Kelanjutan
Cerita (Part 4):
Hari
demi hari, komunitas Pramuka mandiri yang kami bangun semakin berkembang. Tidak
hanya anak-anak dari sekolah tempatku mengajar, tetapi juga siswa dari sekolah
lain mulai bergabung. Orang tua mereka datang dengan harapan agar anak-anaknya
tetap mendapatkan nilai-nilai pendidikan karakter yang selama ini mereka
percaya hanya Pramuka yang mampu memberikannya.
Sore
itu, aku menerima telepon dari Pak Rahmat. Suaranya terdengar penuh semangat.
"Kak
Ifa, saya ingin mengundang Anda untuk berbicara di forum kepala sekolah
kabupaten minggu depan. Saya ingin Anda berbagi tentang bagaimana Anda
mempertahankan kegiatan Pramuka meski tanpa dukungan kebijakan formal,"
katanya.
Aku
terdiam sejenak. Aku tidak pernah berpikir perjuangan kecil ini akan menarik
perhatian sejauh itu. "Terima kasih, Pak. Ini kehormatan besar. Saya akan
berusaha memberikan yang terbaik," jawabku.
Hari
yang dijanjikan pun tiba. Dengan Seragam Coklat muda , coklat tua sederhana dan
setangan merah putih Pramuka yang selalu kubanggakan, aku melangkah ke aula
tempat forum itu digelar. Di depan, para kepala sekolah dan pejabat pendidikan
duduk mendengarkan. Aku mulai bercerita, bukan tentang pencapaian besar, tetapi
tentang nilai-nilai kecil yang kami perjuangkan setiap hari tentang bagaimana Fahril
kini menjadi pemimpin yang percaya diri, tentang Dina yang belajar arti
kebersamaan, dan tentang tawa anak-anak yang menghidupkan kembali semangatku.
"Apa
yang kami lakukan mungkin sederhana," kataku menutup presentasi,
"tetapi saya percaya, Pramuka bukan hanya tentang ekstrakurikuler. Ini
adalah tentang membentuk manusia seutuhnya. Dan tugas kita, sebagai pendidik,
adalah memastikan ruang itu tetap ada, meski dalam bentuk yang berbeda."
Ruangan
itu hening sejenak sebelum tepuk tangan menggema. Aku merasa beban yang selama
ini menghimpit perlahan terangkat. Mungkin, perjuangan kecil kami akan menjadi
awal dari gerakan yang lebih besar.
Malam
itu, saat aku kembali ke rumah, aku duduk di beranda sambil menatap langit.
Pikiranku melayang ke wajah anak-anak yang penuh harapan. Aku tahu, jalan ini
masih panjang, tetapi aku tidak sendiri. Ada begitu banyak orang yang peduli,
yang percaya bahwa pendidikan tidak hanya tentang nilai akademis, tetapi juga
tentang membentuk karakter dan jiwa.
"Kemarin
mungkin menyakitkan," bisikku pada diri sendiri, "tetapi hari ini
kita melangkah dengan keyakinan. Dan esok, kita akan menciptakan masa depan
yang lebih baik, bersama-sama."
Aku
menutup malam itu dengan doa, berharap perjuangan ini terus diberkahi. Karena
seperti yang selalu diajarkan oleh Pramuka,” tidak ada tantangan yang
terlalu besar jika dihadapi dengan semangat dan kebersamaan.” Read: Kak Ifa Ratnasari