Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Januari 2026

Naik ke Langit, Turun ke Hati: Isra Mi’raj dan Kekuatan Iman di Era Informasi Tanpa Bata

 

    Di zaman yang penuh dengan arus informasi tanpa batas, manusia seakan hidup di antara jutaan notifikasi yang tiada henti. Setiap detik, berita, gambar, dan opini bertebaran, membentuk realitas baru yang seringkali membuat hati lelah dan pikiran jenuh. Namun, di tengah hiruk pikuk ini, peristiwa Isra Mi’raj kembali mengajarkan manusia tentang makna tertinggi dari perjalanan spiritual sebuah pendakian ke langit yang justru berujung pada ketenangan hati di bumi.

1. Isra Mi’raj: Perjalanan Agung dan Maknanya

Peristiwa Isra Mi’raj adalah mukjizat besar yang diberikan kepada Rasulullah ﷺ. Allah SWT berfirman:

pfMakna yang tersirat di sini adalah bahwa setiap Muslim, melalui salat dan ibadahnya, memiliki kesempatan untuk “naik ke langit” menyentuh kedekatan spiritual dengan Allah, meski tubuhnya tetap di bumi.

2. Era Informasi: Ujian Baru bagi Keimanan

    Kita hidup di era informasi tanpa batas. Pengetahuan begitu mudah diakses, tetapi kebijaksanaan semakin sulit ditemukan. Arus data yang deras sering menenggelamkan manusia dalam distraksi dan kesenangan semu. Banyak orang tahu segalanya, namun kehilangan arah; pandai berbicara, tapi miskin makna. Dalam konteks ini, Isra Mi’raj mengajarkan pentingnya keseimbangan antara pengetahuan dan keimanan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang mendekatkan hati kepada Allah, bukan yang membuat manusia sombong atau lalai.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Di tengah banjir informasi digital, ayat ini menjadi penawar. Teknologi boleh membawa manusia melanglang buana ke seluruh penjuru dunia, tetapi hanya iman yang mampu menuntunnya pulang ke dalam dirinya sendiri.

3. Menyambungkan Langit dan Hati di Dunia Digital

    Perjalanan Mi’raj mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah bukan perkara ruang dan waktu, tetapi kesiapan hati. Di era modern, koneksi internet mungkin membuat manusia merasa dekat dengan dunia, tapi belum tentu dengan Tuhannya. Setiap salat, setiap sujud, adalah kesempatan untuk “turun ke hati” setelah “naik ke langit.” Inilah keseimbangan spiritual yang dibutuhkan manusia digital. Ketika dunia maya menarik perhatian ke luar, salat mengarahkan kembali pandangan ke dalam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketahuilah, di dalam jasad ada segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hati yang bersih adalah kompas di tengah kabut informasi. Ia menuntun manusia agar tidak tersesat oleh ilusi dunia maya, tetapi tetap berjalan di jalan yang diridhai Allah SWT.

Pesan Moral untuk Generasi Digital

    Isra Mi’raj adalah kisah tentang naik ke langit untuk memperkuat hubungan dengan Allah, lalu turun ke bumi dengan hati yang penuh cahaya. Bagi generasi digital, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa teknologi dan informasi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menebar kebaikan dan memperdalam iman. Dalam setiap “klik” dan “scroll”, semestinya terselip niat untuk mencari ridha Allah. Dengan meneladani semangat Isra Mi’raj, generasi Muslim masa kini dapat belajar untuk tetap berpijak di bumi teknologi, namun hati mereka selalu terikat pada langit spiritualitas.

    Hanya dengan itu, manusia dapat hidup di tengah derasnya arus informasi tanpa kehilangan arah karena hati yang beriman adalah satu-satunya kompas yang tak pernah kehilangan sinyal.

Senin, 20 Oktober 2025

Hari Santri: Refleksi Dinamika, Spirit, dan Pengabdian Santri untuk Negeri

   


 Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, sebuah momentum untuk mengenang perjuangan para santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hari Santri bukan hanya seremonial tahunan, melainkan wujud penghargaan atas kontribusi besar kaum santri dalam membangun moral, spiritual, dan intelektual bangsa.


                                                        Landasan Historis: Resolusi Jihad 1945
    Penetapan Hari Santri tidak terlepas dari peristiwa bersejarah yang terjadi pada 22 Oktober 1945, ketika Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, mengeluarkan Resolusi Jihad. Seruan ini mewajibkan umat Islam, khususnya para santri, untuk berjuang melawan penjajahan demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa tersebut menjadi landasan kuat bagi pemerintah menetapkan Hari Santri melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015.

    Dari sinilah semangat jihad santri dimaknai bukan sebagai peperangan fisik semata, tetapi juga jihad dalam bentuk pengabdian, pendidikan, dan pembentukan karakter bangsa. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Hajj ayat 78:
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya...”
Ayat ini menjadi pedoman bahwa jihad santri di masa kini adalah berjuang menegakkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dalam kehidupan modern.

                                                    Landasan Sosial: Dinamika Peran Santri di Era Global
       Santri masa kini menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan. Dinamika sosial dan perkembangan teknologi menuntut santri untuk adaptif terhadap perubahan zaman. Santri tidak lagi hanya mengaji kitab kuning di pesantren, tetapi juga aktif di bidang sains, teknologi, kewirausahaan, dan sosial kemasyarakatan.

    Peran santri sebagai agen perubahan sosial sangatlah penting. Mereka diharapkan menjadi generasi yang mampu menjawab tantangan era digital dengan tetap berpegang pada nilai-nilai akhlakul karimah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa santri bukan hanya penerima ilmu, tetapi juga penyebar manfaat di tengah masyarakat.

Landasan Spiritual: Keteguhan Iman dan Pengabdian
Di tengah modernisasi, santri tetap menjaga ruh spiritualitasnya. Keteguhan iman dan ketaatan menjadi pondasi utama dalam setiap langkah. Santri dibentuk bukan hanya untuk menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

    Dalam konteks ini, pesantren menjadi pusat pembinaan karakter bangsa. Para santri diajarkan untuk ikhlas, tawadhu’, sabar, dan berkhidmat kepada masyarakat. Nilai-nilai inilah yang membuat santri memiliki daya tahan luar biasa dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.

    Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Ayat ini menjadi motivasi bagi santri untuk terus belajar dan berkontribusi, menjadikan ilmu sebagai jalan ibadah dan kemaslahatan umat.

Penutup
    Hari Santri adalah simbol keutuhan antara ilmu, iman, dan perjuangan. Santri Indonesia telah membuktikan perannya dari masa ke masa—mulai dari perjuangan fisik melawan penjajah, membangun pendidikan Islam, hingga menghadapi tantangan era digital dengan semangat moderasi beragama.

    Dengan menjadikan Hari Santri sebagai momentum refleksi, diharapkan seluruh santri di Indonesia terus meneladani semangat ulama terdahulu: berilmu tinggi, berakhlak mulia, dan berjiwa nasionalis. Karena dari pesantrenlah lahir generasi penerang negeri—mereka yang menjaga iman sekaligus mencintai tanah air dengan sepenuh hati.


Minggu, 22 Maret 2015

Wanita Shalehah


Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka banyak-banyaklah belajar dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. Seperti Siti Aisyah yang terkenal dengan kecerdasannya dalam berbagai bidang ilmu. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau adalah seorang istri yang bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak.

Bisa jadi wanita shalihah itu muncul dari sebab keturunan. Bila kita melihat seorang pelajar yang baik akhlaknya dan tutur katanya senantiasa sopan, maka dalam bayangan kita tergambar diri seorang ibu yang telah mendidik dan membimbing anaknya menjadi manusia yang berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses yang memakan waktu. Disini faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan dan lain-lain. Apa yang nampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi.

Rumah Tangga dalam Islam


Dari pengertian  rumah tangga islami ternyata memiliki banyak konsekuensi. Paling tidak, ada sepuluh konsekuensi dasar yang menjadi landasan bagi tegaknya rumah tangga islami, yakni
1. Didirikan di atas landasan ibadah
Rumah tangga islami harus didirIkan dalam rangka beribadah kepada Allah semata. Artinya, sejak proses memilih jodoh, landasannya haruslah benar. Memilih pasangan hidup haruslah karena kebaikan agamanya, bukan sekedar karena kecantikan, harta, maupun keturunannya.
Prosesi pernikahannya pun sejak akad nikah hingga walimah tetap dalam rangka ibadah, dan jauh dari kemaksiatan. Sampai akhirnya, mereka menempuh bahtera kehidupan dalam suasana ta’abudiyah (peribadahan) yang jauh dari dominasi hawa nafsu. ”Dan Aku tidak menciptkan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz Dzariyat: 56)
Ketundukan sejak langkah-langkah awal mendirikan rumah tangga setidaknya menjadi pemacu untuk tetap tunduk dalam langkah-langkah selanjutnya. Kelak, jika terjadi permasalahan dalam rumah tangga, mereka akan mudah menyelesaikan, karena semua telah tunduk kepada peraturan Allah dan Rasul-Nya
2. Terjadi internalisasi nilai-nilai islam secara kaffah
Internalisasi nilai-nilai Islam secara kaffah (menyeluruh) harus terjadi dalam diri setiap anggota keluarga, sehingga mereka senantiasa komit terhadap adab-adab islami. Di sinilah peran keluarga sebagai benteng terkuat dan filter terbaik di era globalisasi yang mau tak mau harus dihadapi kaum muslimin.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (Al Baqarah: 208)
Untuk itu, rumah tangga islami dituntut untuk menyediakan sarana-sarana tarbiyah islamiyah yang memadai, agar proses belajar, menyerap nilai dan ilmu, sampai akhirnya aplikasi dalam kehidupan sehari-sehari bisa diwujudkan. Internalisasi nilai-nilai Islam ini harus berjalan secara terus-menerus, bertahap dan berkesinambungan. Tanpa hal ini, adab-adab Islam tak akan ditegakkan.
3. Terdapat qudwah yang nyata
Diperlukan qudwah (keteladanan) yang nyata dari sekumpulan adab Islam yang hendak diterapkan. Orang tua memiliki posisi dan peran yang sangat penting dalam hal ini. Sebelum memerintahkan kebaikan atau melarang kemungkaran kepada anggota keluarga yang lain, pertama kali orang tua memberikan keteladanan.
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan.” (Ash-Shaff: 3-4)
Keteladanan semacam ini amat diperlukan, sebab proses interaksi anak-anak dengan orang tuanya dalam keluarga amat dekat. Anak-anak akan langsung mengetahui kondisi ideal yang diharapkan. Di sisi lain, pada saat anak-anak masih belum dewasa, proses penyerapan nilai lebih tertekankan pada apa yang mereka lihat dan dengar dalam kehidupan sehari-hari. Tak banyak manfaatnya orang tua menyuruh anak-anak rajin menegakkan sholat tepat waktunya, sementara ia sendiri selalu asyik melihat acara televisi saat adzan maghrib atau isya’.
4. Penempatan posisi masing-masing anggota keluarga harus sesuai dengan syari’at
Islam telah memberikan hak dan kewajiban bagi masing-masing anggota keluarga secara tepat dan manusiawi. Apabila hal ini ditepati, akan mengantarkan mereka pada kebaikan dunia dan akhirat.
”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikarunikan Allah kepada sebagian kamu, lebih banyak dari yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah Allah sebagian dari karunia-Nya.” (An Nisa’:32)
Masih banyak keluarga muslim yang belum bisa berbuat sesuai dengan tuntutan Islam. Betapa sering kita dengar keluhan keguncangan di sebuah rumah tangga muslim bermula dari tak terpenuhinya hak dan kewajiban masing-masing. Suami hanya menuntut haknya dari istri dan anak-anak tanpa mau memenuhi kewajibannya. Demikian juga dengan istri. Maka bisa diduga, yang terjadi kemudian adalah ketidakharmonisan suasana.
Masih banyak pula kita dengar kasus penyimpangan seksual yang dilakukan orang tua maupun remaja. Sumber bencana itu banyak yang berawal dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Fungsi-fungsi tidak berjalan dengan normal, karena katub-katub curahan perasaan yang tersumbat, dan akhirnya meledak dalam bentuk penyimpangan-penyimpangan.
5. Terbiasa tolong-menolong dalam menegakkan adab-adab Islam
Berkhidmat dalam kebaikan tidaklah mudah, amat banyak gangguan dan godaannya. Jika semua anggota keluarga telah bisa menempatkan diri secara tepat, maka ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan ini akan lebih mungkin terjadi.
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Al Maidah: 2)
Bisa dibayangkan, betapa sulitnya membentuk suasana islami apabila suasana kerjasama ini tak terwujud. Salah seorang memiliki kesenangan menonton televisi, hingga semua acara dilihatnya. Seorang lagi hobi main musik di rumah. Yang lain lagi lebih banyak keluyuran dan begadang hingga larut malam. Tak ada suasana tausiyah (saling menasehati) di antara mereka. Lalu bagaimana mereka bisa merasa sebagai sebuah keluarga muslim?
6. Rumah harus kondusif bagi terlaksananya peraturan Islam
Rumah tangga islami adalah rumah yang secara fisik kondusif bagi terlaksananya peraturan Islam. Adab-adab islam dalam kehidupan rumah tangga akan sulit diaplikasikan jika struktur bangunan rumah yang dimiliki tiada mendukung. Di sisi inilah pembahasan tentang rumah tangga islami banyak dilupakan.
Dalam budaya masyarakat daerah tertentu lantaran permasalahan ekonomi, rumah mereka hanyalah bangunan segi empat tanpa sekat ruang di dalamnya. Ruang tidur tak bersekat dengan ruang tamu, dapur, bahkan di desa-desa terpencil dengan kandang sapi. Tempat tidur mereka hanya berupa ranjang bambu yang panjang dan luas. Mereka sekeluarga tidur berjajar di atasnya. Tidak ada tempat tidur khusus bagi kedua orang tua yang terpisah dari anak-anak dan ruang tamu. Tidak ada ruang khusus bagi anak-anak perempuan yang terpisah dengan anak-anak laki-laki. Berbagai penyakit ruhani akan mudah didapatkan dalam kondisi semacam itu.
Kenyataan lain dalam masyarakat modern sekarang, problem perumahan merupakan suatu hal yang mendesak bagi tiap keluarga. Selain harga tanah yang terus-menerus bertambah tinggi dari waktu ke waktu, juga kemampuan ekonomi bagi kalangan menengah ke bawah yang makin tak bisa menjangkau harga perumahan yang bisa dianggap layak huni. Akibatnya, berbagai kompleks perumahan sederhana, rumah susun bahkan rumah sangat sederhana, dibangun untuk membantu mengatasi probelm itu. Ruang-ruang yang amat terbatas dan sempit serta jarak antarrumah yang hanya berbatas satu tembok merupakan pemandangan yang sudah dianggap biasa. Berbagai penyakit sosial merupakan ancaman serius dalam kompleks perumahan semacam itu.

Rabu, 25 Februari 2015

Nasionalisme Scout's this PANCASILA


      Pentingnya penanaman nasionalisme generasi bangsa ini harus di tanamkan sejak dari kecil supaya setara dengan besarnya generasi bangsa kita akan menjadikan karakter nasionalisme yang besar dan bahkan akan mendarah daging pada putra puti bangsa ini. 
sebagaimana dapat kita ketahui bahwa yang dimaksud dengan Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.
               Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.


Meskipun terjadi perubahan kandungan dan urutan lima sila Pancasila yang berlangsung dalam beberapa tahap selama masa perumusan Pancasila pada tahun 1945, tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.


I.1 Pengertian Pancasila secara etimologis

Secara etimologis istilah “Pancasila” berasal dari Sansekerta dari India (bahasa kasta Brahmana) adapun bahasa rakyat biasa adalah bahasa Prakerta. Menurut Muhammad Yamin, dalam bahasa sansekerta perkataan “Pancasila” memilki dua macam arti secara leksikal yaitu :

“panca” artinya “lima”
“syila” vokal I pendek artinya “batu sendi”, “alas”, atau “dasar”
“syiila” vokal i pendek artinya “peraturan tingkah laku yang baik, yang penting atau yang senonoh”

Kata-kata tersebut kemudian dalam bahasa Indonesia terutama bahasa Jawa diartikan “susila “ yang memilki hubungan dengan moralitas. Oleh karena itu secara etimologis kata “Pancasila” yang dimaksudkan adalah adalah istilah “Panca Syilla” dengan vokal i pendek yang memilki makna leksikal “berbatu sendi lima” atau secara harfiah “dasar yang memiliki lima unsur”. Adapun istilah “Panca Syiila” dengan huruf Dewanagari i bermakna 5 aturan tingkah laku yang penting.



I.2 Pengertian Pancasila secara Historis

Proses perumusan Pancasila diawali ketika dalam sidang BPUPKI pertama dr. Radjiman Widyodiningrat, mengajukan suatu masalah, khususnya akan dibahas pada sidang tersebut. Masalah tersebut adalah tentang suatu calon rumusan dasar negara Indonesia yang akan dibentuk. Kemudian tampilah pada sidang tersebut tiga orang pembicara yaitu Mohammad Yamin, Soepomo dan Soekarno.

Pada tanggal 1 Juni 1945 di dalam siding tersebut Ir. Soekarno berpidato secara lisan (tanpa teks) mengenai calon rumusan dasar negara Indonesia. Kemudian untuk memberikan nama “Pancasila” yang artinya lima dasar, hal ini menurut Soekarno atas saran dari salah seorang temannya yaitu seorang ahli bahasa yang tidak disebutkan namanya.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, kemudian keesokan harinya tanggal 18 Agustus 1945 disahkannya Undang-Undang Dasar 1945 termasuk Pembukaan UUD 1945 di mana didalamnya termuat isi rumusan lima prinsip atau lima prinsip sebagai satu dasar negara yang diberi nama Pancasila.

Sejak saat itulah perkataan Pancasila menjadi bahasa Indonesia dan merupakan istilah umum. Walaupun dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945 tidak termuat istilah “Pancasila”, namun yang dimaksudkan Dasar Negara Republik Indonesia adalah disebut dengan istilah “Pancasila”. Hal ini didasarkan atas interpretasi historis terutama dalam rangka pembentukan calon rumusan dasar negara, yang secara spontan diterima oleh peserta sidang secara bulat.


I.3 Pengertian Pancasila secara Terminologis

Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 itu telah melahirkan negara Republik Indonesia. Untuk melengkapi alat-alat perlengkapan negara sebagaimana lazimnya negara-negara yang merdeka, maka panitia Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) segera mengadakan sidang. Dalam sidangnya tanggal 18 Agustus 1945 telah berhasil mengesahkan UUD negara Republik Indonesia yang dikenal dengan UUD 1945. Adapun UUD 1945 terdiri atas dua bagian yaitu Pembukaan UUD 1945 dan pasal-pasal UUD 1945 yang berisi 37 pasal, 1 aturan Aturan Peralihan yang terdiri atas 4 pasal dan 1 Aturan Tambahan terdiri atas 2 ayat.

Dalam bagian pembukaan UUD 1945 yang terdiri atas empat alinea tersebut tercantum rumusan Pancasila sebagai berikut :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

5. Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia

Rumusan Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 inilah yang secara konstisional sah dan benar sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang disahkan oleh PPKI yang mewakili seluruh rakyat Indonesia.

                      semoga informasi ini akan membawa dampak yang positif bagi para pembaca,,,,,,,,,,

Scout's Health

Penggalang adalah merupakan sebuah tingkatan dalam pramuka setelah siaga. Biasanya anggota pramuka tingkat penggalang berusia dari 11-15 tahun.
       Sehingga dalam hal ini merupakan masa keemasan dalam menangkap informasi sehingga dalam hal ini sangat perlu dukungan dalam memahami setiap materi kepramukaan, diantara berbagai macam materi yang dapat di pahami dan dibina secara intensif adalah mengenai P3k yaang bertujuan untuk merangsang jiwa sosialisnya pada sekitar sehingga selain itu akan dapat lagi manfaatnya untuk pribadinya masing-masing. 





Jumat, 09 Januari 2015

24 Q di 2014


24 adalah angka istimewa pada 14 Desember 2014. penyempurnaan tugas dalam menyelesaikan studyQ, Alhamdulillah telah terselesaikan tugas ke-2 dalam menyelesaikan S1 ekonomi islam,

dan yang lebih membahagiakan Q dapatkan hadiah dari Allah SWT atas di pertemukannya aku dengan calon imam kehidupanQ kelak,,,,, Nur Hida Fauzil Khoir. tentu akan bersambut dgn datangnya tahun 2015 dengan rencana yang lebih lagi,,,,,,  untuk kehidupan esok,,,,, Bismillahirrahmanirrahim,,,,,, 

Minggu, 26 Januari 2014

BAPAK yg HEBAT


D
iantara tanggung jawab besar yang jelas diperhatikan dan disoroti oleh Islam juga oleh penalaran logika, adalah tanggung jawab seorang kepala rumah tangga, yang bertanggung jawab untuk mendidik orang-orang yang berada di pundaknya, baik anak-anak yang merupakan amanah Alloh SWT maupun istri seorang bapak atau kepala rumah tangga memiliki kewajiban berupa tanggung jawab pengajaran, bimbingan dan pendidikan. Ini sesungguhnya bukan tanggung jawab kecil dan ringan, karena telah dituntut sejak seorang anak dilahirkan hingga ia mencapai usia remaja, bahkan sampai ia menginjak usia dewasa yang sempurna.

S
eorang pendidik, baik guru, ayah ibu, maupun tokoh masyarakat, ketika melaksanakan tanggung jawabnya secara sempurna, penuh dengan rasa amanat, kesungguhan serta sesuai dengan petunjuk Islam, maka sesungguhnya ia telah mengarahkan segala usahanya untuk membentuk individu yang penuh dengan kepribadian dan keistimewaan. Ia juga sesungguhnya telah ikut andil dalam membentuk keluarga saleh yang penuh dengan kepribadian dan keistimewaan diatas. Dengan demikian, baik disadari maupun tidak, ia telah ikut mengambil bagian penting dalam membangun masyarakat ideal. Inilah logika Islam dalam menciptakan kemaslahatan.
K
alau kita teliti ayat-ayat Al Qur'an Al Karim maupun hadis-hadis Rasulullah Saw. yang menganjurkan kepada para pendidik untuk melaksanakan tangggung jawab mereka dan memperingatkan mereka manakala melalaikan tanggung jawabnya itu.
Diantara ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut: 

Selasa, 17 Desember 2013

MEMULIAKAN (MENGHORMATI) TETANGGA



BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam kehidupan sosial kita tidak akan lepas dari dari ketiga unsur ini, yaitu tentang tamu, tetangga dan mengasihi para dhuafa. Maka dengan tiga masalah ini, kami sedikit menguraikan bagaimana cara kita untuk mengabdikan diri kepada sang Khalik dengan cara, menghormati, mengasihi, menyayangi, mengutamakan mereka, agar supaya pengabdian ini benar-benar diterima di sisiNya. Karena dalam suatu hadist di sebutkan “Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari), “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya tidak menyakiti tetangganya” Dalam hadist lagi diterangkan, Seorang bertanya kepada Nabi Saw, “Islam yang bagaimana yang baik?” Nabi Saw menjawab, “Membagi makanan (kepada fakir-miskin) dan memberi salam kepada yang dia kenal dan yang tidak dikenalnya.” (HR. Bukhari), dan lagi Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam. (HR. Muslim). Dengan latar belakang tersebut kami disini menyuguhkan tentang bagaimana cara menggapai ketiga masalah tersebut, sehingga atas dorongan Dosen terwujudlah apa yang ada di tangan anda ini, semoga ada manfaat dan gunanya.
A.    RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana matan dan terjemahan dari hadis yang terdapat pada kitab dalillul falikhin?
2.      Sebutkan 3-5 mufrodat dan jelaskan?
3.      Jelaskan secara singkat
a.       Bil riwayah (Naqli)?
b.      Bil ru’yah (Akal)?

Rabu, 06 Maret 2013

ZAKAT DALAM PERSPEKTIF EKONOMI MIKRO ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.
Zakat merupakan ibadah pokok dalam bidang harta dan termasuk salah satu rukun (rukun ketiga) dari rukun Islam yang lima, dan juga menjadi salah satu bangunan dari agama Islam, sebagaimana diungkapkan dalam berbagai hadis Nabi,[1] oleh karena itu keberadaannya bagi umat Islam adalah selain menjadi doktrin keagamaan (normative religius) yang mengikat dan bahkan dianggap sebagai ma’luum minad-diin bidh-dharuurah atau diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang[2], juga disadari bahwa zakat mempunyai dimensi sosial ekonomi umat, yaitu sebagai salah satu instrumen untuk menanggulangi problema ekonomi umat Islam dan senantiasa menjadi tumpuan umat Islam dalam menanggulangi kemiskinan.
Keterkaitannya sebagai doktrin keagamaan, zakat merupakan instrumen manusia meraih kebajikan, dapat disebut orang baik, masuk barisan orang mukmin dan bertakwa serta dapat dibedakan dengan orang musyrik dan munafik[3]. Selain itu dalam Al-Quran juga dinyatakan bahwa tanpa zakat, seorang manusia tidak akan memperoleh rahmat dari Allah, tidak berhak memperoleh pertolongan dari Allah, dari RasulNya dan dari orang-orang beriman, dan tanpa zakat pula, seorang manusia tidak bisa memperoleh pembelaan dari Allah yang sudah dijanjikannya.[4]Sehingga Al Quran memberi apresiasi kepada manusia yang secara sungguh-sungguh membayar zakat[5].Dan sebaliknya, AlQuran memberikan ancaman bagi orang yang sengaja meninggalkannya.[6]Demikian pentingnya zakat dalam Islam sehingga khalifah Abu Bakar bertekat memerangi orang-orang yang shalat tetapi tidak mau menunaikan zakat.[7]
Perintah menunaikan zakat mengandung hikmah bagi orang yang membayar zakat (muzakki), penerimanya (mustahik), harta yang dikeluarkan zakatnya, maupun bagi masyarakat keseluruhan[8].Dalam prespektif ekonomi, hikmah dari perintah membayar zakat bagi muzakki adalah agar mereka mengelola hartanya secara produktif. Zakat dengan tarif 2,5 % terhadap harta merupakan hukuman bagi pemilik harta agar tidak menyimpan harta benda mereka tanpa menggunakan atau menginvestasikannya di sektor produktif. Karena kalau tidak demikian, harta itu akan habis secara perlahan-lahan untuk membayar zakat. Untuk menghindari agar hartanya itu tidak habis untuk kewajiban membayar zakat, maka harta itu harus diinvestasikan seproduktif mungkin berdasarkan aturan ilahi. Seruan dan dorongan Islam agar umatnya senantiasa menggunakan harta secara produktif juga telah diberikan contoh oleh Khalifah Umar ibn Khattab ketika mengambil tanah milik Bilal ibn Rabbah di Kahaibar dekat Mekah yang dihadiahkan kepada Rasul Alah SAW, karena Bilal tidak memanfaatkan tanah tersebut dan membiarkan terlantar begitu saja.[9]
Selain itu juga masih dapat kita sangsikan bahwa dengan peningkatan produksi belum tentu dapat meningkatkan pendapatan, khususnya para pekerja.Lain halnya dengan konsep ekonomi Islam, dimana konsep produksi tidak semata-mata bermotif memaksimalkan keuntungan dunia tetapi lebih jauh dan penting adalah memaksimalkan keuntungan akhirat, dengan kata lain seseorang dapat berkompetisi dalam kebaikan untuk urusan dunia tetapi sejatinya mereka sedang berlomba-lomba mencapai kebaikan di akhirat. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Alquran dalam surat al Qashash ayat 77 :   
Artinya : Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Mengenai fungsi produksi, dalam konsep ekonomi Islam bahwa memproduksi sesuatu bukanlah sekedar untuk dikonsumsi sendiri atau dijual dipasar melainkan juga mewujudkan fungsi sosial. Oleh karena itu kegiatan produksi dalam ekonomi Islam harus bergerak diatas dua garis optimalisasi, yaitu optimalisasi berfungsinya sumber daya insani kearah pencapaian kondisi full employment dan optimalisasi dalam hal memproduksi sesuatu yang halal dan bermanfaat bagi masyarakat[10],Target yang hendak dicapai secara bertahap dalam hal itu adalah kecukupan setiap individu, swasembada ekonomi umat dan kontribusi untuk mencukupi umat dan bangsa lain.
Terkait dengan pendistribusian zakat, seperti yang kita jelaskan diatas, akan menyebabkan naiknya jumlah permintaan terhadap barang-barang dan jasa kebutuhan mustahik, sehingga akan mendorong tumbuhnya industri-industri baru yang memproduksi barang atau jasa tersebut. Lahirnya industri baru ini akan membuka lapangan kerja baru yang dapat segera diisi oleh golongan masyarakat berpendapatan rendah yang umumnya masih berstatus pengangguran.
Demikian latar belakang dari pembahasan makalah kami yang berjudul zakat dalam persepektif ekonomi mikro. Maka dari itu kami sebagai penulis akan merumuskan masalah dalam pembahasan makalah kami diantaranya adalah:
B.    Rumusan Masalah
1.      Bagaimana definisi zakat dan definisi ekonomi mikro ?
2.      Bagaimanakah Urgensi Dan Tujuan Zakat Di Lihat Dari Sudut Pandang Mikro Ekonomi Islam?
3.      Bagaimanakah Peranan Zakat Dalam Pembagian Konsumsi?
4.       Bagaimanakah Pengaruh zakat perniagaan dalam ekonomi mikro islam ?

C.   Tujuan
1.    Untuk mengetahui definisi zakat dan definisi ekonomi mikro .
2.    Untuk mengetahui urgensi dan tujuan zakat di lihat dari sudut pandang  mikro  ekonomi islam.
3.    Untuk mengetahui peran zakat dalam pembagian konsumsi
4.    Untuk mengetahui pengaruh zakat perniagaan dalam ekonomi mikro islam

Minggu, 25 November 2012

kanker payudara

Pengertian Kanker Payudara
Seiring dengan perkembangan zaman memang kita harus bisa membuka wacana kita akan adanya informasi yang dapat kita peroleh dari berbagi sumber informasi,  maka dari itu jangan remehkan informasi yang sedang anda baca ini,,,,,,, sebab kami juga menyediakan buku yang kami kemas dalam bentuk pdf untuk bisa di baca dengan mudah,,,,,, silahkan memahami dan bisa mewaspadai akan apa yang dimaksud dengan kanker terutama kanker  payudara,,,,,,
       Kanker atau neoplasma merupakan suatu penyakit akibat adanya pertumbuhan yang abnormal dari sel-sel jaringan tubuh yang dapat mengakibatkan invasi ke jaringan-jaringan normal. Definisi yang paling sederhana yang dapat diberikan adalah pertumbuhan sel-sel yang kehilangan pengendaliannya. Kanker dapat menyebar pada bagian tubuh tertentu seperti payudara. Kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma. Kanker payudara oleh WHO dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD) dengan kode nomor 174 untuk wanita dan 175 untuk pria. Kanker payudara muncul sebagai akibat sel-sel yang abnormal terbentuk pada payudara dengan kecepatan tidak terkontrol dan tidak beraturan. Selsel tersebut merupakan hasil mutasi gen dengan perubahan-perubahan bentuk, ukuran maupun fungsinya. Kanker payudara dapat menyebar ke organ lain seperti paru-paru, hati, dan otak melalui pembuluh darah. Kelenjar getah bening aksila ataupun supraklavikula membesar akibat dari penyebaran kanker payudara melalui pembuluh getah bening dan tumbuh di kelenjar getah bening.
            Untuk lebih jelasnya  mengenai informasi kanker payudara silahkan donlowd buku dengan klik dibawah ini:

Kamis, 15 November 2012

KARAKTERISTIK MANUSIA Di lihat dari Psikologi Kognitif dan Psikologi Humanistik


PENDAHULUAN
      Dalam upaya membentuk sikap, mental dan perubahan tingkah laku mad’u, usaha –usaha dakwah tidak terlepas dari study psikologi  yang memiliki latar belakang guna mempelajari tingkah laku manusia sebagai cerminan dari hidupnya kejiwaan, yang oleh karena itu dapat kita ketahui mengenai definisi psikologi dakwah adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala – gejala  hidup kejiwaan manusia yang terlibat dalam proses kegiatan dakwah.
Di mana dapat juga kita ketahui dalam psikologi dakwah juga ada ada batasanya sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tingkah laku manusia yang merupakan cerminan hidupnya kejiiwaan dalam mengajak kepada pengalaman ajaran – ajaran islam deemi kesejahteraan hidup manusia di dunia dan akhiratnya.
Dan dalam makalah pembahasan saya selaku penulis juga memiliki batasan yakni hanya ruang lingkup atas pembahasan mengenai karakteristik manusia dari segi psikologi kognitif dan humanistik. Dan dalam hal ini akan kami jelaskan sekilas mengenai definisi karakteristik manusia, definisi psikologi kognitif, dan definisi psikologi humanistik, serta bagaimana  karakteristik manusia di lihat dari segi psikologi kignitif dan humanistik.
1.    Definisi karakteristik manusia.
Islam melalui Al-Qur’an memberi pengertian bahwa manusia adalah komunitas tunggal, anak cucu Adam (QS. Al-Baqarah : 213, Al-A'raf : 26-27). Dalam pandangan Islam manusia yang hidup sekarang adalah anak cucu dari dua orang tua yang sama, yaitu Adam dan Hawa. Dan bukan sebagai makhluk yang mengalami missing link dengan kera sebagaimana teori Charles darwin. Sebagai keturunan dan anak cucu Adam dan Hawa maka pastilah manusia mewarisi banyak sifat dari orang tua pertama yang sama itu. Sifat, watak dan prilaku, juga gena yang dimiliki kedua orang tua pertama kemudian secara turun temurun dan dari generasi ke genarasi yang kemudian menurun membentuk ciri-ciri dari manusia sekarang dan Adam – Hawa juga tentunya.
Secara umum, walau manusia berbeda suku bangsa, dipisahkan oleh batas geografis, adat istiadat dan budaya, bahasa, agama dan kepercayaan, kualitas intelektual dan sebagainya, tetapi manusia tetaplah manusia yang merupakan keturunan Adam dan Hawa. Perbedaan itu semua tidak menjadi serta merta membedakan mereka sebagai manusia. Ada ciri-ciri umum dan sekaligus karakteristik manusia yang sama yang terdapat pada setiap individu.
Banyak hal yang bisa didiskusikan mengenai manusia, baik yang bersifat jasmani ataupun rohani. Hal-hal yang terkait dengan manusia antara lain sifat, watak, prilaku, pikiran, sebagai makhluk sosial, karakter, jati diri, dan juga ciri-ciri manusia.[1]
2.    Definisi psikologi kognitif.
Psikologi kognitif adalah Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari kemampuan kognisi, seperti: Persepsi, proses belajar, kemampuan memori, atensi, kemampuan bahasa dan emosi.
Pendekatan kognitif menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.
Namun disisi yang lain ada juga yang berpendapat Psikologi kognitif adalah kajian studi ilmiah mengenai proses-proses mental atau pikiran. Proses ini meliputi bagaimana informasi diperoleh, dipresentasikan dan ditransfermasikan sebagai pengetahuan. Pengetahuan itu dimunculkan kembali sebagai petunjuk dalam sikap dan perilaku manusia. Oleh karena itu, psikologi kognitif juga disebut psikologi pemrosesan informasi.[2]
Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian. Untuk membuat dunia kita diterima oleh pikiran, kita melakukan pengorganisasian pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. Piaget yakin bahwa kita menyesuaikan diri dalam dua cara yaitu asimiliasi dan akomodasi.

Ada dua konsep dasar psikologi kognitif, yaitu kognisi dan pendekatan kognitif.
1. Kognisi
Dalam istilah kognisi, maka psikologi kognitif dipandang sebagai cabang psikologi yang mempelajari proses-proses mental atau aktivitas pikiran manusia, misalnya proses-proses persepsi, ingatan, bahasa, penalaran dan pemecahan masalah.
Contoh-contoh yang berkaitan dengan informasi :
a.  Proses-Proses persepsi
Ada seorang karyawan baru yang bekerja di suatu perusahaan yang tingkat profesionalismenya kurang. Di situ, baik karyawan yang rajin maupun yang malas mendapat gaji yang sama. Setelah lama beradaptasi di kantor itu, karyawan baru tersebut memiliki persepsi bahwa dia tidak perlu bekerja dengan sungguh-sungguh karena tidak akan berpengaruh pada gajinya.
b.  Ingatan
Kemampuan mengingat informasi dari membaca tentunya akan lebih lama dari hanya sekedar mendengar. Karena dengan membaca, pikiran atau otak kita akan bekerja lebih keras untuk memahami dan menyimpan informasi tersebut. Sedangkan dengan mendengar, kita hanya mengandalkan telinga, asalkan kita hafal. Bahkan kadang-kadang tanpa pemahaman.
c.  Bahasa
Informasi akan lebih mudah kita pahami dan kita mengerti, apabila bahasa yang digunakan sesuai dengan bahasa kita, maka informasi itu akan lebih maksimal kita gunakan. Karena otak atau pikiran kita mampu mencernaa inti informasi tersebut.
d.  Penalaran
Seseorang yang memiliki penalaran secara baik akan dapat memperoleh informasi yang berkaitan dengan masalah tersebut, tidak hanya dari satu sisi saja. Tapi dapat diperoleh dari bagian lain, karena suatu masalah biasanya yang hanya memiliki indikasi.
e.  Persoalan
Sikap dan perilaku manusia dapat mencerminkan masalah yang sedang dihadapi. Sikap dan perilaku ini, apabila digabungkan dengan informasi yang sudah ada, maka dapat menciptakan suatu solusi.
 Pendekatan Kognisi
Sebagai suatu pendekatan maka psikologi kognitif dapat dipandang sebagai cara tertentu di dalam mendekati berbagai fenomena psikologi manusia. Konsep ini menekankan pada peran-peran persepsi, pengetahuan, ingatan, dan proses-proses berpikir bagi perilaku manusia.
Contoh yang berkaitan dengan informasi :
a.          Peran-Peran persepsi
Orang yang berpersepsi atau berpikir bahwa kegagalan adalah sukses yang tertunda, dia akan selalu berusaha untuk mencoba lagi, walaupun dia ridak tahu kapan dia akan berhasil. Karena dipikirannya semakin dia mencoba, semakin banyak informasi yang didapat, maka tingkat kesalahan dapat diminimalisir atau dihindari. Hal ini menjadikannya sebagai pribadi yang sabar dan ulet.
b.  Pengetahuan
Orang yang banyak pengetahuan, biasanya lebih mengerti dan dapat mengelola informasi dengan cepat, karena dia tahu bagaimana cara mendapatkan informasi yang cepat, tepat, murah dan efisien.
c.  Proses-Proses Berpikir
Jenjang pendidikan, lingkungan sekitar serta cara hidup mempengaruhi proses-proses dan pola berpikir kita. Orang yang berpendidikan tinggi, hidup di lingkungan berpendidikan dan cara hidup yang modern, biasanya akan mencari suatu informasi dengan cara yang berbasis teknologi yang lebih cepat dan praktis. Ini karena mereka telah dibentuk menjadi pribadi yang modern dengan cara berpikir yang cepat.

Prinsip dasar Psikologi Kognitif
a.           Belajar aktif
b.          Belajar lewat interaksi sosial
c.           Belajar lewat pengalaman sendiri
Teori psikologi kognitif berkembang dengan ditandai lahirnya teori Gestalt (Mex Weithemer) yang menyatakan bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruan.
Ada 2 hukum wajib dalam teori Gestalt :
1).  Pragnaz (kejelasan)
2).  Closure (totalitas)
Konsep yang penting dalam teori ini INSIGHT, yaitu: pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan antara bagian-bagian didalam suatu masalah.
Teori belajar.
Cognitive-Field dari Lewin
Bertolak pada teori Gestalt, Lewin mengembangkan teori belajar berdasarkan Life Space (dunia psikologis dari kehidupan individu). Masing-masing individu berada didalam medan kekuatan psikologis, medan itu dinamakan Life Space yang terdiri dari dua unsur yaitu kepribadian dan psikologi sosial.
Ia menyatakan bahwa tingkah laku belajar merupakan usaha untuk mengadakan reorganisasi atau restruktur (dari isi jiwa). Tingkah laku merupakan hasil dari interaksi antar kekuatan baik dari dalam (tujuan, kebutuhan, tekanan batin, dan sebagainya) maupun dari luar (tantangan, permasalahan).
  Cognitive Development (Jean Piaget)
Dalam teorinya, ia memandang bahwa proses berpikir sebgai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Ia memakai istilah scheme : pola tingkah laku yang dapat diulang. Yang berhubungan dengan :
a).   Reflex pembawaan (bernapas, makan, minum)
b).   Scheme mental (pola tigkah laku yang sulit diamati, dan yang dapat diamati)
c). Pembelajaran Menurut JA Brunner (Discovery Learning)
Teori Brunner menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif dalam belajar dikelas. Maksud dari Discovery Learning yaitu peserta didik mengorganisasikan metode penyajian bahwa dengan cara dimana anak dapat mempelajari bahan itu, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
Selain ketiga tokoh tersebut Ausubel juga merpengaruh dalam psikologi kognitif. Dia mengungkapkan teori ekspository teaching, yaitu dapat diorganisasikan atau disajikan secara baik agar dapat mengahasilkan pengertian dan resensi yang baik pula sama dengan discovery learning.[3]
Implikasi dalam Pembelajaran
Implikasi teori kognitif piaget dalam pembelajaran adalah :
 1)  Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu  guru     mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak.
2) Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.
3)  Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4)  Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5)  Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temannya.
Pengaplikasian teori kognitif dalam belajar bergantung pada akomodasi. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar, karena ia tidak dapat belajar dari apa yang telah diketahui saja. Dengan adanya area baru, siswa akan mengadakan usaha untuk dapat mengakomodasikan.[4]
3.      Definisi psikologi humanistik.
      Humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul tahun  19500-an sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psokoanalisis. aliran ini secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis. permasalahan ini dirangkum dalam lima postulat psikologi humanistik dari James Bugental (1964), sebagai berikut:
1. manusia tidak bisa direduksi menjadi komponen - komponen.
2. manusia memiliki konteks yang unik di dalam dirinya.
3. kesadaran manusia menyatakan kesadaran akan diri dalam konteks orang lain.
4. manusia mempunyai pilihan -pilihan dan tanggung jawab.
5. manusia bersifat intensional, mereka mencari makna, nilai, dan memiliki kreativitas.

    humanistik mengatakan bahwa manusia adalah suatu keunggulan yang mengalami, menghayati dan pada dasarnya aktif, punya tujuan serta punya harga diri. karena itu, walaupun dalam penelitian boleh saja dilakukan analisis rinci mengenai bagian bagian dari jiwa manusia, namun dalam penyimpilannya, manusia harus dikembalikan dalam kesatuan yang utuh. pandangan seperti ini adalah pandangan yang holistik. selain itu manusia juga harus dipandang dengan penghargaan yang tinggi terhadap harga dirinya, perkembangan pribadinya, perbedaan-perbedaan individunya dan dari sudut kemanusiaanya itu sendiri. karena itu psikologi harus memasuki topik-topik yang tidak dimasuki oleh aliran behaviorisme dan psikoananlisis, seperti cinta, kretifitas, pertuumbuhan, aktualisasi diri, kebutuhan, rasa humor, makna, kebencian, agresivitas, kemandierian, tanggung jawab, dan sebagainya. pandangan ini di sebut sebagai pandangan humanistik.

4.    Karakteristik manusia jika di lihat dari psikologi kognitif
 Psikologi kognitif aliran psikologi yang melihat manusia sebagai makhluk yang aktif mengorganisasikan dan mengolah stimuli yang diterimanya (homo sapiens). Dimana psikologi kognitif juga menempatkan manusia sebagai makhluk yang bereaksi secara aktif terhadap lingkungannya dengan cara berfikir. Manusia berusaha memahami lingkungan yang di hadapinya  dan merespons dengan pikiran yang di milikinya. Psikologi  kognitif juga mempelajari bagaimana arus  informasi yang di tangkap oleh indra di proses dalam jiwa seseorang sebelum di endapkan dalam kesadaran atau di wujudkan dalam bentuk tingkah laku.  Reaksi terhadap rangsangan tidak selalu keluar berupa tingkah laku nyata, akan tetapi juga bisa mengendap berupa ingatan, atau di proses menjadi gejolak perasaan, seperti rasa gelisah, atau kecewa dan lain sebagainya, atau bisa juga di proses menjadi sikap, seperti suka dan tidak suka.[5] Karenanya dalam pandangan psikologi ini, manusia layaknya sebuah komputer, dimana ia menangkap informasi, mengelolah, menyimpan, atau mengeluarkannya dalam bentuk perilaku.[6]
Di mana konsepsi manusia sebagai pengelolah informasi (the person as information processor ) adalah perilaku manusia yang di pandang sebagai produk strategi pengolahan informasi yang rasional yang mengarah pada penyediaan, penyimpanan dan pemanggilan informasi yang di gunakannya untuk memecahkan persoalan. Dalam konsep ini manusia menjadi orang yang sadar dalam memecahkan persoalan. Karena itu manusia menurut teori kognitif di sebut sebagaimana di atas yakni  “homo sapiens” yaitu  manusia yang berpikir.
Walaupun manusia tidaklah serasional sebagaimana di jelaskan di atas, karena kadang kala penilaian orang di dasarkan pada informasi yang tidak lengkap dan kurang rasional, karena manusia menggunakan prinsip – priinsip umum dalam mengambil keputusan. Walaupun psikologi kognitif sering di kritik karena konsep – konsepnya yang sulit di uji, namun psikologi kognitif telah berusaha memasukkan kembali “ jiwa manusia” yang sudah di cabut behaviorisme, yang kontradiktif dengan psikoanalisis yang memandang bahwa manusia sangat di pengaruhi oleh insting dan dorongan nafsu rendah.dan menolak konsepsi ketidaksadaran dan kesadaran yang menjadi inti dari psikoanalisis, namun lebih memandang aspek stimuli lingkungan yang bisa membentuk prilaku manusia.[7]

5.    Karakteristik manusia jika di lihat dari psikologi humanistik
Psikologi humanistik, menggambarkan manusia sebagai pelaku aktif dalam merumuskan strategi transak-sional dalam lingkunganya (homo ludens). Selain itu juga di pandang sebagai eksistensi yang positif juga menentukan. Yang di anggap sebagai makhluk yang unik dan memiliki cinta , kreatifitas,  nilai dan makna serta pertumbuhan pribadi. Yang merupakan pusat perhatian teori humanisme, adalah pada makna kehidupan yang mana dalam psikologi humanistik di sebut homo laudens,yakni manusia yang mengerti makna kehidupan. Yang dalam teorinya di sebutkkan bahwa setiap manusia hidup dalam pengalaman yang bersifat pribadi (unik), dan kehidupanya berpusat pada pada dirinya itu. Yang mana prilaku manusia bukan di kendalikan oleh keinginan bawah sadarnya (seperti teori psikoanalisa) bukan pula tunduk pada lingkungannya (seperti teori behaviorisme), tetapi berpusat pada konsep diri, yaitu pandangan atau persepsi orang terhadap dirinya yang bisa berubah dan fleksibel sesuai dengan pengalamannya dengan orang lain. Yang mana dalam psikologi humanistik memandang positif manusia. Sebagaimana menurut teori ini, manusia selalu berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas dirinya. Manusia juga cenderung ingin selalu mengaktualisasikan dirinya  dalam kehidupan yang bermakna. Setiap individu bereaksi terhadap situasi yang di hadapinya (stimuli) sesuai dengan konsep  diri yang di milikinya, dan dunia di mana ia hidup. Kecenderungan batiniah manusia selalu menuju kepada kesehatan dan kebutuhan diri. Jadi dalam keadaan normalmanusia cenderung berfikir dan berperilaku rasional dan membangun (konstruktif). Ia juga cenderung memilih jalan ( pekerjaan, karier, atas jalan hidup ) yang mendukung pengembangan dan aktualisasi dirinya.[8]

KESIMPULAN
Sebagai keturunan dan anak cucu Adam dan Hawa maka pastilah manusia mewarisi banyak sifat dari orang tua pertama yang sama itu. Sifat, watak dan prilaku, juga gena yang dimiliki kedua orang tua pertama kemudian secara turun temurun dan Psikologi kognitif adalah kajian studi ilmiah mengenai proses-proses mental atau pikiran. Proses ini meliputi bagaimana informasi diperoleh, dipresentasikan dan ditransfermasikan sebagai pengetahuan. Pengetahuan itu dimunculkan kembali sebagai petunjuk dalam sikap dan perilaku manusia. Oleh karena itu, psikologi kognitif juga disebut psikologi pemrosesan informasi. dari generasi ke genarasi yang kemudian menurun membentuk ciri-ciri dari manusia sekarang dan Adam – Hawa juga tentunya.
Secara umum, walau manusia berbeda suku bangsa, dipisahkan oleh batas geografis, adat istiadat dan budaya, bahasa, agama dan kepercayaan, kualitas intelektual dan sebagainya, tetapi manusia tetaplah manusia yang merupakan keturunan Adam dan Hawa. Perbedaan itu semua tidak menjadi serta merta membedakan mereka sebagai manusia. Ada ciri-ciri umum dan sekaligus karakteristik manusia yang sama yang terdapat pada setiap individu.
Psikologi kognitif adalah kajian studi ilmiah mengenai proses-proses mental atau pikiran. Proses ini meliputi bagaimana informasi diperoleh, dipresentasikan dan ditransfermasikan sebagai pengetahuan. Pengetahuan itu dimunculkan kembali sebagai petunjuk dalam sikap dan perilaku manusia. Oleh karena itu, psikologi kognitif juga disebut psikologi pemrosesan informasi.
Humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul tahun  19500-an sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psokoanalisis. aliran ini secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis. permasalahan ini dirangkum dalam lima postulat psikologi humanistik dari James Bugental (1964), sebagai berikut:
1. manusia tidak bisa direduksi menjadi komponen - komponen.
2. manusia memiliki konteks yang unik di dalam dirinya.
3. kesadaran manusia menyatakan kesadaran akan diri dalam konteks orang lain.
4. manusia mempunyai pilihan -pilihan dan tanggung jawab.
5. manusia bersifat intensional, mereka mencari makna, nilai, dan memiliki kreativitas.
 Psikologi kognitif aliran psikologi yang melihat manusia sebagai makhluk yang aktif mengorganisasikan dan mengolah stimuli yang diterimanya (homo sapiens). Dimana psikologi kognitif juga menempatkan manusia sebagai makhluk yang bereaksi secara aktif terhadap lingkungannya dengan cara berfikir. Manusia berusaha memahami lingkungan yang di hadapinya  dan merespons dengan pikiran yang di milikinya. Psikologi  kognitif juga mempelajari bagaimana arus  informasi yang di tangkap oleh indra di proses dalam jiwa seseorang sebelum di endapkan dalam kesadaran atau di wujudkan dalam bentuk tingkah laku.  Reaksi terhadap rangsangan tidak selalu keluar berupa tingkah laku nyata, akan tetapi juga bisa mengendap berupa ingatan, atau di proses menjadi gejolak perasaan, seperti rasa gelisah, atau kecewa dan lain sebagainya, atau bisa juga di proses menjadi sikap, seperti suka dan tidak suka. 
Psikologi humanistik, menggambarkan manusia sebagai pelaku aktif dalam merumuskan strategi transak-sional dalam lingkunganya (homo ludens). Selain itu juga di pandang sebagai eksistensi yang positif juga menentukan. Yang di anggap sebagai makhluk yang unik dan memiliki cinta , kreatifitas,  nilai dan makna serta pertumbuhan pribadi. Yang merupakan pusat perhatian teori humanisme, adalah pada makna kehidupan yang mana dalam psikologi humanistik di sebut homo laudens,yakni manusia yang mengerti makna kehidupan.


DAFTAR PUSTAKA
Achmad Mubarok, 2002, Psikologi Dakwah, Pustaka Firdaus, Jakarta.
Faizah, H. Lalu Muchsin Efendi, 2009, Psikologi Dakwah, kencana, Jakarta.
Mat Jarvis, 2000, Teoritical in Approaches in psychology, Routledge, London.
M. Dalyono. 1997. Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta.
Muhibin, Syah. 2002. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Sarlito Wirawan Sarwono, 1978, Berkenalan Dengan Aliran –Aliran Dan Tokoh Tokoh Psikologi, Bulan Bintang, jakarta.
Sumanto, Wasty. 2006. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Rineka Cipta, Jakarta.

[2] M. Dalyono, 1997, Psikologi Pendidikan,  Jakarta: Rineka Cipta, Hal. 7
[3] Sumanto, Wasty,  2006,  Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 18- 20.
[4] Muhibin, Syah,  2002,  Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru,  Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Hal. 14-17.
[5] Sarlito Wirawan Sarwono, 1978, Berkenalan Dengan Aliran –Aliran Dan Tokoh Tokoh Psikologi, Bulan Bintang, jakarta,  hlm. 146
[6] Mat Jarvis, 2000, Teoritical in Approaches in psychology, Routledge, London, hal. 77
[7] Faizah, H. Lalu Muchsin Efendi, 2009, Psikologi Dakwah, kencana, Jakarta, hal. 45 – 49.
[8] Achmad Mubarok, 2002, Psikologi Dakwah, Pustaka Firdaus, Jakarta, Hlm.59-60.

Dari Ruang Kelas Menuju Indonesia Berdaulat: Ketika Guru, Teknologi, dan Kecerdasan Artifisial Menjadi Mitra Pembelajaran Berkarakter

Pendahuluan Indonesia sedang memasuki babak baru dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, terutama hadirnya...