masalah dan mendapatkan tekanan pada dirinya, akan lebih mudah daripada dakwah pada seseorang dalam keadaan psikis dan fisiologis yang bagus.
2.      Karena disosiasi (pikiran terpecah-pecah).
Seseorang yang sedang memikirkan banyak hal pada satu waktu akan mengalami kesulitan untuk memikirkan sesuatu secara lebih optimal. Karena dalam memikirkan satu hal akan terdesak oleh hal lain sebelum hal yang pertama selesai dipikirkan. Dia tidak akan bisa fokus pada satu hal yang bisa mengakibatkan dirinya dengan mudah menerima sugesti dari orang lain. Karena selain tidak bisa maksimal dalam mempertimbangkan sesuatu, dia juga merasa bahwa dengan menerima sugesti tersebut maka akan meringankan pikirannya akan satu hal. Dan dia bisa memikirkan hal lain yang belum terselesaikan. Hampir sama dengan penjelasan sebelumnya bahwa memberikan materi dakwah pada seseorang yang pikirannya sedang kacau oleh banyak hal akan lebih mudah untuk diterima.[3]
3.      Karena otoritas dan prestise, pakar dan reputasi, kharisma dari sugestif sendiri.
Seseorang bisa dengan mudah menerima sugesti dari orang lain bukan hanya karena kondisi fisiologis atau psikis yang ada pada dirinya, tapi juga bisa dikarenakan nilai yang terkandung dari sugesti itu sendiri. Jika sugesti itu mempunyai nilai yang tinggi di dalamnya, dan diberikan oleh seseorang yang sudah ahli, pakar di bidangnya, maka tanpa pikir panjang sugesti itu akan langsung tertanam pada diri seseorang tanpa perlu berpikir panjang lagi tentang baik buruknya sugesti tersebut. Oleh karena itu, dalam memberikan sebuah sugesti, jangan hanya melihat kondisi objek tujuan atau hanya mementingkan siapa yang harus memberikannya, tapi penting untuk diingat bahwa isi dari sugesti itu juga harus bernilai dan berbobot. Hal ini berkaitan dengan materi dakwah yang disampaikan, perlu diperhatikan karena materi dakwah yang disampaikan juga perlu dipertanggungjawabkan kebenaran dan kandungannya.
4.      Karena opini publik, mayoritas dan popularitas.
Manusia cenderung lebih suka meniru, terutama jika hal itu sudah dilakukan banyak orang. Dengan kata lain, manusia dalam hidupnya tidak mau merasa ketinggalan jaman. Ketika seseorang menyadari betapa banyaknya orang yang menganut suatu sugesti, maka dia tidak ingin ketinggalan untuk ikut menerimanya. Karena dia berpikir bahwa jika sugesti itu sudah diterima oleh banyak orang, artinya sugesti itu adalah sugesti yang baik dan pantas untuk diterima, tanpa perlu memikirkan lagi baik buruknya dari sugesti itu. Jika sebuah materi dakwah yang disampaikan sudah dipercayai dan dianut oleh banyak orang, maka tidak susah untuk membuat orang lain mau menerima apa yang sudah terbukti diikuti oleh banyak orang. [4]
5.      Karena will to be believe (ingin meyakinkan diri).
Seseorang yang sedang mengalami keraguan pada seseuatu akan mencari sumber atau pembelaan lain agar bisa meyakinkan dirinya. Ketika dia menemukan pandangan dan sugesti yang mendukung pada apa yang sebenarnya sudah dipegangnya, maka tanpa pikir panjang dia akan lebih yakin pada hal yang sudah dipikirkannya tersebut dan dengan mudah menerima sugesti yang datang pada dirinya untuk membuatnya lebih yakin. Seseorang yang masih merasa ragu tentang sesuatu yang berhubungan dengan keyakinannya (agamanya), maka dia akan mencari seseorang yang mampu memberikan pandangan yang lebih meyakinkan dengan menanamkan materi-materi dakwah agar tidak ada keraguan lagi pada dirinya.

Dengan demikian, maka juru dakwah sebagai sugestif mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk dapat memanfaatkan situasi-situasi dan menggunakan kondisi-kondisi yang tepat untuk menimbulkan sugesti massa agar pikiran, perasaan dan kehendak mereka bisa terpengaruh dengan keyakinan terhadap apa yang menjadi tujuan dakwah. Materi dakwah dipilh secara tepat dengan memanfaatkan sugesti untuk menyembuhkan gejala-gejala neurotic, memelihara suatu keyakinan, yang sesuai dengan sasaran dakwah. Metode dakwah digunakan sebagai cara bagaimana menanamkan suatu sugesti, artinya untuk mengubah minat dan kesadaran bahwa suatu masalah mengandung sangkut paut dengan dirinya.[5]
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pada dasarnya psikologi dakwah merupakan alat bantu bagi juru dakwah dan para da’i untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang faktor-faktor  psikologis yang mempengaruhi tingkah laku manusia sebagai objek dakwah, agar tujuan dakwah bisa dicapai secara efektif, intensif, atau secara lebih maksimal dan optimal. Setidaknya psikologi dakwah dijadikan sebuah pegangan oleh para juru dakwah agar proses dakwah bisa terjadi secara lancar. Adapun esensi dari psikologi dakwah sendiri terletak pada adanya beberapa factor, salah satunya adalah factor sugestif.
Esensi psikologi dakwah yang sugestif merujuk pada tanggung jawab yang harus dijalani para juru dakwah untuk mampu memanfaatkan situasi-situasi dan menggunakan kondisi-kondisi yang tepat untuk menimbulkan sugesti massa agar pikiran, perasaan dan kehendak mereka bisa terpengaruh dengan keyakinan terhadap apa yang menjadi tujuan dakwah. Caranya dengan mempelajari dan memahami bagaimana saja kondisi objek dakwah yang bisa menerima sugesti secara mudah.

B.     Saran
Para juru dakwah hendaknya mempunyai bekal berupa penguasaan dan pemahaman tentang psikologi dakwah agar tujuan dakwah bisa tercapai dengan baik. Selain itu, factor sugestif dalam esensi psikologi dakwah perlu diterapkan dengan tetap memperhatikan kondisi objek dakwah, materi dakwah dan metode dakwahnya.
DAFTAR PUSTAKA


Ancok, Jamaluddin dan Fuad Nasori Suroso. 1994. Psikologi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Arifin, M. 1991. Psikologi Dakwah. Jakarta: Bumi Aksara

Arifin, M. 1997. Psikologi Dakwah Suatu Pengantar. Jakarta: Bulan Bintang

Kafie, Jamaluddin. 1993. Psikologi Dakwah. Surabaya: Offset Indah

Mubarok, Achmad. 1997. Psikologi Dakwah. Jakarta: Pustaka Firdaus


[1] Jamaluddin, Ancok dan Fuad Nasori Suroso. Psikologi Islam hal: 21
[2] M. Arifin. Psikologi Dakwah. Hal: 47
[3] Ibid hal: 76
[4] Jamaluddin Kafie. Psikologi Dakwah. Hal: 31

[5] Achmad Mubarok. Psikologi Dakwah. Hal: 69


Dari Ruang Kelas Menuju Indonesia Berdaulat: Ketika Guru, Teknologi, dan Kecerdasan Artifisial Menjadi Mitra Pembelajaran Berkarakter

Pendahuluan Indonesia sedang memasuki babak baru dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, terutama hadirnya...