Kamis, 15 November 2012

Dakwah Persuasif


Dakwah Persuasif
A.    Makna Dakwah Persuasif
Dakwah merupakan bahasa Arab, berasal dari kata da’wah yang bersumber pada kata (da’a, yad’u, da’watan) yang bermakna seruan, panggilan, undangan atau do’a. Selain itu dakwah memiliki pengertian upaya memanggil, menyeru, dan mengajak manusia menuju Allah SWT.[1] Perluasan berikutnya dari pemaknaan dakwah adalah aktivitas yang berorientasi pada pengembangan masyarakat muslim, antara lain dalam bentuk peningkatan kesejahteraan sosial.[2]
Usaha untuk mempengaruhi pendapat, pandangan, sikap ataupun tingkah laku seseorang dapat ditempuh dengan cara:
a.       Koersif, yaitu dengan cara paksaan bahkan disertai dengan terror yang dapat menekan batin. Contohnya yaitu adanya penolakan ketidaksetujuan FPI yang kerapkali kita tahu beritanya di media-media dengan cara mereka yang memberontak bahkan anarkis.
b.      Persuasif, yaitu tanpa adanya paksaan dengan mempengaruhi jiwa seseorang sehingga dapat membangkitkan kesadarannya untuk menerima dan menerima suatu tindakan.[3] Persuasif berasal dari istilah bahasa Inggris persuation. Persuation dapat diartikan sebagai membujuk, merayu, meyakinkan, dan sebagainya. Baik koersif ataupun persuasif keduanya bertujuan mengubah perilaku, kepercayaan, dan sikap. Bedanya ialah terletak pada cara penyampaiannya.[4] Contohnya yaitu dakwah yang disampaikan oleh Ust. Maulana yang dapat menggugah pikiran mad’u.
Sehingga dapat dikatakan Dakwah Persuasif adalah proses kegiatan yang mempengaruhi jiwa seseorang (mad’u) sehingga timbul kesadarannya sendiri untuk mengikuti ajakan pendakwah (da’i) dengan cara halus atau tanpa paksaan.
Tanpa kita sadari dakwah berada di kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu dalam situasi dan kondisi yang tengah ada dalam masyarakat hendaknya dapat menerapkan metode dakwah manakah yang paling pas untuk digunakan. Dakwah persuasif harus dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki pengetahuan dan keahlian. Dakwah harus tetap dilakukan sekalipun dihadapkan dengan orang yang kemungkinannya sangat kecil untuk berubah.  
B.     Unsur-Unsur Dakwah
Kondisi psikologis mad'u yang berbeda-beda menyebabkan tingkat pendekatan persuasif dalam berdakwah juga berbeda-beda. Namun untuk mencapai dakwah yang persua­sif jelas ada unsur yang mendukungnya. Unsur-unsur yang menyebabkan suatu dakwah itu per­suasif atau tidak ialah:[5]
1.      Pribadi Da’i
Sosok Da’i yang memiliki kepribadian sangat tinggi dan tak pernah kering jika digali dari pribadi Rasulullah sendiri. Ketinggian pribadi Rasul dapat dilihat pada pernyataan Al-Qur’an. Pengakuan Rasul sendiri dan kesaksian para sahabat yang mendampinginya.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Rasul adalah teladan utama,
http://tafsiralazhar.net46.net/myfile/S-Al-Ahzab/Al-Ahzab-ayat-21-25_files/image004.gif




“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir, dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab/33:21)

Di mata sahabatnya, Rasul SAW adalah guru, teman, orangtua, dan pemimpin, satu gabungan peran yang sangat ideal bagi seorang Da’i. sehingga Beliau layak disebut sebagai Da’i agung.
            Sesuai dengan teori Gestalt, seseorang itu dipersepsi sebagai suatu keseluruhan. Oleh karena itu, jika kepribadian seorang Da’i sudah dipandang tinggi oleh masyarakat mad’u, maka pesan dakwahnya juga dianggap sebagai bagian dari struktur kepribadiannya. Untuk membuat suatu dakwah itu persuasive, pertama-tama seorang Da’i  harus memiliki kriteria-kriteria yang dipandang posistif oleh masyarakat. Kriteria-kriteria itu antara lain :
a.       Memiliki kualifikasi Akademis tentang Islam
Dalam hal ini seorang Da’i sekurang-kurangnya memiliki pengetahuan tentang Al-Qur’an dan Al-Hadis, bahwa Al-Qur’an mempunyai fungsi sebagai petunjuk hidup, nasihat bagi yang membutuhkan (mau’idzah) dan pelajaran yang oleh karena itu, selalu menjadi rujukan dalam menghadapi segala macam persoalan. Cirri seorang Da’i yang berilmu antara lain, ia tidak berani mengatakan apa yang tidak dikuasainya dengan menggunakan term-term yang digunakan oleh ahlinya.
b.      Memiliki konsistensi antar Amal dan Ilmunya
Seorang Da’i sekurang-kurangnya harus mengamalkan apa yang ia serukan kepada orang lain. Perbuatan seorang Da’i tidak boleh melecehkan kata-katanya sendiri, apa yang ia demonstrasikan kepada masyarakat haruslah apa yang memang menjadi keyakinan batinnya, sebab inkonsistensi antara kedua hal tersebut akan membuat seruan dakwahnya tidak berbobot dan tidak berwibawa di depan masyarakat.
c.       Santun dan Lapang Dada
Sifat santun dan lapang dada yang memiliki seseorang merupakan indicator dari ketulusan ilmunya dan secara khusus kemampuannya mengendalikan akalnya (ilmunya) dalam praktek kehidupan. Cirri orang santun adalah lembut tutur katanya, tenang jiwanya, tidak gampang marah dan tidak suka omong kosong. Secara psikologis, kepribadian santun dan lapang dada seorang Da’i akan membuat orang mad’u terikat perasaannya, lebih daripada pemahaman melalui pikirannya sehingga masyarakat mad’u cenderung ingin selalu mendekatinya
d.      Bersifat Pemberani
Daya tarik kepemimpinan seseorang antara lain terletak pada keberaniannya. Keberanian yang diperlukan oleh seorang Da’i sudah tentu berbeda dengan keberanian kelompok oposisi yang lebih menekankan asal berbeda, atau keberanian yang asal berani, tetapi keberanian yang konstruktif, yang sejalan dengan konsep dasar dakwah, yaitu keberanian mengemukakan kebenaran. Dalam hal keberanian berargumen, berdialog dan berdebat, seorang Da’i  dituntut untuk tetap konsisten dengan tujuan dakwah bukan asal menang. Oleh karena itu, seorang Da’i tidak dibenarkan mencacimaki agama atau keyakinan orang lain.
e.       Tidak Mengharapkan Pemberian dari Orang
Iffah artinya hatinya bersih dari pengharapan terhadap apa yang ada pada orang lain. Seorang Da’i yang tak terlintas sedikitpun di dalam hatinya keinginan terhadap harta orang lain, maka ia dapat merasa sejajar atau bahkan lebih tinggi atau sekurang-kurangnya memiliki kemerdekaan di dalam dirinya.
f.       Qana’ah atau Kaya Hati
Seorang Da’i boleh miskin harta, tetapi tidak boleh miskin hati, karena kaya hati (qana’ah) itu lebih tinggi nilainya disbanding kekayaan harta. Dalam perspektif psikologi, orang yang memiliki harta melimpah tetapi masih merasa banyak kekurangan dan tidak sempat berpikir untuk memberikan pada orang lain, maka ia adalah orang miskin. Sebaliknya orang yang sebenarnya tidak memiliki kekayaan yang berarti tetapi ia merasa berkecukupan, merasa bersyukur dan bahkan sanggup memberikan sebagian besar milikinya untuk orang lain yang lebih membutuhkan, maka ia adalah orang kaya.
g.      Kemampuan Berkomunikasi
Dakwah adalah mengkomunikasikan pesan kepada mad’u. komunikasi dapat dilakukan dengan lisan, tulisan atau perbuatan, dengan bahasa kata-kata atau bahasa perbuatan. Komunikasi dapat berhasil manakala pesan dakwah itu dipahami oleh mad’u. kaum intelektual lebih mudah memahami bahasa ilmiah sedangkan orang awam lebih mudah memahami bahasa awam. Jadi, seorang Da’i dituntut dapat menggunakan metode yang tepat dalam mengkomunikasikan pesan dakwahnya.
h.      Memiliki Rasa Percaya diri dan Rendah Hati
Seorang Da’i harus memiliki rasa percaya diri, yakni bahwa selama dakwahnya dilandasi oleh keikhlasan dan dijalankan dengan memakai perhitungan yang benar dan mengharap ridha Allah, insyaAllah akan membawa manfaat. Dalam perspektif islam, rendah hati justru akan mendatangkan kehormatan, sementara kesombongan justru akan mengantar pada kehinaan.
i.        Tidak Kikir Ilmu
Pada dasarnya seorang Da’i  dapat diibaratkan sebagai danau menampung air hujan, menyimpannya dan menyediakan diri bagi orang yang membutuhkan. Dalam puncak kerjanya, seorang Da’I dapat diibaratkan sebagai ember yang membawa air dari danau untuk disiramkan ke pohon-pohon yang kekeringan. Jadi, ilmu yang dipelajari oleh seorang Da’i adalah diperuntukkan bagi kepentingan mad’u. oleh karena itu, ia tidak pernah kikir terhadap ilmunya.
j.        Anggun
Salah satu cirri keanggunan seseorang ialah kepribadiannya tetap tersembunyi meskipun namanya sudah banyak dikenal. Rahasia keanggunan justru terletak pada kemampuannya menyembunyikan sisi-sisi pribadinya dari pengetahuan orang banyak.
k.      Selera Tinggi
Artinya ia tidak merasa puas dengan hasil kerja yang tidak sempurna
l.        Sabar
Seorang Da’I dituntut untuk mampu bersabar dalam menghadapi rintangan-rintangan itu. Urgensi sabar berkaitan erat, dengan pencapaian tujuan. Oleh karena itu, Da’i yang selalu ingat akan tujuan utama dakwahnya, ia akan mampu bersabar dan tabah.
m.    Memiliki Nilai Lebih
Manusia cenderung tertarik kepada orang yang memiliki kelebihan dalam bidang apapun. Seorang Da’i yang juga berperan sebagai pemimpin haruslah memiliki nilai lebih atau nilai plus disbanding orang lain yang dipimpin. Oleh karena itu, agar dakwahnya menarik dan mempunyai daya panggil, seorang Da’i yang tidak memiliki nilai plus, apalagi jika dibawah rata-rata maka meskipun kata-kata dakwahnya indah didengar, tetapi tidak atau kurang mempunyai daya panggil, tidak menyentuh hati nurani tak menggores jiwa mad’u.

Kriteria diatas merupakan salah satu pendukung terciptanya dakwah persuasif, tetapi tidak menutup kemungkinan jika ada beberapa criteria yang mungkin tidak terdapat dalam diri seorang da’i selama dakwah yang diberikan dapat mempengaruhi jiwa mad’u atas keinginan diri mad’u itu sendiri maka dapat dikatakan bahwa dakwah tersebut adalah dakwah persuasif. Jadi, criteria seorang da’i hanya sebagai standart dalam keilmuan tetapi kenyataannya seorang da’i juga memiliki kekurangan sehingga tolak ukur dakwah persuasive adalah penyampaian dakwah da’i yang dapat diterima dan dipahami oleh mad’u dengan  tujuan yang diinginkan (mempengaruhi) mad’unya.

Kesimpulan :
Dakwah Persuasif adalah proses kegiatan yang mempengaruhi jiwa seseorang (mad’u) sehingga timbul kesadarannya sendiri untuk mengikuti ajakan pendakwah (da’i) dengan cara halus atau tanpa paksaan.
Usaha untuk mempengaruhi pendapat, pandangan, sikap ataupun tingkah laku seseorang dapat ditempuh dengan cara:
c.       Koersif, yaitu dengan cara paksaan bahkan disertai dengan terror yang dapat menekan batin. Contohnya yaitu adanya penolakan ketidaksetujuan FPI yang kerapkali kita tahu beritanya di media-media dengan cara mereka yang memberontak bahkan anarkis.
d.      Persuasif, yaitu tanpa adanya paksaan dengan mempengaruhi jiwa seseorang sehingga dapat membangkitkan kesadarannya untuk menerima dan menerima suatu tindakan.[6] Persuasif berasal dari istilah bahasa Inggris persuation. Persuation dapat diartikan sebagai membujuk, merayu, meyakinkan, dan sebagainya. Baik koersif ataupun persuasif keduanya bertujuan mengubah perilaku, kepercayaan, dan sikap. Bedanya ialah terletak pada cara penyampaiannya.[7] Contohnya yaitu dakwah yang disampaikan oleh Ust. Maulana yang dapat menggugah pikiran mad’u.

Unsur-unsur yang menyebabkan dakwah itu persuasive ialah: Pesona Da’I, Materi Dakwah, dan Kondisi Psikologis Mad’u





DAFTAR PUSTAKA

Jumantoro, T., 2001, Psikologi Dakwah dengan Aspek-Aspek Kejiwaan yang Qur’ani, Amzah,   Jakarta.
Moh. A.A., 2009, Ilmu Dakwah, Kencana, Jakarta.
Mubarok, A., 2002, Psikologi Dakwah, Pustaka firdaus, Jakarta.
Sukayat, T., 2009, Quantum Dakwah, Rineka Cipta, Jakarta.
Sulthon, M., 2003, Desain Ilmu Dakwah (Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis), Pustaka Pelajar, Yogyakarta.


[1] Tata Sukayat, 2009, Quantum Dakwah, Rineka Cipta, Jakarta, hal. 1.
[2] Muhammad Sulthon, 2003, Desain Ilmu Dakwah (Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 16.
[3] Moh. Ali Aziz, 2009, Ilmu Dakwah, Kencana, Jakarta, hal. 446.
[4] Totok Jumantoro, 2001, Psikologi Dakwah dengan Aspek-Aspek Kejiwaan yang Qur’ani, Amzah, Jakarta, hal. 148.
[5] Ahmad Mubarok, 2002, Psikologi Dakwah, Pustaka firdaus, Jakarta, hlm. 162.
[6] Moh. Ali Aziz, 2009, Ilmu Dakwah, Kencana, Jakarta, hal. 446.
[7] Totok Jumantoro, 2001, Psikologi Dakwah dengan Aspek-Aspek Kejiwaan yang Qur’ani, Amzah, Jakarta, hal. 148.

BENTUK-BENTUK INTERAKSI DAN INTERAKSI SOSIAL DALAM PROSES DAKWAH

BENTUK-BENTUK INTERAKSI DAN INTERAKSI SOSIAL 
DALAM PROSES DAKWAH

1.    Bentuk-Bentuk Interaksi
     Setidaknya ada dua macam bentuk interaksi sosial sebagai wujud proses sosial dalam kehidupan masyarakat. Dua bentuk proses interaksi sosial, yaitu proses asosiatif dan proses disosiatif.

1. Proses Asosiatif
     Proses asosiatif adalah jenis interaksi soaial yang mengarah pada persatuan dan dapat meningkatkan hubungan solidaritas antar individu / kelompok. Macam-macam proses asosiatif dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.    Kerjasama (cooperation)
     Kerjasama merupakan bentuk interaksi sosial yang utama. Kerjasama dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Kerjasama merupakan bentuk proses sosial yang baik, tetapi bukan kerjasama dalam hal yang negatif, seperti kerjasama ketika para siswa sedang melakukan ulangan atau ujian. Menurut James D. Thomson dan William J. Mc Ewe, ada lima bentuk kerja sama bila ditinjau dari pelaksanaannya sebagai berikut:
1)    Kerukunan
 Kerukunan adalah hidup berdampingan secara damai dan melakukan kerjasama secara bersama-sama. Kerukunan dapat ditunjukkan dari kegiatan kerja bakti yang dilakukan warga atau secara bergiliran melakukan ronda untuk menjaga keamanan kampung. Kerukunan pada intinya mencakup gotong-royong dan tolong-menolong.
2)    Tawar-menawar (bargaining)
 Tawar-menawar adalah bentuk perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.
3)     Kooptasi
Kooptasi adalah kerjasama dalam bentuk mau menerima pendapat atau ide orang atau kelompok lain. Hal itu diperlukan agar kerjasama dapat berlanjut dengan baik. Contoh: untuk memenuhi kekurangan stok beras dalam negeri akhirnya pemerintah mengadakan perjanjian tukar menukar beras dengan peralatan persenjataanyang juga dibutuhkan Negara tetangga.
4)     Koalisi
Koalisi adalah bentuk kerjasama antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai kesamaan tujuan. Koalisi dilakukan agar memperoleh hasil yang lebih besar.
5)    Joint venture
Joint venture adalah bentuk kerjasama yang dilakukan oleh beberapa perusahaan. Dengan joint venture diharapkan hasil atau keuntungan yang diperoleh dari sebuah usaha akan lebih besar. Contoh: Bu Mia meras kerajinannya kurang berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Ketika bertemu dengan Bu Yanti yang memiliki galeri kerajinan, beliau menawarkan kerja sama untuk mengisi galeri Bu Yanti yang sepi produk kerajinan. Dengan demikian kedua orang tersebut memperoleh keuntungan dalam bidang ekonomi. 

b.   Akomodasi (accomodation)
     Akomodasi dipergunakan dalam dua arti, yaitu yang  menunjuk pada suatu keadaan dan yang menunjuk pada suatu proses. Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadaan, berarti adanya suatu keseimbanga dalam interaksi di antara orang-orang, yang kaitan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sedangkan sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk mencapai kestabilan.
     Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya. Ada beberapa bentuk akomodasi. Bentuk-bentuk akomodasi tersebut antara lain sebagai berikut:

1)    Koersi (coercion)
Paksaan merupakan bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya unsuur paksaan. Paksaan merupakan bentuk akomodasi dengan salah satu pihak berada dalam keadaan yang lemah dibandingkan dengan pihak lawan. Contoh: guru menyuruh siswa mengerjakan PR.
 2)    Kompromi
Kompromi adalah bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya, agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada. Contoh: buruh pabrik minta upahnya dinaikkan menjadi 50000 perhari, sedangkan pimpinan mampu membayar 45000 perhari. Dicapai kesepakatan perhari dg gaji 47500.
 3)    Penengah (arbitration)
Adanya penengah (arbitration) atau pihak ketiga merupakan suatu cara unruk mencapai kompromi apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapai penyelesaian. Pertentangan diselesaikan oleh pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak yang bertentangan. Contoh: penyelesaian konflik buruh & majikan dengan mengundang disnaker.
4)    Mediasi
 Mediasi menyerupai penengah. Pada mediasi hadirnya pihak ketiga hanya sebagai penasihat belaka. Tugas pihak ketiga adalah memberi nasihat agar para pihak yang bertikai menemukan penyelesaian untuk selanjutnya melakukan perdamaian. Contoh: konflik kelompok islam dengan pemerintah Filipina, RI sebagai penengah.
 5)    Konsiliasi
Konsilisasi adalah suatu usaha mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu tujuan bersama.
 6)    Toleransi
Sikap saling menghargai satu pihak dengan pihak lain. Suatu sikap menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat. Contoh: orang non muslim menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa.
7)    Stalemate
Terperangkap hingga tak dapat bergerak lagi adalah suatu bentuk akomodasi di mana dua pihak yang sedang berselisih yang mempunyai kekuatan seimbang berhenti pada suatu titik tertentu. Contoh: selesainya perang iran dan irak yang berlangsung pada tahun 1980-1988
 8)    Ajudikasi
Keputusan pengadilan adalah penyelesaian perselisihan melalui jalan pengadilan. Hal ini dilakukan karena kedua belah pihak mengalami kesulitan mencari jalan damai. Contoh: perceraian suami istri, sengketa lahan.

c.    Asimilasi
     Asimilasi adalah penyesuaian sifat-sifat asli yang dimiliki dengan sifat-sifat sekitar. Dalam hal proses sosial, asimilasi berkaitan dengan peleburan perbedaan budaya.
Beberapa faktor yang mempermudah asimilasi adalah toleransi, sikap menghargai orang asing, sikap terbuka yang dimiliki para pemimpin, persamaan unsur-unsur kebudayaan, dan kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi. Missal: perkawinan antar suku yang berbeda memungkinkan terjadinya consensus untuk membentuk satu pola baru yang berbeda dengan kebudayaan lama. Dua orang dari kebudayaan yang berbeda akan membentuk consensus mengenai pola kebudayaan baru setelah terikat system perkawinan.

d. Akulturasi
Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai akibat pertemuan (kontak budaya) secara langsung dan terus – menerus antar kelompok manusia yang memiliki kebudayaan berbeda namun tidak menghilangkan ciri atau sifat asli dari masing – masing kebudayaan.
Bangunan candi di Indonesia contohnya. Pada Candi Prambanan, bangunannya berbentuk punden berundak dan relief–reliefnya mengangkat kisah Ramayana. Jadi dapat disimpulakn bahwa Indonesia mendpat pengaruh dari negara lain yaitu India, Thailand dan Kamboja. Meskipun demikian suasana yang digambarkan pada relief tersebut masih menggambarkan suasana alam Indonesia yang indah nan asri, sehinnga masih mencerminkan ciri khas dari Indonesia.

e. Amalgamasi
    Amalgamasi adalah meleburnya dua kelompok budaya menjadi satu dan melahirkan suatu hal baru. Proses amalgamasi mempertegas hilangnya perbedaan-perbedaan yang ada. 

2.    Proses Disosiatif
Proses disosiatif adalah bentuk interaksi sosial yang dapat merenggangkan hubungan solidaritas antarindividu. Proses disosiatif meliputi persaingan, kontravensi, dan konflik.

a.    Persaingan (competition)

Persaingan adalah proses sosial dimana individu atau kelompok manusia bersaing mencari keuntungan melalui suatu bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum, dengar. cara menarik perhatian publik atau mem-pertajam prasangka yang ada, tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan. Beberapa bentuk persaingan antara lain persaingan ekonomi, persaingan kebudayaan, persaingan kedudukan dan peranan, serta persaingan ras. Contoh: dua orang kakak beradik dalam pergaulan sehari-hari mereka terikat tata sopan santunyang berlaku. Tetapi ketika mengikuti perlombaan lari cepat, mereka harus mengikuti peraturan yang berlaku dalam perlombaan, dan menanggalkan segala etika yang berlaku dalam ikatan persaudaraan.

b. Kontravensi (contravention)

Kontravensi adalah usaha untuk merintangi atau meninggalkan tercapainya tujuan pihak lain. Pada hakikatnya kontravensi merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Kontravensi adalah sikap mental yang tersembunyi terhadap orang-orang lain atau unsur-unsur kebudayaan golongan tertentu, yang dapat berubah menjadi bencian, tetapi tidak sampai pada pertentangan pertikaian. Secara umum, bentuk kontravensi meliputi gangguan, fitnah, penolakan, keengganan, perlawanan, perbuatan menghalang-halangi, protes, dan mengecewakan rencana pihak lain. Contoh: agus gagal menjadi ketua kelas karena ada desas-desus yang berasal dari kandidat lain. Agus dikabarkan mengambil jajan di kantin tanpa membayar. Desas-desus mengenai diri agus yang belum tentu benar merupakan bentuk kontravensi dari pihak lain untuk menggagalkan tujuan agus untuk menjadi ketua kelas.

 c.   Pertentangan/pertikaian (conflict)

 Pertentangan adalah suatu proses sosial ketika seseorang / kelompok dengan sadar atau tidak sadar menentang pihak lain disertai ancaman atau kekerasan untuk mendapatkan keinginan / tujuan. Pertentangan atau pertikaian terjadi jika masing-masing pihak yang sedang mengadakan interaksi, tidak menemukan kesepahaman mengenai sesuatu, kemudian berlanjut menjadi adu kekuatan, lalu timbul adanya pertentangan atau pertikaian. Pertentangan atau pertikaian tersebut dapat bersifat sementara atau terus-menerus. Contoh: tawuran antar pelajar. 

B. Interaksi Sosial Dalam Proses Dakwah

1. Makna Interaksi Sosial

    Manusia sebagai makhluk sosial (homo socius), tidak mungkin lepas dari pengaruh lingkungannya, dengan kata lain berbicara interaksi sosial, sehingga akan lebih jauh mengkaji, menganalisis “manusia sebagai makhluk sosial”. Interaksi sosial sebagai sebuah bentuk atau suatu hubungan antara dua atau lebih manusia, dimana tingkah laku manusia yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan manusia yang lain atau sebaliknya.
    Bahwa di dalam proses interaksi itu terdapat tindakan saling pengaruh-mempengaruhi antara individu yang satu dengan yang lain, baik individu itu dalam keadaan perorangan (personal) ataukah dalam kelompok sosial. Kalau kita kaitkan dengan dakwah, maka dalam dakwah dikenal dengan istilah personal approach atau “dakwah face to face”, sehingga terjadi proses pengaruh-mempengaruhi antara da’I dengan mad’u atau sebaliknya.
2. Faktor Dasar Interaksi Sosial
H. Bonner, dalam karyanya social psychology, yang di kutip Dr. W.A. Gerundang Dipl. Psych (1986, 58) menyatakan bahwa ada empat factor dasar dalam interaksi sosial, yaitu: factor imitasi, factor sugesti, factor identifikasi, dan factor simpati.

a. Imitasi

    Imitasi merupakan proses belajar manusia dalam masyarakat sebagai proses mematangkan kepribadiannya. Misalnya, kita tempatkan seorang anak belajar berbicara. Mula-mula ia akan mengimitasi kata-kata “ba-ba atau la-la”, guna melatih fungsi lidah. Kalau proses ini kita kaitkan dengan proses dakwah pada anak dikeluarga, maka factor teladan dari orang tua sangat kuat pengaruhnya.
    Nabi Muhammad sendiri menjadi teladan umat manusia, baik umat islam maupun non-Islam. Baik dalam kehidupan muamalah, ibadah, ataupun kehidupan lainnya (khususnya muslim), bahkan kalau kita mau bersikap objektif umat non islam pun dapat mengambil hikmah perilaku dan teladan Rasulullah saw.
    Lewat suri tauladan (teladan sebagai metode dakwah) maka manusia belajar kebiasaan yang baik dan akhlak yang mulia. Begitu pula sebaliknya, apabila kita terbiasa dangan kebiasaan yang buruk maka kita akan mendapatkan akhlak yang tercela sebagai buahnya. Di sinilah pentingnya imitasi dalam dakwah. Sebagai seorang da’I  renungkanlah

b. Sugesti

    Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya dengan interaksi sosial hamper sama. Bedanya adalah dalam imitasi itu orang yang satu mengikuti sesuatu yang ada di luar dirinya, sedangkan pada sugesti seseorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya yang lalu diterima oleh orang lain di luarnya. Dengan harapan orang yang sugesti itu menerima pesan tanpa keritik terlebih dahulu. Sehingga sugesti bukan bersifat rasional akan tetapi mendahulukan ras. Dalam hal ini Menike menulis: “Sugesti adalah pengaruh psikis-rohaniah, yang dalam diri komunikan menghasilkan suatu sikap atau keyakinan tertentu, tanpa dirasakannya adanya keperluan untuk meminta pertanggungjawaban serta keterangan dan pembuktian lebih lanjut dari pemberi sugesti (komunikator).”
    Sugesti dalam ilmu jiwa sosial, sering diartikan sebagai suatu proses dimana individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Ada pula yang menganggap sugesti sebagai suatu rangsangan yang dapat mengendurkan atau menguatkan sikap, perhatian, atau keinginan-keinginan mad’u.
    Sugesti merupakan proses mempengaruhi orang lain, dengan tujuan tingkah laku (behavior), bersikap (attitude) pendapat (oppinion) supaya identik dengan kita. Begitu pula dakwah dengan tujuan, agar mad’u itu mengikuti jalan yang Islamis. Tidak terlalu tergesah-gesah pada hakikatnya antara keduanya memiliki hubungan yang erat sekali, bahkan dakwah merupakan sugesti pada orang lain.

c. Identifikasi

Identifikasi adalah sebuah istilah dalam psikologi-psikoanalisis-Sigmund freud, dimana Dr. W.A. Gerungan membatasi “dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain”. Kecenderungan disini bersifat tidak sadar dan irasional.
Sebagai ilustrasi, bagi seoarang anak, sang ayah adalah refleksi sifat kejantanan, kewibawaan, dan kepemimipinan. Sedang ibu adalah idola dari perwujudan kelembutan dan kasih saying. Dengan demikian metode keteladanan dalam dakwah mutlak sifatnya, sebab orang lain akan lebih dulu melihat tindak tanduk dan perilaku kita. Sehingga ada pepatah mengatakan “lihat orangnya dan jangan lihat apa yang di ucapkannya”, walaupun Ali bin Abi Thalib ra. Mengingatkan: “lihat apa yang diucapkan dan bukan siapa yang mengucapkan”, tetapi realitasnya lain. Di sinilah peran orang tua dalam menumbuhkan religious consciousness atau rasa keagamaan pada anak-anaknya, salah satu caranya adalah menumbuhkan iklim religious dan teladan bagi anak-anaknya. Islam menggarisbawahi tentang kehidupan keluarga ini.
Di sini jelaslah kewajiban orang tua memberi contoh yang baik dan bertanggungjawab kepada anggota keluarganya, sebab ia sebagai model identifikasi. Begitu pula dalam dakwah, da’I merupakan the best example dalam lingkungan masyarakat.

d. Simpati

Simpati dapat dirumuskan sebagai perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tetapi berdasarkan penilaian perasaan, seperti juga dalam proses identifikasi (Dr. W.A. Gerungan, 1986, 69). Sehingga factor ini memiliki peran yang cukup mendalam dalam interaksi sosial. Dengan simpati maka situasi kerja sama akan lebih mudah terjadi.
    Dalam proses interaksi dalam dakwah, factor simpati ini besar sekali perannya. Karena salah satu yang tidak dapat diabaikan dalam proses dakwah adalah terlebih dahulu membangkitkan rangsangan (stimulan) yang akan memberikan jalan pada mad’u. untuk membangkitkan itu, maka da’I harus mengadakan empati terlebih dahulu. Karenanya, factor simpati itu, kita sering melihat dakwah nonverbal (teladan dakwah bil hal) mempunyai pengaruh yang tidak kalah pentingnya dengan dakwah verbal. Pribahasa arab menulis: “Perbuatan itu lebih besar pengaruhnya dari pada kata-kata yang diucapkan”.
    Dari argument diatas dapat disimpulkan bahwa seorang da’I harus mampu menumbuhkan rasa simpati pada mad’u. Sekiranya mad’u sudah tidak simpati terlebih dahulu dengan da’I jangan diharapkan terjadi feed back dalam dakwah, apalagi tujuan dakwah akan terealisasi, mungkin hanya “counter effect” yang diterimanya, atau bahkan kita ditolak secara mentah-mentah. 
Kegiatan dakwah adalah sebuah proses sosial di mana di dalam setiap proses dakwah terdapat factor yang saling berhubungan dan memengaruhi antara satu factor dengan factor yang lainnya. Factor-faktor tersebut adalah:

a.    Pelaksana Dakwah (Da’i)
Da’I merupakan kunci yang menentukan keberhasilan dan kegagalan dakwah. Oleh karena itu, dalam factor ini terdapat cirri-ciri serta persyaratan-persyaratan jasmani maupun rohani yang sangat kompleks bagi pelaksana yang sekaligus menjadi penentu dan pengendali sasaran dakwah.

b.    Objek Dakwah (Mad’u)
Objek atau sasaran dakwah berupa manusia yang harus di bimbing dan dibina menjadi manusia beragama sesuai dengan tujuan dakwah. Objek dakwah dilihat dari aspek psikologis memiliki variabilitas yang luas dan rumit menyangkut pembawaan dan pengaruh lingkungan yang berbeda yang menuntut pendekatan berbeda pula.

c.    Lingkungan Dakwah
Lingkungan dakwah adalah suatu factor yang besar pengaruhnya bagi perkembangan sasaran dakwah, berupa individu maupun kelompok manusia serta kebudayaan.

d.    Media Dakwah
Media dakwah adalah factor yang dapat menentukan kelancaran proses pelaksanaan dakwah. Factor ini disebut juga defent variables, artinya dalam penggunaannya atau efektivitasnya tergantung pada factor lain terutama orang yang menggunakannya.

e.    Tujuan Dakwah
Tujuan dakwah adalah suatu factor yang menjadi pedoman arah proses yang dikendalikan secara sistematis dan konsisten.
   
Dalam kegiatan dakwah selalu terjadi proses interaksi, yaitu hubungan antara da’I di satu pihak dan mad’u (objek dakwah) di pihak lain. Interaksi dalam proses dakwah ini ditujukan untuk mempengaruhi mad’u yang akan membawa perubahan sikap sesuai dengan tujuan dakwah yaitu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. 

        DAFTAR PUSTAKA
Faizah, Muchsin Effendi Lalu. Psikologi Dakwah, Jakarta: Prenada Media, 2006
Totok Jumantoro. Psikologi Dakwah, Jakarta: Amzah, 2001
Widyabakti Hesti Kawedar, Wijayanti Diatmika. Sosiologi, Klaten: Intan Pariwara, 2011
Sunaryo, Psikologi Perawatan, Jakarta: EGC, 2001
Kusuma, Widjaja, Pengantar Psikologi, Jakarta: Interaksara, 1969

Dari Ruang Kelas Menuju Indonesia Berdaulat: Ketika Guru, Teknologi, dan Kecerdasan Artifisial Menjadi Mitra Pembelajaran Berkarakter

Pendahuluan Indonesia sedang memasuki babak baru dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, terutama hadirnya...