Senin, 10 Maret 2025

Kebersamaan MPI-C



Bersama kita meniti jalan,
dalam lautan ilmu nan luas terbentang.
Setapak demi setapak berjalan,
demi masa depan yang kian terang.

Tiada lelah, tiada ragu,
karena kita melangkah bersama.
Menggapai ilmu, meraih restu,
agar kelak bahagia menyapa.

Ujian tuntas, gelar menanti,
doa terlantun dalam hati.
Bersama kita, teguh berdiri,
mengukir jejak, menulis abadi.

Wisuda pun kan tiba jua,
menjadi nyata, bukan angan semata.
Bersama MPI-C, kita melangkah,
menggapai mimpi, dengan penuh berkah.

Read : Ifa Ratnasari

Perjalanan Titian Ilmu bersama MPI-C

 


Di bawah langit yang luas membentang,
kita melangkah dengan harapan terang.
Bersama pena, kertas, dan mimpi,
meniti jalan menuju hakikat hakiki.

Hari-hari penuh tanya dan makna,
kita lalui dengan jiwa yang setia.
Bahu membahu, saling menguatkan,
di lorong ilmu yang tak berkesudahan.

Proposal tersusun, ujian menanti,
gugup menyelinap, namun tak sendiri.
Dalam ruang yang dipenuhi debar,
kita bertahan, kita bersinar.

Dan saat jawaban mengalir deras,
senyum dan doa pun tak terlepas.
Syukur terucap, hati mengembang,
satu langkah menuju gemilang.

Waktu berputar, kelulusan menjelang,
wisuda di depan, tak lagi bayang.
Bersama kita, hingga purna,
meraih asa, menggapai cita.

read : Ifa Ratnasari



Perjuangan dalam ilmu pengetahuan

Di lorong sunyi malam yang panjang,
kuanyam mimpi di antara lembaran terang.
Kata demi kata, bak titian bening,
menyatu dalam risalah yang kian menggema.

Kutata teori, kurangkai makna,
di atas pena yang menari mesra.
Tiap paragraf, tiap aksara,
adalah jejak perjalanan jiwa.

Lalu tiba hari penuh debar,
di hadapan para penjaga nalar.
Aku berdiri, tak hanya dengan kata,
namun dengan keyakinan yang menjelma nyata.

Pertanyaan datang, ujian menantang,
namun aku teguh, tak goyah, tak gamang.
Karena ilmu bukan sekadar hafalan,
tapi nyala cahaya dalam genggaman.


                                                Syukur alhamdulillah, langit tersenyum,
                                                aku melangkah, kuhirup harum.
                                                Bukan akhir, tapi awal yang baru,
                                                sebab ilmu adalah petualangan tanpa ragu.
read: Ifa Ratnasari

 

Senin, 20 Januari 2025

Lentera Pramuka



Di ujung cakrawala harapan terpancar,
Pramuka, lentera yang tak boleh pudar,
Menuntun tunas muda melangkah tegap,
Menyulam asa di tengah zaman yang sergap.

Bukan sekadar seragam cokelat nan rapi,
Tapi jiwa yang berani, tangguh, dan suci,
Di hutan, di gunung, di pantai terbuka,
Nilai-nilai hidup terajut bersama.

Aku ingin melihat api unggun menyala,
Di tengah tawa yang hangat di bawah bintang,
Di mana janji setia diucap penuh rasa,
Menjadi pedoman dalam hidup yang panjang.

Pramuka, bukan soal wajib atau tidak,
Namun tentang warisan jiwa yang kuat,
Untuk generasi yang mencintai negeri,
Berbakti tanpa pamrih, sejati dalam hati.

Maka, mari kita nyalakan harapan ini,
Menanam semangat dalam diri setiap insani,
Agar pramuka tetap hidup dan bersemi,
Menjadi pijar terang di negeri pertiwi.

Read : Kak Ifa Ratnasari

Asa di Tenda Masa Depan



Di bawah langit yang tak pernah usang,
Ada harapan yang tak henti bergetar,
Untuk pramuka yang terus hidup di hati,
Walau waktu mencoba memudarkan arti.

Kami titipkan doa pada api unggun,
Agar nyalanya tak pernah padam,
Menjadi lentera di tengah gelap zaman,
Menerangi jalan generasi yang kian samar.

Kelak, pramuka bukan hanya tradisi,
Tapi pilihan hati yang penuh makna,
Di mana setiap simpul tali yang terikat,
Menjalin persaudaraan lintas masa.

Aku percaya, tenda-tenda itu akan berdiri lagi,
Di padang luas yang menantang mimpi,
Dengan langkah tegar para penegak bangsa,
Menyusuri jalan, membawa panji Indonesia.

Kegiatan ini bukan sekadar permainan,
Namun medan belajar yang membentuk insan,
Mereka yang tahu cara berdiri saat jatuh,
Dan tak pernah lelah berjuang untuk teguh.

Mari kita bangun harapan ini bersama,
Untuk tunas muda yang tak takut badai,
Agar pramuka terus menjadi nafas bangsa,
Mengajarkan nilai yang tak lekang oleh waktu.

Di masa depan, aku ingin melihat,
Pramuka berdiri di setiap hati anak negeri,
Menjadi cahaya, menjadi pelita,
Untuk Indonesia yang penuh cinta.

Read: Kak Ifa Ratnasari


Kemarin yang Membekas, Perjuangan di Tengah Keputusan




 

Kelanjutan Cerita (Part 4):

Hari demi hari, komunitas Pramuka mandiri yang kami bangun semakin berkembang. Tidak hanya anak-anak dari sekolah tempatku mengajar, tetapi juga siswa dari sekolah lain mulai bergabung. Orang tua mereka datang dengan harapan agar anak-anaknya tetap mendapatkan nilai-nilai pendidikan karakter yang selama ini mereka percaya hanya Pramuka yang mampu memberikannya.

Sore itu, aku menerima telepon dari Pak Rahmat. Suaranya terdengar penuh semangat.

"Kak Ifa, saya ingin mengundang Anda untuk berbicara di forum kepala sekolah kabupaten minggu depan. Saya ingin Anda berbagi tentang bagaimana Anda mempertahankan kegiatan Pramuka meski tanpa dukungan kebijakan formal," katanya.

Aku terdiam sejenak. Aku tidak pernah berpikir perjuangan kecil ini akan menarik perhatian sejauh itu. "Terima kasih, Pak. Ini kehormatan besar. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik," jawabku.

Hari yang dijanjikan pun tiba. Dengan Seragam Coklat muda , coklat tua sederhana dan setangan merah putih Pramuka yang selalu kubanggakan, aku melangkah ke aula tempat forum itu digelar. Di depan, para kepala sekolah dan pejabat pendidikan duduk mendengarkan. Aku mulai bercerita, bukan tentang pencapaian besar, tetapi tentang nilai-nilai kecil yang kami perjuangkan setiap hari tentang bagaimana Fahril kini menjadi pemimpin yang percaya diri, tentang Dina yang belajar arti kebersamaan, dan tentang tawa anak-anak yang menghidupkan kembali semangatku.



"Apa yang kami lakukan mungkin sederhana," kataku menutup presentasi, "tetapi saya percaya, Pramuka bukan hanya tentang ekstrakurikuler. Ini adalah tentang membentuk manusia seutuhnya. Dan tugas kita, sebagai pendidik, adalah memastikan ruang itu tetap ada, meski dalam bentuk yang berbeda."

Ruangan itu hening sejenak sebelum tepuk tangan menggema. Aku merasa beban yang selama ini menghimpit perlahan terangkat. Mungkin, perjuangan kecil kami akan menjadi awal dari gerakan yang lebih besar.

Malam itu, saat aku kembali ke rumah, aku duduk di beranda sambil menatap langit. Pikiranku melayang ke wajah anak-anak yang penuh harapan. Aku tahu, jalan ini masih panjang, tetapi aku tidak sendiri. Ada begitu banyak orang yang peduli, yang percaya bahwa pendidikan tidak hanya tentang nilai akademis, tetapi juga tentang membentuk karakter dan jiwa.

"Kemarin mungkin menyakitkan," bisikku pada diri sendiri, "tetapi hari ini kita melangkah dengan keyakinan. Dan esok, kita akan menciptakan masa depan yang lebih baik, bersama-sama."

Aku menutup malam itu dengan doa, berharap perjuangan ini terus diberkahi. Karena seperti yang selalu diajarkan oleh Pramuka,” tidak ada tantangan yang terlalu besar jika dihadapi dengan semangat dan kebersamaan.” Read: Kak Ifa Ratnasari

Minggu, 19 Januari 2025

Kemarin yang Membekas, Perjuangan di Tengah Keputusan (6)

 


Kelanjutan Cerita (Part 3):

Kegiatan-kegiatan komunitas Pramuka mandiri mulai menarik perhatian. Suatu hari, aku dikejutkan oleh kunjungan seorang tamu tak terduga. Pak Rahmat, seorang pengawas pendidikan dari kabupaten, datang ke lapangan tempat kami berkegiatan.

"kak Ifa, saya mendengar banyak hal baik tentang komunitas ini," katanya sambil menyalami tanganku. "Apa saya boleh melihat langsung kegiatan kalian hari ini?"

Aku sedikit gugup, tetapi juga bangga. "Tentu, Pak. Silakan bergabung," jawabku sambil mempersilakan beliau untuk melihat anak-anak yang sedang berlatih pionering.

Pak Rahmat mengamati dengan saksama. Ia tersenyum melihat Aldi memberikan instruksi dengan suara lantang, memimpin timnya menyelesaikan menara sederhana dari bambu. "Luar biasa," gumamnya. "Saya kira, keputusan itu akan mematikan semangat Pramuka. Tapi ternyata, Anda membuktikan sebaliknya."

Aku tersenyum kecil. "Semangat mereka yang membuat ini semua mungkin, Pak. Saya hanya mencoba menjaga agar api itu tidak padam."

Pak Rahmat mengangguk pelan. "Saya akan berbicara dengan beberapa pihak. Mungkin komunitas seperti ini bisa menjadi model untuk daerah lain. Saya yakin, Pramuka tetap relevan di mana pun."

Setelah Pak Rahmat pergi, aku merasa harapan baru mulai muncul. Dukungan kecil seperti itu memberikan keyakinan bahwa perjuangan ini tidak sia-sia. Anak-anak, orang tua, bahkan pihak-pihak yang dulu ragu, kini mulai melihat bahwa Pramuka lebih dari sekadar kegiatan—ia adalah jiwa yang menyatukan kita.

Hari itu, aku berdiri di depan anak-anak, melihat mereka bekerja sama, belajar, dan tumbuh. Dalam hati, aku berbisik, "Kemarin adalah pelajaran, hari ini adalah perjuangan, dan esok adalah harapan."

 

Kemarin yang Membekas, Perjuangan di Tengah Keputusan (4)

 


Hari-hari berlalu, dan aku mulai melangkah dengan rencana baruku. Aku mendatangi beberapa orang tua siswa yang selama ini aktif mendukung kegiatan Pramuka. "Bu Sinta, Pak Adi," aku membuka percakapan di salah satu pertemuan kecil, "saya ingin membentuk komunitas Pramuka mandiri. Kegiatan ini tidak lagi di bawah sekolah, tapi kita bisa menyelenggarakannya secara sukarela. Apa Ibu dan Bapak bersedia membantu?"

Wajah mereka sempat diliputi kebingungan, tetapi kemudian aku melihat anggukan pelan. "Kami siap, Kak. Pramuka terlalu berharga untuk dilepaskan begitu saja," jawab Bu Sinta dengan senyuman yang memberiku semangat baru.

Langkah selanjutnya adalah mencari tempat. Lapangan kecil di pinggir desa menjadi pilihan. Meski tidak luas, tempat itu cukup untuk menjadi ruang berkumpul. Bersama beberapa siswa yang masih bersemangat, kami membersihkan tempat itu, menyiapkan tenda-tenda kecil, dan memulai kegiatan pertama kami.

Hari itu, meski sederhana, aku melihat kembali sinar di mata anak-anak. Mereka tertawa, bersemangat, dan bekerja sama untuk menyelesaikan tugas-tugas kecil. Aldi, yang kini menjadi salah satu anggota Dewan Ambalan, memimpin teman-temannya dengan percaya diri. Dina, yang kemarin bertanya dengan nada khawatir, kini berdiri tegak memimpin barisan.

"Kak, ini lebih seru daripada di sekolah!" seru Dina di sela-sela kegiatan. Aku hanya tersenyum. Meski dalam hati aku tahu ini bukan lagi bagian dari kurikulum, tetapi aku sadar bahwa pendidikan sejati tidak membutuhkan tembok sekolah. Selama ada hati yang tulus, tempat sederhana ini cukup untuk melahirkan pemimpin masa depan.

Aku belajar sesuatu yang penting: keputusan Menteri mungkin mengubah jalannya, tetapi semangat tidak pernah tergantikan. “Pramuka tetap hidup, bukan karena aturan, tetapi karena jiwa-jiwa yang mencintainya. Kini, aku berdiri lebih teguh, siap melangkah ke depan dengan keyakinan bahwa perjuangan ini belum selesai.”

Kemarin yang Membekas, Perjuangan di Tengah Keputusan (3)

 


Kemarin memang meninggalkan luka, tetapi aku percaya, luka itu adalah bagian dari perjalanan. Pramuka adalah tentang keberanian menghadapi tantangan, dan ini adalah tantanganku. Dengan atau tanpa keputusan Menteri, aku akan terus berdiri untuk mereka yang membutuhkan tempat untuk belajar dan bermimpi.

Angin malam membawa aroma tanah basah. Aku menatap langit yang dipenuhi bintang. Dalam hati, aku berjanji, api semangat ini tidak akan padam. Karena seperti yang selalu kami ucapkan dalam janji kami, "Pramuka itu abadi, selama ada jiwa yang ingin berbakti."

Kemarin yang Membekas, Perjuangan di Tengah Keputusan (2)

 


Aku masih ingat wajah Fahril, seorang anak yang dulu begitu pemalu. Ketika pertama kali datang ke kegiatan Pramuka, ia hampir tidak pernah berbicara. Namun, melalui latihan-latihan kecil, dari mendirikan tenda hingga bermain sandi morse, perlahan ia berubah. Suatu hari, ia berdiri di depan teman-temannya, memimpin sebuah upacara dengan percaya diri. Saat itu, aku tahu, Pramuka bukan sekadar kegiatan. Ini adalah tempat di mana karakter tumbuh, keberanian lahir, dan mimpi-mimpi kecil mulai mekar.

"Kak, apakah kita masih ada perkemahan bulan depan?" tanya Dina, seorang siswi kelas sepuluh, saat aku berjalan menuju lapangan sekolah kemarin pagi. Pertanyaan itu menggantung di udara. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana aku menjelaskan bahwa perkemahan itu mungkin menjadi yang terakhir? Bagaimana aku memberitahu mereka bahwa mereka harus mencari ruang lain untuk belajar tentang kebersamaan, kemandirian, dan tanggung jawab?

Malam itu, aku membuka kembali kotak tua yang berisi kenangan-kenangan selama menjadi pembina. Lencana-lencana kecil, foto-foto upacara di tengah hutan, hingga surat ucapan terima kasih dari orang tua siswa yang mengaku anaknya berubah menjadi lebih disiplin. Air mata menetes perlahan. Bukan karena aku merasa kalah, tetapi karena aku merasa kehilangan.

Namun, di tengah rasa perih itu, aku tahu aku tidak boleh menyerah. Keputusan itu memang berat, tetapi semangat Pramuka tidak boleh mati. Jika sekolah tidak lagi menjadi tempatnya, maka aku harus mencari cara lain. Aku mulai merancang rencana untuk membentuk komunitas Pramuka mandiri di luar lingkungan sekolah. Tempat di mana anak-anak masih bisa belajar, bermain, dan tumbuh bersama.


Kemarin yang Membekas, Perjuangan di Tengah Keputusan


 

Cerber ini mengisahkan perjuangan seorang pembina Pramuka yang menghadapi keputusan sulit ketika ekstrakurikuler Pramuka tak lagi diwajibkan. Dengan semangat pantang menyerah, ia membangun komunitas mandiri, membuktikan bahwa pendidikan karakter tetap hidup melalui kebersamaan, harapan, dan keyakinan akan masa depan yang lebih baik.

Angin sore menyapa lembut wajahku yang lelah. Di tangan ini, secangkir kopi yang baru saja kuaduk menjadi teman dalam keheningan. Hari itu, surat keputusan Menteri Pendidikan yang telah ramai dibicarakan akhirnya sampai di mejaku. Isinya, keputusan untuk tidak lagi mewajibkan ekstrakurikuler Pramuka di sekolah. Aku terdiam. Duniaku seolah berhenti sejenak. Aku adalah seorang pembina Pramuka. Selama lebih dari dua dekade, hidupku tak pernah jauh dari seragam cokelat yang penuh kebanggaan itu. Setiap pagi hingga sore, aku habiskan waktu bersama anak-anak yang penuh semangat. Mereka datang dengan berbagai mimpi, dan aku ada di sana untuk membantu mereka menemukan jalan menuju masa depan.

Namun, kemarin, semuanya terasa runtuh. Keputusan itu seperti pisau tajam yang memotong tali pengikat perahu yang telah lama aku dayung. Di benakku, bayangan senyum anak-anak itu berkelebat. Bagaimana mungkin aku menjelaskan kepada mereka bahwa kegiatan yang selama ini mereka cintai tak lagi menjadi bagian dari perjalanan pendidikan mereka?