Tampilkan postingan dengan label managemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label managemen. Tampilkan semua postingan
Senin, 09 Maret 2015
Senin, 03 Desember 2012
Manajemen Waktu
Bagi seorang mahasiswa memang sangat disarankan untuk bisa memanfaatkan waktu, mengatur berbagai jadwal kuliyah dan jadwal kegiatan sebagaimana dapat kita analisis dari definisi menurut Mary Parker Follet yg dikutip oleh Handoko (2000:8) manajemen merupakan seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yg mungkin diperlukan.
Kamis, 15 November 2012
INTERAKSI DALAM DAKWAH
A.
Pengertain
Interaksi
Salah satu naluri manusia sebagai makhluk sosial
adalah kecenderungan untuk hidup berkelompok atau bermasyarakat yang disebut instink gregarious. Dan salah satu
bentuk manifestasi dari kecenderungan naluriah tersebut adalah apa yang disebut
oleh para ahli psikologi dengan interaksi sosial. Hubert Bonner memberikan
pembatasan sebagai berikut :
“ Social interaction is type
of relationship between two or more
person in which the behavior of one is modified by the behavior of the other. Through interpersonal stimulations
and response the bioligical individual is slowly changed into a human being or
personality, the process may go on back and forth, each act in the total
process suggesting or bringing out still another act. Social interaction is reciprocal
action, action in which each individual in the process anticipates and adjusts
to the oncoming act of the other. ”
Dengan demikian maka Interaksi adalah suatu bentuk
hubungan antara dua orang atau lebih dimana tingkah laku seseorang diubah oleh
tingkah laku yang lain. Melalui dorongan antar pribadi tersebut seseorang yang
bersifat biologis lambat laun berubah menjadi makhluk hidup atau pribadi,
proses tersebut berlangsung timbal balik, masing – masing bertindak dalam
keseluruhan proses yang mempengaruhi atau menyebabkan yang lain juga bertindak.
Interaksi sosial dengan demikian merupakan perilaku timbal balik, suatu
perilaku dimana masing – masing individu dalam proses itu mengharapkan dan
menyesuaikan diri dengan tindakan yang akan dilakukan orang lain.
Jadi jelslah bahwa di dalam proses interaksi itu
terdapat tindakan saling mempengaruhi antara satu individu dengan individu
lainnya, sehingga timbul lah kemungkinan – kemungkinan untuk saling mengubah
atau memperbaiki perilaku masing- masing secara timbal balik. Perubahan
demikian bisa terjadi secara disadari atau tidak sepenuhnya disadari, atau secara
perlahan – lahan. Di dalam hubungan interaksional inilah terjadi suatu proses
belajar – mengajar diantara manusia.
di mana di dalam proses dakwah merupakan permulaan
yang fundamental bagi sukses nya dakwah itu. Tanpa adanya suatu proses belajar
– mengajar maka dakwah sulit memperoleh tempat di dalam hati manusia.
Sebenarnya
dalam interaksi sosial itu tidak hanya harus terjadi dalam kelompok -kelompok
sosial saja, akan tetapi juga dapat terjadi antara dua pribadi bahkan juga bisa
terjadi terhadap diri sendiri yakni dalam bentuk self-reaksi atau
self-response.
Hal ini dapat diberikan contoh di kalangan anak –
anak yaitu misalnya, seorang anak tidak hanya bereaksi terhadap orang lain
tetapi juga terhadap dirinya sendiri; isyarat-isyarat suara anak kecil
mempunyai efek yang sama baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang
lain. Hal ini jelas dapat kita saksikan pada anak-anak yang sedang berbicara
terhadap dirinya sendiri pada waktu bermain-mai yang punya efek sama terhadap
dirinya dan orang lain.[1]
Interaksi adalah sentral dari kehidupan
bermasyarakat, kerja sama, demikian pula penelitian masalah interaksi sosial
telah memberikan cara yang lebih efektif untuk mengatasinya yaitu dengan
memahami prinsip – prinsip yang mendasari banyak masalah sosial tersebut.[2]
Yang dimaksudkan dengan interaksi sosial ialah
relasi sosial yang berfungsi, pelbagai jenis relasi sosial dinamis, apakah
relasi itu terbentuk antar individu, kelompok dan kelompok, ataukah individu
dengan kelompok?
Interaksi mulai bila dua orang bertemu, kemudian
biasanya diikuti dengan menukar ucapan selamat, saling bersalaman dan
percakapan mulai timbul. Tetapi walaupun tanpa ucapan sepatah kata pun, tanpa
menampakkan suatu gerak, telah dimulai juga interaksi itu, karena tiap indera
sudah siap siaga, fikiran pun telah terarah dan telah bekerja secara otomatis,
walaupun tertutup dan tidak overt (tampak). Didalam semua tanda – tanda ini
masing – masing saling menerima impresi, dan impresi inilah merupakan dasar
walaupun hanya untuk sementara (temporair), dari lanjutan relasi sosial antara
dua orang itu. Jenis / bentuk impressi ikut menentukan reaksi – reaksi
lanjutannya.
Demikian juga halnya bila individu menghadapi suatu
kelompok. Ia telah ditelaah dalam sekejap oleh kelompok dan ia membentuk suatu
impressi. Hal ini sudah lazim dialami oleh para pemimpin besar/kecil pada waktu
berpidato/berceramah/bertukar fikiran/berdiskusi, suatu interaksi timbul antara
dua kelompok , tidak sebagai perorangan tetapi sebagai keseluruhan kelompok.
Dan dapat saling mengadakan analisa, bentuk give
and take yang tumbuh agar mereka
menggunakan atau merubahnya untuk kepentingan masing – masing.[3]
Manusia sebagai makhluk sosial, tidak mungkin lepas
dari pengaruh lingkukannya, dengan kata lain berbicara interaksi sosial, akan
menjawab; Bagaimana individu itu berhubungan dengan lingkungan?? Sehingga lebih
jauh mengkaji, menganalisis “manusia sebagai makhluk sosial”. Begitu pula
membahas social interaction, tentu
melibatkan proses penyesuaian diri. Dr. W.A. Gerungan, Dipl. Psych. (1986, 55)
menulis; “penyesuaian diri dalam artinya yang pertama disebut penyesuaian diri
autoplastis (auto = sendiri, plastis = dibentuk), sedangkan penyesuaian diri
yang kedua disebut penyesuaian diri alloplastis (allo = yang lain).” Jadi ,
penyesuaian diri ada yang bersifat “pasif”, dimana kegiatan kita ditentukan
oleh lingkungan, dan ada yang sifatnya ”aktif”, dimana kita atau manusia mempengaruhi lingkungan.
Dalam hal ini, mungkin individu yang satu
menyesuaikan diri secara autoplastis (mengubah diri sesuai lingkungannya)
kepada individu yang lain, dimana dirinya dipengaruhi orang lain, begitu pula
sebaliknya mungkin ia dipengaruhi orang lain, maka terjadi proses penyesuaian
diri alloplastis (kegiatan yang dipengaruhi lingkungan sesuai keadaan /
keinginan).
Jadi jelaslah bahwa di dalam proses interaksi itu
terdapat tindakan saling mempengaruhi antara individu yang satu dengan yang
lain, baik individu dalam perorangan ataupun kelompok sosial. Kalau kita
kaitkan dengan dakwah, maka dalam dakwah dikenal istilah personal approach dakwah face to face, sehingga terjadi proses
pengaruh – mempengaruhi antara da’i dan mad’u atau sebaliknya. Begitu pula ada
istilah general approach atau dakwah
secara umum misalnya pengajian disini terjadi proses pengaruh – mempengaruhi
antara da’i dan mad’u dalam kelompok sosial. Maka dari itu interaksi sosial
erat kaitannya dengan dakwah.[4]
Jadi Interaksi sosial dapat di artikan sebagai suatu
bentuk hubungan antara dua orang atau lebih, dimana tingkah laku seseorang
diubah oleh tingkah laku yang lain.
B.
Faktor
dasar interaksi
Berjalan atau tidaknya interaksi sosial, walaupun
dalam bentuknya yakni paling sederhana, yakni dua orang atau lebih yang saling
mempengaruhi dalam dakwah, tetap merupakan suatu proses yang kompleks sekali.
Ada empat faktor dasar dalam interaksi sosial, yaitu; faktor imitasi, faktor sugesti, faktor identifikasi, faktor simpati.
a.
Faktor
imitasi
Imitasi adalah faktor dasar
dari interaksi sosial yang menyebabkan keseragaman dalam pandangan dan tingkah
laku orang banyak. Proses imitasi adalah contoh – mencontoh atau meniru.
Imitasi bukan pembawaan tetapi yang harus dipelajari dan merupakan sesuatu yang
datang dari lingkungan. Sehingga dapat dikatakan kalau imitasi merupakan proses
belajar manusia dalam masyarakat sebagai mematangkan kepribadiannya. Misalnya,
kita tempatkan seorang anak belajar berbicara, mula – mula ia akan mengimitasi
kata – kata “ba-ba atau la-la” guna melatih fungsi lidah. Imitasi juga dapat
mendorong individu atau kelompok untuk melaksanakan perbuatan – perbuatan baik
atau dari segi negatif yaitu apabila hal – hal yang di imitasi adalah hal yang
salah.
b.
Faktor
sugesti
Sugesti adalah suatu proses
dimana seorang individu dapat menerima suatu cara penglihatan atau pedoman
tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Dalam proses
sugesti, seorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya yang diterima
oleh orang lain di luar dirinya (saling mempengaruhi satu dengan yang lain).
Misalnya; ketertarikan, wibawa, dan hambatan berfikir.
c.
Faktor
identifikasi
Identifikasi adalah sebuah
istilah dalam psikologi Sigmun Freud untuk menguraikan mengenai cara belajar anak
mengenai norma – norma sosial dari orang tuanya. Identifikasi berarti
kecenderungan atau keinginan dalam diri anak untuk menjadi sama seperti ayah
dan ibunya.
Kecenderungan ini bersifat tidak sadar bagi seorang
anak. Artinya secara tidak sadar seorang anak akan mengambil sikap – sikap
orang tuanya yang dapat ia mengerti mengenai norma – norma dan pedoman tingkah
laku sejauh kemampuan yang ada pada anak tersebut.
Proses identifikasi pertama –
tama berlangsung secara tidak sadar, kedua secara irasional berdasarkan
perasaan dan kecenderungan dirinya yang tidak diperhitungkan secara rasional,
ketiga mempunyai kegunaan untuk melengkapi sistem norma, cita – cita, dan
pedoman tingkah laku orang yang di identifikasikan itu. Identifikasi dalam
psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan yang lain.
Misalnya gaya ceramah anak Zainuddin. MZ, sama dengan ( identik ) dengan
ceramah sang ayah yaitu Zainuddin. MZ
d.
Faktor
simpati
Simpati dapat di rumuskan
sebagai perasaan tertarik pada seseoraqng terhadap orang lain. Seperti hal nya
proses identifikasi, simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tapi
berdasarkan penilaian perasaan. Berbeda
dengan identifikasi, timbul nya simpati merupakan proses sadar bagi diri
manusia yang merasa simpati terlihat dalam hubungan persahabatan antara dua
orang atau lebih.
Gejala identifikasi dan simpati
sebenarnya sudah berdekatan. Dalam hal simpati, hubungan yang timbal balik akan
menghasilkan suatu hubungan kerja sama, di mana individu yang satu ingin lebih
mengerti individu yang lain secara lebih mendalam, sehingga individu tersebut
dapat merasa berpikir dan bertingkah laku seolah – olah ia adalah individu yang
lain. Sedangkan dalam hal identifikasi terdapat suatu hubungan dimana yang satu
menghormati dan menjunjung tinggi yang lain, dan ingin belajar padanya karena
dianggap ideal. Jadi dalam simpati, dorongan utamanya adalah ingin mengerti dan
bekerja sama dengan orang lain, sedangkan dalam identifikasi, dorongan utamanya
adalah ingin mengikuti jejak dan ingin belajar dari orang lain.[5]
“ Perbedaan
penyesuaian diri Autoplastis dengan Alloplastis “
Sebagai
makhluk sosial, dalam kesehariannya manusia tentu tidak bisa hidup tanpa
berhubungan dengan yang lainnya. Ketidak berdayaannya mengharuskan manusia
berinteraksi dengan sesama atau dengan lingkungan sekitarnya. Interaksi ini
menuntut manusia untuk dapat menyesuaikan diri dengan alam atau lingkungan
sekitar tempat ia tinggal. Karena kalau interaksi yang dilakukannya itu pasif
maka ia akan terpengaruh oleh lingkungan, akan tetapi sebaliknya kalauia aktif
maka ia akan bisa mempengaruhi lingkungan.
Manusia sebagai makhluk sosial, tidak mungkin lepas
dari pengaruh lingkukannya, dengan kata lain berbicara interaksi sosial, akan
menjawab; Bagaimana individu itu berhubungan dengan lingkungan?? Sehingga lebih
jauh mengkaji, menganalisis “manusia sebagai makhluk sosial”. Begitu pula
membahas social interaction, tentu melibatkan proses penyesuaian diri. Dr. W.A.
Gerungan, Dipl. Psych. (1986, 55) menulis; “penyesuaian diri dalam artinya yang
pertama disebut penyesuaian diri autoplastis (auto = sendiri, plastis =
dibentuk), sedangkan penyesuaian diri yang kedua disebut penyesuaian diri
alloplastis (allo = yang lain).” Jadi , penyesuaian diri ada yang bersifat
“pasif”, dimana kegiatan kita ditentukan oleh lingkungan, dan ada yang sifatnya
”aktif”, dimana kita atau manusia
mempengaruhi lingkungan.
Dalam hal ini, mungkin individu yang satu
menyesuaikan diri secara autoplastis (mengubah diri sesuai lingkungannya)
kepada individu yang lain, dimana dirinya dipengaruhi orang lain, misalnya
pengajian atau khotbah disini terjadi proses pengaruh – mempengaruhi antara
da’i dan mad’u dalam kelompok sosial. Maka dari itu interaksi sosial erat
kaitannya dengan dakwah.
Sedangkan ketika dirinya dipengaruhi orang lain,
atau sebaliknya mungkin ia dipengaruhi orang lain, maka terjadi proses
penyesuaian diri alloplastis (kegiatan yang dipengaruhi lingkungan sesuai
keadaan / keinginan). Misalnya ketika lingkungan itu mayoritas orang nya
berperilaku baik, maka seseorang itu akan mengubah keadaan dengan lingkungan
yang baik dan berperilaku baik, dan begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu lingkungan yang
positif akan berdampak positif juga bagi kita. Dan sebaliknya lingkungan yang
jelek atau negatif akan berdampak negatif juga bagi diri kita.
“ MANFAAT INTERAKSI SOSIAL & KAITANNYA
DENGAN DAKWAH “
Dari
beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa dapat timbul berbagai
dampak dari interaksi timbal-balik antara satu dan yang lainnya, baik dampak
positif maupun negatif adapun kaitannya dengan kajian dakwah adalah konsep silaturrahim
yang tercantum dalam al – Qur’an :
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu
yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah
menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan
silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”( Qs.an –
Nisa )
Dengan
adanya silaturahim maka akan mempererat tali persaudaraan antara satu dan yang
lainnya, karena silaturahim juga memiliki peranan yang sangat penting dalam
menjalin komunikasi yang baik, serta merupakan salah satu metode dalam dakwah
yang digunakan untuk menyampaikan suatu pesan kepada mad’u (yang didakwahi)
agar pesan dari da’i dapat terserap dengan baik, saat ini banyak sekali cara
yang dilakukan para da’i agar dapat berinteraksi langsung dengan mad’u nya,
selain itu juga dengan memperluas cakupan interaksi sang da’i juga bisa melebarkan
sayapnya untuk menyebarkan ajaran-ajaran islam lebih luas lagi. Selain
memperluas ranah dakwah, silaturrahim juga merupakan cara yang paling efektif
dibanding cara yang lainnya karena dengan berinteraksi para mad’u bisa melihat
da’i itu secara langsung.
Kesimpulan
a.
Pengertian
interaksi
Interaksi adalah suatu bentuk hubungan antara dua
orang atau lebih dimana tingkah laku seseorang diubah oleh tingkah laku yang
lain. Melalui dorongan antar pribadi tersebut seseorang yang bersifat biologis
lambat laun berubah menjadi makhluk hidup atau pribadi, proses tersebut
berlangsung timbal balik, masing – masing bertindak dalam keseluruhan proses
yang mempengaruhi atau menyebabkan yang lain juga bertindak. Interaksi sosial
dengan demikian merupakan perilaku timbal balik, suatu perilaku dimana masing –
masing individu dalam proses itu mengharapkan dan menyesuaikan diri dengan
tindakan yang akan dilakukan orang lain.
Jadi jelslah bahwa di dalam proses interaksi itu
terdapat tindakan saling mempengaruhi antara satu individu dengan individu
lainnya, sehingga timbul lah kemungkinan – kemungkinan untuk saling mengubah
atau memperbaiki perilaku masing- masing secara timbal balik. Perubahan
demikian bisa terjadi secara disadari atau tidak sepenuhnya disadari, atau secara
perlahan – lahan. Di dalam hubungan interaksional inilah terjadi suatu proses
belajar – mengajar diantara manusia.
Di mana di dalam proses dakwah merupakan permulaan
yang fundamental bagi sukses nya dakwah itu. Tanpa adanya suatu proses belajar
– mengajar maka dakwah sulit memperoleh tempat di dalam hati manusia.
b.
Faktor
dasar interaksi
a.
Faktor imitasi
b.
Faktor sugesti
c.
Faktor identifikasi
d.
Faktor simpati
Daftar Pustaka
Arifin,
H.M, Psikologi
Dakwah, 1993, Jakarta : Bumi Aksara
Faizah
dan Lalu Muchsin Effendi, Psikologi
Dakwah, 2006, Jakarta : Prenada Media
Jumantoro,
Totok, Psikologi Dakwah dengan aspek –
aspek kejiwaan yang Qur’ani, 2001,
Jakarta
: Amzah
Kusuma,
Widjaja, Pengantar Psikologi , 1969,
Jakarta : Interaksara
Partowisastro,
Koestoer, Dinamika Psikologi Sosial, 1983, Jakarta Pusat : Erlangga
[1]. H.M. Arifin, Psikologi
Dakwah, Bumi aksara, Jakarta: 1993, Hal. 68-70
[2] .Drs. Widjaja kusuma, pengantar
psikologi , Interaksara, Jakarta: 1969, Hal. 606
[3] . Drs. Koestoer Partowisastro, Dinamika
Psikologi Sosial, Erlangga, Jakarta Pusat: 1983, Hal; 10 -11
[4] . Drs. Totok jumantoro, Psikologi
Dakwah dengan aspek – aspek kejiwaan yang qur’ani, Amzah, Jakarta: 2001,
Hal; 83-86
[5] . Faizah dan Lalu muchsin effendi, Psikologi Dakwah, Prenada media, Jakarta: 2006, Hal; 130-135
Selasa, 28 Agustus 2012
MSDM (Tahap Awal)
DEFINISI MSDM
Definisi msdm
adalah suatu ilmu atau cara bagaimana mengatur hubungan dan peranan sumber daya
(tenaga kerja) yang dimiliki oleh individu secara efisien dan efektif serta
dapat digunakan secara maksimal, sehingga tercapai tujuan (goal) bersama
perusahaan, karyawan dan masyarakat menjadi maksimal.
Kajian MSDM
menggabungkan beberapa bidang ilmu seperti psikologi, sosiologi, dll.
Unsur MSDM
adalah manusia.[1]
Manajemen sumber
daya manusia melibatkan semua keputusan dan praktik manajemen yang memengaruhi
secara langsung sumber daya manusianya.[2]
TUJUAN MANAJEMEN
SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) SEBAGAI KUALITAS YANG TEPAT
Tujuan manajemen sumber daya manusia adalah memperbaiki kontribusi
produktif orang-orang atau tenaga kerja terhadap organisasi atau perusahaan
dengan cara yang bertanggungjawab secara strategis, etis dan sosial. Para
manajer dan departemen sumber daya manusia mencapai maksud mereka dengan
memenuhi tujuannya.
Tujuan manajemen sumber daya manusia tidak hanya mencerminkan kehendak
manajemen senior, tetapi juga harus menyeimbangkan tantangan organisasi, fungsi
sumber daya manusia dan orang-orang terpengaruh. Kegagalan melakukan tugas itu
dapat merusak kinerja, produktifitas, laba, bahkan kelangsungan hidup
organisasi atau perusahaan.
4 (Empat) tujuan
manajemen SDM adalah sebagai berikut:
a. Tujuan Sosial
Tujuan sosial manajemen sumber daya manusia adalah agar organisasi atau
perusahaan bertanggungjawab secara sosial dan etis terhadap keutuhan dan
tantangan masyarakat dengan meminimalkan dampak negatifnya.
b. Tujuan
Organisasional
Tujuan organisasional adalah sasaran formal yang dibuat untuk membantu
organisasi mencapai tujuannya.
c. Tujuan
Fungsional
Tujuan fungsional adalah tujuan untuk mempertahankan kontribusi
departemen sumber daya manusia pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan
organisasi.
d. Tujuan
Individual
Tujuan
individual adalah tujuan pribadi dari tiap anggota organisasi atau perusahaan
yang hendak mencapai melalui aktivitasnya dalam organisasi.
1. Tujuan
Perusahaan
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang menentukan
efektifitas dan produktifitas organisasional. Intervering Variabel
menggambarkan kondisi internal perusahaan yang terlihat dari komitmen terhadap
tujuan perusahaan, motivasi, moral dan keahlian dalam kepemimpinan, komunikasi,
penyelesaian konflik, pengendalian keputusan, dan pemecahan masalah.
Departemen
sumber daya manusia meningkatkan efektifitas organisasional dengan cara:
a) Menyediakan
tenaga kerja yang terlatih dan bermotivasi tinggi.
b)
Mendayagunakan tenaga kerja secara efisien dan efektif.
c) Mengembangkan
kualitas kerja dengan membuka kesempatan bagi terwujudnya aktualisasi diri
karyawan.
d) Menyediakan
kesempatan kerja yang sama bagi setiap orang, lingkungan kerja yang sehat dan
aman, dan memberikan perlindungan terhadap hak-hak karyawan.
e)
Mensosialisasikan kebijakan SDM kepada semua karyawan.
Keberhasilan
semua jenis organisasi pada dasarnya bergantung pada keahlian dan kemampuan
komunitas para karyawan yang membentuknya. Kunci kelangsungan hidup organisasi
terletak pada efektifitas organisasi dalam membina dan memanfaatkan keahlian
keryawan dengan berusaha meminimalkan kelemahan mereka. Efektifitas
organisasional bergantung pada efektifitas SDM-nya.
Tujuan dari
suatu perusahaan terkait dengan adanya SDM diantaranya yaitu:
1. Produktifitas
Dengan SDM yang
berkualitas maka akan membuat suatu perusahaan produktifitas yang baik.
2. Laba (Profit)
Laba merupakan
ukuran aktifitas yang paling umum dan luas. Seiringnya laba yang dijadikan
tujuan utama suatu perusahaan bisnis menyebabkan banyaknya ukuran yang
dikembangkan untuk menghitung perbandingan antara input dan output. Bahkan
sistem akuntansi keuangan terus menerus menyajikan laba sebagai produknya untuk
konsumsi, baik pemakai intern maupun ekstern laporan keuangan. Sebagai akibatnya,
kita akan banyak mengenal ukuran prestasi kerja yang mempergunakan laba sebagai
basis pengukuran, yakni diantaranya income before tax dank ex income.
2. Visi/ Misi/
Strategi Perusahaan
Manajemen harus
memberikan arah pada lembaga yang dikelolanya. Ia harus memberikan visi/ misi/
strategi lembaga/ perusahaan itu, menetapkan sasaran-sasaran, dan
mengorganisasikan sumber-sumber daya yang ada untuk tujuan-tujuan yang telah
digariskan oleh lembaga tersebut.
Selain sebagai
seni, manajemen juga sebagai proses untuk mencapai tujuan organisasi. Sebagai
proses untuk mencapainya diperlukan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang
konsisten, dan pengendalian yang continue agar tujuan yang diinginkan dapat
dicapai dengan efisien dan efektif.
Efisien adalah
suatu keadaan khusus penyelesaian suatu pekerjaan dilaksanakan secara tepat dan
akurat tanpa membuang waktu, tenaga, dan biaya. Seorang manajer yang efisien
adalah manajer yang dapat mencapai hasil kerja yang maksimal dengan menggunakan
sumber daya yang terbatas menurut cara-cara yang benar. Sedangkan efektif
adalah suatu keadaan dalam memilih cara dan peralatan yang digunakan dengan
tepat sehingga tujuan yang diinginkan dapat dicapai dengan hasil yang
memuaskan. Jelaslah bahwa manajemen adalah suatu kerja sama dari orang-orang
atau kelompok orang untuk mencapai suatu tujuan yang telah disepakati bersama
dengan cara-cara yang sistematis, efisien, dan efektif.
Asset yang
paling penting yang harus dimiliki oleh organisasi atau perusahaan dan harus
diperhatikan dalam manajemen terkait dengan visi/ misi/ strategi perusahaan
adalah tenaga kerja atau manusia (SDM) terminology SDM (human resources)
menunjuk kepada orang-orang yang bekerja di dalam organisasi. Tatkala pada
manajer terlibat dalam aktivitas SDM sebagai bagian dari pekerjaannya, mereka
berupaya memotifasi kontribusi yang didasarkan oleh orang-orang untuk mencapai
rencana dan strategi organisasi.
Signifikasi SDM
bermuara pada kenyataan bahwa manusia merupakan elemen yang senantiasa ada di
dalam organisasi. Mereka inilah yang bekerja membuat tujuan, mengadakan inovasi
dan mencapai tujuan organisasi.
Organisasi atau
perusahaan bisnis dikelola oleh orang-orang secara kolektif. Tanpa ada
orang-orang yang memiliki komitmen maka organisasi atau perusahaan tidak akan
dapat berjalan. Permasalahan yang berkaitan dengan orang-orang atau karyawan
kerap kali berakar dari manajemen yang mengasumsikan bahwa semua yang ada pada
hakikatnya sama dan mereka semua dapat diperlakukan sama. Padahal tidak ada dua
orang yang betul-betul identik, dan setiap orang berbeda secara fisik,
emosional, maupun psikologis. Intinya adalah bahwa pluralitas dikalangan
karyawan menuntut perhatian manager agar setiap pribadi dapat mengerti,
menggali, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya, sehingga mereka dapat
bekerja secara optimal dan produktif dalam organisasi atau perusahaan bisnis.
Terkait dengan
strategi suatu perusahaan, bahwasanya suatu perusahaan akan berkembang dan maju
manakala memiliki suatu strategi yang bagus. Dimana strategi merupakan suatu
ide, gagasan atau taufik setelah kita melakukan suatu perencanaan yaitu suatu
proses untuk menentukan rencana atau program kegiatan. Suatu perencanaan selalu
berkaitan dengan tujuan. Perencanaan membantu kita untuk mengetahui apa yang
harus kita lakukan. Perencanaan tidak boleh dibuat secara tergesa-gesa, namun
memerlukan waktu yang cukup, disini fungsi manajer yang berhubungan dengan
memilih tujuan-tujuan, kebijakan-kebijakan, prosedur-prosedur, program-program,
dan alternative-alternatif yang ada berhubungan dengan hal diatas, suatu
strategi juga layak dijalankan guna membarengi suatu rencana itu ditetapkan
dengan maksud untuk mencapai suatu tujuan perusahaan sesuai dengan yang
diharapkan. Strategi perusahaan yang harus diutamakan diantaranya yaitu
analisis jabatan atau pekerjaan.
Nilai pekerjaan,
baik bagi individu maupun bagi organisasi adalah sebagai berikut:
1. Bagi Individu
· Mempengaruhi
dan menentukan standar kehidupan, serta menggambarkan status sosial ekonomi.
· Semakin besar
penghasilan seseorang semakin terbuka memenuhi kebutuhan secara berkualitas dan
memuaskan.
2. Bagi
Organisasi
· Wahana
perwujudan eksistensi dan pencapaian tujuannya.
· Pekerjaan yang
dilaksanakan secara produktif dan berkualitas yang mampu menghasilkan produk
dan pelayanan yang berkualitas.
Analisis jabatan
atau pekerjaan pada dasarnya bermaksud menjawab pernyataan sebagai berikut:
Apa yang harus dikerjakan?
Bagaimana mengerjakan?
Mengapa harus dikerjakan?
Alasan
pentingnya analisis jabatan atau pekerjaan sebagai berikut:
Untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi sosial
yaitu pekerjaan melalui sistem yang sistematik
Menemukan dimensi dalam fungsi sosial suatu
pekerjaan yang dapat dikembangkan dan diperluas yang akhirnya dapat digunakan
dalam menetapkan persyaratan pekerja yang mampu.
Dapat digunakan oleh para pekerja untuk
mengidentifikasi kemampuan dalam bekerja terutama memenuhi tuntutan fungsi
sosial pekerjaan.
3. Mekanisme
Pengelolaan Sumber Daya Manusia
Kesadaran
manusia akan pentingnya SDM bukan hal baru, manusia hidupnya selalu memikirkan
cara memperoleh bahan pangan, sandang, dan papan. Peradaban manusia berpangkal
pada usaha memperoleh dan memanfaatkan SDA yang tersedia untuk memenuhi
kebutuhan dan mempertahankan hidupnya.
Siapapun yang
mengelola organisasi akan mengolah berbagai sumber daya untuk meraih tujuan
organisasi tersebut. Sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dapat
dikatagorikan atas enam tipe sumber daya (6M), yaitu sebagai berikut:
Man (Manusia)
Money (Uang)
Material (Fisik)
Maching (Tekonologi)
Method (Metode)
Market (Pasar)
Adapun mekanisme
pengelolaan atau dalam hal upaya pencapaian tujuan tertentu:
a. Perencanaan
SDM
Perencanaan SDM
berfokus pada cara organisasi atau perusahaan bergerak dan kondisi SDM yang ada
saat ini menuju kondisi SDM yang dikehendaki.
b. Rekrutmen
Perusahaan akan
mencari tenaga baru apabila terjadi kekurangan karyawan atau tenaga kerja yang
diperlukan oleh perusahaan.
c. Seleksi
Dalam menyeleksi
karyawan baru, depertemen SDM biasanya menyaring pelamar melalui wawancara,
tes, dan menyelidiki latar belakang pelamar. Selanjutnya, merekomendasikan
pelamar yang memenuhi persyaratan pada manajer untuk diambil keputusan
pengangkatan terakhir.
d. Pelatihan dan
Pengembangan
Perkembangan
organisasi atau perusahaan terkait erat dengan kualitas SDM-nya apabila SDM
berkualitas rendah, strategi organisasi atau perusahaan kemungkinan besar akan
terjadi.
e. Penilaian
Prestasi Kerja
Penilaian
prestasi kerja merupakan salah satu faktor kunci dalam mengembangkan suatu
organisasi atau perusahaan secara efektif-efisien.
f. Kompensasi
Dalam suatu
organisasi perusahaan, terutama perusahaan yang profit-making, maka pengaturan
kompensasi merupakan faktor penting untuk dapat memelihara dan mempertahankan
prestasi kerja para karyawan.
g. Pemeliharaan
Keselamatan Tenaga Kerja
Sikap organisasi
suatu perusahaan bisnis tentu saja tidak semata-mata ingin memenuhi atau
mencapai tujuan dengan mengorbankan kepentingan karyawan sebab manusia
sebenarnya merupakan penentu akhir dari keberhasilan suatu organisasi.
4. Apakah
Keberadaan SDM Dapat Menambah/ Membantu Perusahaan Bisa Mencapai Tujuan
Sebagai suatu
ilmu, konsep manajemen bersifat universal dengan menggunakan kerangka berfikir,
keilmuan, mencakup hadiah-hadiah, dan prinsip-prinsipnya. Apabila seorang
manajer mempunyai pengetahuan dasar-dasar manajemen dan cara-cara menerapkannya,
ia akan dapat melaksanakan fungsi-fungsi menajemen secara selektif.
SDM merupakan
salah satu faktor kunci dalam reformasi dan memiliki keterampilan serta berdaya
saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini kita abaikan.
Masalah daya
saing dalam pasar dunia yang semakin terbuka merupakan isu kunci dan tantangan
yang tidak ringan. Tanpa dibekali kemampuan dan keunggulan daya saing yang
tinggi, niscaya produk suatu Negara, termasuk produk Indonesia, tidak akan
mampu menembus pasar internasional. Bahkan mestinya produk impor dapat
mengancam posisi domestik. Dengan kata lain dalam pasar yang bersaing,
keunggulan kompetitif merupakan faktor yang desisif dalam meningkatkan kinerja
perusahaan.
Mengapa
manajemen dibutuhkan? Manajemen dibutuhkan oleh semua orang atau organisasi.
Tanpa manajemen usaha untuk mencapai tujuan akan sia-sia belaka
Alasan manajemen
diperlukan adalah:
a. Manajemen
dibutuhkan untuk mencapai tujuan, kelompok, organisasi, atau perusahaan.
b. Manajemen
dibutuhkan untuk menciptakan keseimbangan diantara tujuan-tujuan,
sasaran-sasaran, dan kegiatan-kegiatan dari pihak-pihak yang berkepentingan
dalam organisasi atau perusahaan, seperti pengusaha dan kreditor dan nasabah,
atau masyarakat dan pemerintah.
c. Manajemen
dibutuhkan untuk mencapai efisiensi dan produktifitas kerja organisasi atau
perusahaan.
Tanpa adanya
tenaga kerja yang kompeten, suatu organisasi atau perusahaan akan berjalan
biasa-biasa saja walaupun organisasi itu mampu bertahan. Karena alasan inilah
maka rekruitmen dan pengelolaan SDM merupakan hal yang sangat penting dalan
SDM.
5. Apa Saran
yang Bisa Anda Sampaikan Memperbaiki Pengelolaan SDM yang ada saat ini
Ada dua hal
penting yang menyangkut kondisi SDM Indonesia. Pertama, adanya ketimpangan
antara jumlah kesempatan kerja dengan angkatan kerja. Jumlah angakatan kerja
nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar 92,73 juta orang.
Sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar 87,67 juta orang dan
ada sekitar 5,06 juta orang menjadi penganggur terbuka (open unemployment)
angka ini terus menerus selama krisis ekonomi yang kini berjumlah sekitar 8
juta.
Kedua, tingkat
pendidikan angkatan kerja Indonesia relative masih rendah, struktur pendidikan
angkatan kerja Indonesia masih didominasi oleh pendidikan dasar, yaitu sekitar
63,2%. Kedua masalah tersebut menunjukkan bahwa ada kelangkaan kesempatan kerja
dan rendahnya kualitas angkatan kerja secara rasional di berbagai bidang
kehidupan.
Berkenaan dengan
wacana diatas saran yang ingin disampaikan yaitu masalah kualitas tenaga kerja
lebih di tingkatkan lagi karena dengan kualitas tenaga kerja yang berkualitas
mudah-mudahan dapat menciptakan lapangan kerja yang dengan sendirinya
menjadikan lapangan kerja makin luas dan bertambah cadangan tenaga kerjapun berkualitas,
sehingga seimbang dan dapat memperbaiki pengelolaan SDM kedepan.
KESIMPULAN
Tujuan manajemen
sumber daya manusia adalah memperbaiki kontribusi produktif orang-orang atau
tenaga kerja terhadap organisasi atau perusahaan dengan cara yang bertanggungjawab
secara strategis, etis dan sosial.
Tujuan dari
suatu perusahaan terkait dengan adanya SDM diantaranya yaitu:
1. Produktifitas
2. Laba (frofit)
Adapun mekanisme
pengelolaan atau dalam hal upaya pencapaian tujuan yaitu:
a. Perencanaan
SDM
b. Rekrutmen
c. Seleksi
d. Pelatihan dan
Pengembangan
e. Penilaian
Prestasi Kerja
f. Kompensasi
g. Pemeliharaan
Keselamatan Tenaga Kerja
h. Hubungan
Karyawan
Tanpa adanya
tenaga kerja yang kompeten, suatu organisasi atau perusahaan akan berjalan
biasa-biasa saja walaupun organisasi itu mampu bertahan. Karena alasan inilah
maka rekruitmen dan pengelolaan SDM merupakan hal yang sangat penting dalam
SDM.
Berkenaan dengan
wacana diatas saran yang ingin disampaikan yaitu masalah kualitas tenaga kerja
yang berkulitas mudah-mudahan dapat menciptakan lapangan kerja yang dengan
sendirinya menjadikan lapangan kerja makin luas dan bertambah cadangan tenaga
kerjapun berkualitas, sehingga seimbang dan dapat memperbaiki pengelolaan SDM
kedepan.
REFERENSI
1. Drs. H.
Sadili Samsudin, M.M., M.Pd., Manajemen SDM., CV Pustaka Setia., Bandung 2006.
2. A.
Abdurachman, Kerangka Pokok-Pokok Manajemen Umum., PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.,
Jakarta 1979.
3. Mukjirat.,
Analisa Jabatan., Bandung 1992.
Otoritas &tj
Msdm
Langganan:
Postingan (Atom)
Dari Ruang Kelas Menuju Indonesia Berdaulat: Ketika Guru, Teknologi, dan Kecerdasan Artifisial Menjadi Mitra Pembelajaran Berkarakter
Pendahuluan Indonesia sedang memasuki babak baru dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, terutama hadirnya...
-
Perjalanan panjang menempuh pendidikan tinggi tidak pernah mudah. Namun, kisah angkatan MPI-C 2023–2025 membuktikan bahwa solida...
-
K E P U T U S A N KWARTIR CABANG GERAKAN PRAMUKA KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR : ...
-
Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengkaji keselarasan nilai-nilai Pancasila dengan ajaran Islam, khususnya dalam aspek tauhid d...